
Di sebuah ruangan, Gita yang terharu saat mendengar suara "Sah" yang serentak dari para tamu undangan, satu kata namun mampu membuat perubahan dalam hidupnya, ya.. seluruh hidupnya.
Dia akan menyandang status sebagai istri Reza, dia akan tinggal berdua dengannya, jika biasanya dia akan bangun sesuka hati dan dimanjakan orang tuanya, namun sekarang dia harus belajar melayani suaminya. Berperan menjadi seorang istri yang baik.
"Git, ayo kita keluar, kita temui suami mu dan juga para tamu undangan..!" Hanna
"Iya Git, jangan malah bengong begitu..!" Nisa
Gita pikir setelah dia bisa mendengar kata Sah, dia akan merasa lega, namun dia semakin gugup, rasanya dia malu harus menjadi pusat perhatian banyak orang. Namun dia harus menghadapinya, saatnya dia menjadi Ratu sehari.
Cuma sehari Git! Batin Gita
Nisa dan Hanna berjalan disamping Gita, menemani dia berjalan menuju pelaminan. Semua mata tertuju pada sang mempelai wanita, termasuk Reza yang terpukau dengan wajah dan penampilan istrinya yang sangat cantik itu.
Gita berdiri tepat di hadapan suaminya, menyambut tangan sang suami dan mencium punggung tangan itu. Baik Reza maupun Gita masih belum menyangka dengan apa yang terjadi hari ini, mereka bahagia namun masih menganggap ini hanyalah sebuah mimpi indah.
"Kamu cantik," puji Reza.
"Hmm, makasih Za." Gita
"Panggil Mas, atau Sayang dong, kan udah sah..!" Reza.
"Hmm, aku belum terbiasa." Gita
__ADS_1
Mereka pun melakukan sesi foto dengan buku nikah yang sudah mereka tandatangani, dan juga berfoto saat saling mengaitkan cincin indah yang telah terukir nama mereka.
Mereka tersenyum sepanjang sesi foto itu berlangsung, sama halnya dengan keadaan hati mereka yang sedang berbunga-bunga.
"Cium… cium… cium… ," suara tamu yang membuat mereka malu. Namun dengan berani Reza mencium kening istrinya itu, membuat Gita kaget bukan main, namun tak sebanding dengan rasa malunya yang besar karena bermesraan ditempat umum.
"Lain kali bukan hanya di kening saja, kamu harus bersiap-siap sayang..!" Bisik Reza ditelinga istrinya itu, membuat Gita seketika merinding.
Saatnya pelemparan bunga, "bersiap-siap ya! Kalian tangkap bunganya, satu.. dua.. tiga … ," ucap Gita dan Angga lalu melemparkan buket bunga merah itu.
Dan, hap….
Bunga itu mendarat di tangan Angga yang memang sedang berharap segera menikah juga.
Angga melangkahkan kakinya, mendekat ke arah gadis yang sedang berdiri tak jauh darinya, banyak gadis yang mengira jika pria itu akan memberikan bunga itu pada mereka, namun Angga melewati mereka begitu saja.
Sampai dimana dia menemukan gadis bersuara merdu itu, berlutut dan memberikan buket bunga yang susah payah dia tangkap.
"Will you marry me?" Angga
Semua orang begitu kaget, karena saat Angga
Menghampiri gadis itu, semua tamu nampak fokus pada Angga dan mereka semua diam tanpa suara, ruangan itu mendadak sunyi, bahkan suara musikpun tiba-tiba mati, tentu saja atas perintah Reza yang memberi isyarat di pelaminan sana, hingga tamu-tamu yang berada di dekat Angga dapat mendengarnya dengan jelas.
__ADS_1
"Wah… dilamar.." teriak salah satu tamu.
Gita dan Reza pun kaget mendengarnya, Gita sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Sepertinya banyak yang bahagia hari ini?" Reza
"Hmm, iya… aku bahagia melihat Kak Angga dan Nisa bahagia, pasti Nisa menerimanya." Gita
"Kamu yakin sekali?" Reza
"Iya dong, aku kan sahabatnya, tahu isi hatinya." Gita
"Kalau begitu, apa kamu tahu isi hatiku sekarang. Bukankah kamu sekarang istriku?" Reza
"Mmm.. aku gak yakin sih, tapi yang pasti kamu bahagia hari ini menikahi gadis cantik dan juga tangguh sepertiku, mendapatkan istri dan juga pengawal sekaligus, hehehe." Gita
"Perkataanmu memang benar, tapi yang aku pikirkan kali ini adalah, aku ingin segera menerkammu," Reza berbisik ditelinga Gita membuat istrinya itu membulatkan matanya.
Bahkan Reza mencium bibirnya dengan sekilas, saat para tamu undangan sedang fokus pada lamaran yang dibuat Angga Pratama, pengusaha muda dan sukses itu.
Suara riuh kembali terdengar, saat Nisa mengangguk iya dan menerima buket bunga itu dengan malu-malu.
***
__ADS_1
* * * TAMAT * * *