
Pagi hari ini Angga masih bersantai dengan baju rumahannya itu, dia masih mengambil cuti, biarlah pak Surya yang menggantikan tugasnya untuk memimpin rapat.
Namun untuk masalah dokumen yang harus ia tandatangani, asistennya akan mengirimkan dokumen itu berupa file, sehingga Angga bisa membacanya di rumah, mempelajarinya sebelum menyetujuinya.
Hari ini juga dia memiliki janji bersama Kirana, dia akan mengunjungi om Aldi dan berharap mendapat petunjuk.
"Astaga, kakak belum ngantor juga?" Tanya Gita
"Kakak masih libur." Angga
"Padahal udah sehat kok." Gita
"Udah Git biarin aja, kasian dia kalau kerja sampai lupa makan sampai lupa cari jodoh, hehe.." Bu Hanna
"Hmm…" Angga
"Ih mamah, kak Angga udah punya pacar sekarang, mamah lupa ya?" Gita
"Oh iya ya, tapi 'kan itu belum resmi sayang, Kirana nya juga gak mau diajak pacaran, maunya ta'aruf." Bu Hanna
"Kamu mau mengantar Kirana menemui Aldi 'kan, jam berapa?" Bu Hanna
"Nanti aja mah jam 9." Angga
"Wah, mau ketemu calon mertua nih, cie… cie.." Gita
"Udah deh, gak usah ngeledek gitu, tuh denger gak? Suara mobilnya Reza dateng, cepetan makannya..!" Angga
"Iya gitu? Aku gak janjian sama dia, kak Angga salah denger kali." Gita
Namun ternyata Reza benar-benar datang, dia ingin mengantar kekasihnya itu ke kampus dan malah ikut sarapan bersama, nyatanya dia juga belum sarapan dari rumah karena terburu-buru.
"Aduh bisa sekalian numpang sarapan juga ya? hehehe… " Angga
"Ssttt Angga, gak boleh gitu ah..!" Hanna
"Iya nih, pagi-pagi kakak udah ngajak ribut aja." Gita
"Makan aja yang banyak Za, gak usah didengerin, akhir-akhir ini memang Kak Angga nyebelin." Gita
"Iya, aku juga biasa aja kok gak tersinggung, kak Angga 'kan cuma bercanda." Reza
Angga kembali sibuk dengan ponselnya, berbalas pesan dengan Kirana, gadis itu ingin memastikan jika kakaknya itu benar-benar jadi mengantarnya ke sel tahanan papanya.
"Cie yang udah punya pacar, pasti chatingan sama doi, hehe … ," goda Gita.
"Apaan sih, iri bilang aja, hhmm.." Angga
"Memang pacar kak Angga siapa?" Reza penasaran.
"Kirana, kemarin mereka baru jadian." Gita
"Oh, ternyata kalian cocok juga, selamat deh buat kakak ipar, mudah-mudahan langgeng, iya 'kan? Hehe.." Reza
__ADS_1
"Iya makasih, aminin gak ya? Hmm.." Angga
Lelaki itu bingung harus menanggapi mereka seperti apa, karena mereka tahunya Angga berpacaran dengan Kirana, Angga terpaksa menanggapi mereka sebagaimana mestinya orang yang baru punya pacar.
"Yaelah kak, bilang Aamiin aja kok susah." Gita
Padahal bukan bilangnya yang susah tapi Angga memang tidak berharap doa itu terkabul, karena itu tidak mungkin terjadi.
Mereka akhirnya pergi, Reza terlebih dahulu mengantar Gita ke kampusnya.
Gita menceritakan kejadian kemarin saat Kirana mau menjadi pacar Angga, membuat Reza tertawa karena itu memang lucu, jadian yang mendadak dan gak sengaja, bahkan itu terjadi karena Gita yang hanya bercanda.
"Hahaha… kamu cocok jodohin orang, buka jasa aja sayang..!" Reza
"Hmm.. gak lucu." Gita
"Tapi aku beneran gak nyangka deh, bukannya Kirana orangnya pendiam, trus dia kaya anti laki-laki gitu." Reza
"Aku juga mikirnya gitu, tapi kemarin dia bilang bukan mau pacaran, maunya ta'aruf, tidak ada kontak fisik 'kan?" Gita
"Oh gitu, iya aku paham." Reza
Dia menghentikan mobilnya karena mobil itu kini sudah sampai di depan gerbang kampus.
"Hati-hati, belajar yang bener ya, Jangan nakal..!" Reza
Refleks Gita mencium punggung tangan Reza, dia kira itu kakaknya (Angga) karena terbiasa jika Angga yang mengantar selalu diiringi nasehat seperti mengantar anak Tk.
"Eh, lupa.. sorry." Gita
Tentu saja laki-laki itu merasa senang, sementara Gita yang terlampau malu, dia pergi begitu saja tanpa menoleh lagi.
Astaga, ko gue bisa seb0doh itu sih? Perasaan gue itu kak Angga yang bawel dan suka ceramah deh. Pikir Gita
Sepanjang perjalanan ke kantor Reza tersenyum senang, dia terus mengingat ciuman Gita di punggung tangannya, dia membayangkan jika mereka sudah menikah, tentunya dia akan mendapatkan ciuman itu setiap hari.
Gue gak akan cuci tangan dong kalau mau mengabadikan ciuman tadi. Pikir Reza
***
Angga pergi bersama Pak Asep sopirnya, dia belum ingin menyetir mobil sendirian. Mobil itu berhenti tepat di depan rumah tante Jani bahkan Kirana sudah siap pergi, berdiri disana.
Pintu mobil pun dibuka oleh Pak Asep, mempersilahkan Kirana masuk.
"Makasih Pak…" Kirana
"Sama-sama Non." Pak Asep
"Kak aku gugup nih, kalau kakak gimana?" Kirana
"Sama, kakak berharap ada info penting yang bisa didapatkan." Angga
"Itu apa kak?" Kirana
__ADS_1
"Oh ini, barang peninggalan orang tuaku, siapa tahu setelah melihat ini om Aldi mengingat sesuatu." Angga
"Emm.. coba aku lihat kak, boleh 'kan?" Kirana
"Iya boleh kok." Angga
Kirana mengambil kotak itu, melihat benda di dalamnya satu persatu, memperhatikan semuanya dengan teliti.
"Itu barang-barang yang dipakai kakak terakhir kali bersama ibu, tepat kakak ditinggalkan di panti asuhan sendirian." Angga
"Mungkin ibu kita punya alasan lain sampai meninggalkan kakak disana, bahkan bisa saja ibu kita terpaksa melakukannya." Kirana
"Iya juga ya? Kakak dulu selalu berpikir jika kakak dibuang, makanya kakak tidak berusaha mencari keluarga kakak, lagi pula sudah ada keluarga yang jauh lebih baik mau merawat kakak." Angga
"Iya, keluarga Pak Baskoro baik ya kak?" Kirana
"Sangat baik, sampai kakak tidak bisa meninggalkan mereka." Angga
Pria itu menunduk, berusaha menenangkan perasaannya yang mulai goyah dan ingin rasanya menangis, namun lelaki itu menahannya.
Angga tersenyum pada Kirana, "sudah sampai, ayo turun..!" Ajak Angga.
"Iya kak, aku udah siap." Kirana
Mereka berjalan beriringan dengan pikiran masing-masing, entah apa itu.
Mereka menunggu lumayan lama, namun tidak ada pembicaraan apapun diantara mereka, sampai akhirnya kunjungan mereka disetujui.
Hari ini Kirana membawa selimut tebal, dan baju lengan panjang untuk ayahnya.
"Papah, apa kabar? Papah yang sehat ya, nanti kalau papah udah bebas, papah bisa tinggal bareng lagi bareng Kirana." Kirana
Namun lelaki itu tetap diam, membuat gadis itu merasa sedih, papanya belum mengalami perubahan.
"Om.. apa om mengenali barang-barang ini?" Angga
Angga mulai mengeluarkan satu persatu barang di dalam kotak itu, sampai dimana Aldi melihat kalung itu.
Aldi membawanya, menatap kalung itu hingga dia melihat huruf AA disana.
"Hahahaha…" tiba-tiba pria itu tertawa, membuat kirana dan Angga kaget.
"Aldi , Alisa," ucap Aldi, lalu dia menangis sejadi-jadinya.
"Mamah Alisa dimana pah, dimana dia?" Kirana
"Dia ada disini." Aldi
"Dimana pah? Aku mohon, mamah Alisa masih hidup apa sudah meninggal?" Kirana
"Ada disini, didalam hatiku, hahaha … ," ucap Aldi lalu dia menangis lagi.
Kirana bingung melihat kelakuan ayahnya itu, gadis itu mulai mencurigai jika ayahnya mempunyai masalah kesehatan mental.
__ADS_1
Bersambung…