
Gita benar-benar merasa hari ini begitu melelahkan, perasaanya dibuat kesal dan marah sedari pagi.
"Gara-gara cowok itu dateng pagi-pagi, membuat semua hari gue kacau." Keluh Gita.
Dia memaksakan diri untuk menyelesaikan mata kuliah hari ini, ya.. disaat mood nya sedang tidak baik.
Saat dia hendak keluar dari kelasnya, ternyata sudah ada Reza yang menunggunya.
Dia lagi, dia lagi… batin Gita
"Lo nungguin gue?." Tanya Gita.
"Menurut lo?."
"Ditanya kok malah balik nanya sih, gue lagi males debat, ayo cepet pulang, gue capek."
Gita tidak membawa motornya, dan karena memang sudah sepakat selama sebulan akan PDKT, dia tidak ingin memperumit masalah perjodohan ini, dia tentu saja terpaksa harus pulang pergi bersama lelaki itu.
"Nis, gue duluan ya." Ucap Gita menoleh ke arahnya.
"Oke."
Reza berjalan terlebih dahulu, dan Gita mengikutinya dari belakang, bahkan Gita semakin memelankan langkahnya, agar mereka lebih berjarak dan tidak terlihat bersama.
Saat menuju parkiran, tiba-tiba ada Ami yang menghampiri Reza.
"Za, nebeng dong..!" Ucap Ami sambil melingkarkan tangannya di tangan Reza.
"Aku lagi ada urusan, lain kali aja ya..!" Reza melepaskan tangan Ami.
Gita yang ikut diam karena langkah Reza juga berhenti, kini dia terpaksa harus menyaksikan adegan di depannya.
Ami mengeluh, dan saat melihat Gita yang seakan sengaja berhenti untuk memperhatikan mereka dan sempat melihat Gita tertawa kecil, dia mulai kesal.
"Kenapa ketawa? Ada yang lucu? Harusnya kau menertawakan dirimu sendiri, lihatlah..! Wanita kok gak ada cantik-cantiknya."
Gita geram, ingin sekali membalas ucapannya, namun ia lebih suka membalas dengan tindakannya. Dia sedikit berlari kecil menghampiri Reza, mengikutinya dan berjalan berdampingan, lalu dia sengaja menunjukan kalau dia pergi bersama Reza.
Gita tertawa tanpa suara hanya ingin memperlihatkannya pada Ami saja, lalu dia memberikan tanda satu jempol yang diarahkan ke bawah.
"Dasar, menyebalkan.." Ucap Ami.
Reza yang melihat Gita sempat tertawa pun merasa heran.
"Lo kenapa ketawa sendirian? Gue jadi ngeri deh."
"Ketawa iti hak asasi, gak usah kepo juga dengan alasan gue ketawa karena apa, cepet jalan..!"
"Ya ampun, kenapa gue serasa jadi sopir sekarang."
"Cocok." Ucap Gita dan dia tertawa lagi.
Reza yang kesal membawa mobilnya dengan kencang, membuat jantung Gita dag-dig-dug tak karuan. Semakin Gita kesal semakin Reza mengencangkan laju mobilnya.
Haha… ternyata asyik juga ngerjain ini cewek. Batin Reza
__ADS_1
Belum juga sampai rumah, Gita langsung mual, dia meminta berhenti, ya… akhirnya dia memuntahkan semua makan siangnya.
"Lo ya, bener-bener keterlaluan." Ucap Gita marah, dia juga kini pusing dan lemas.
Reza yang panik takut Gita kenapa-kenapa dan dia yang akan disalahkan, dia berlari menuju warung yang tak jauh dari sana. Memesan teh manis hangat dan membeli beberapa kue.
"Lo beneran sakit?." Tanya Reza
"Lo gak liat muntahan gue itu nyata dan asli, bukan imitasi.. makanya bawa mobil tuh jangan kaya yang kerasukan jin deh..!"
"Hehe.. maaf deh, ini minum dulu, mudah-mudah membaik ya..!"
Jangan sampai dia mengadu masalah ini ke ortunya, bisa-bisa gue diomelin nyokap gue selama satu jam penuh.. oh telingaku..
Gita merajuk, dia tidak ingin naik mobil Reza lagi, tapi Reza memohon dan berjanji tidak akan ngebut-ngebutan lagi. Akhirnya Gita mau dan masuk ke dalam mobil itu, tapi dia memilih duduk di kursi belakang.
"Jalan bang, jangan ngebut-ngebut..! Awas ya, kalau macam-macam lagi, nanti aku aduin loh sama bos mu.. sama Bu Maya.. hehe."
Abang-abang.. Hais dia kira gue sopirnya apa.. awas aja lo nanti gue kerjain lagi.. Reza merasa kesal
Meski begitu, Reza kali ini tak membalas ledekan Gita, dia fokus menyetir dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara Gita menyandarkan kepalanya yang masih pusing, sampai akhirnya dia tertidur.
Sesampainya di depan rumah, Reza menghentikan mobilnya, dia tidak ingin memasukkan mobilnya ke dalam. Karena sudah pasti akan membuat dirinya terjebak di rumah itu.
Tapi saat dia menoleh kebelakang, ternyata Reza baru menyadari kalau penumpangnya tertidur, dia mencoba membangunkannya tapi nyatanya sungguh sulit.
"Ini anak tidur, pingsan, atau koma sih?, nyusahin banget, terus gue harus ngegendong dia gitu?.. gak.. gak.." Ucap Reza
Dia akhirnya memasukan mobilnya ke halaman rumah Gita, memarkirkannya dan menyuruh pelayan wanita untuk membantu membangunkan nona muda nya itu.
"Sepertinya nona sakit, badannya panas." Ucap sang pelayan.
Tanpa pikir panjang, Reza menggendong tubuh Gita masuk ke rumah dan membaringkannya di sofa, sementara pelayan memanggil bu Hanna.
Bu Hanna berlari menghampiri, ia sangat khawatir.
"Gita kenapa?."
"Reza juga gak tau tante, saya tahu Gita demam pas mau turun mobil tante."
Akhirnya Bu Hanna memanggil dokter keluarga ke rumahnya, setelah diperiksa tidak ada yang serius, Gita hanya perlu istirahat saja.
Bu Hanna merasa lega apalagi sekarang demamnya sudah turun.
"Syukurlah tante kalau Gita baik-baik aja, saya permisi pulang ya tante, ini udah sore."
"Iya nak Reza, makasih ya udah mau antar jemput Gita."
"Hehe.. iya tante."
Ko gue ngerasa bersalah ya?, hmm.. bodo ah dia nya aja yang gampangan, gitu aja ko sampe sakit.
Reza melajukan mobilnya sangat pelan, pikirannya sedikit terganggu memikirkan Gita.
Apa gue keterlaluan ya tadi?
__ADS_1
Tapi menurut gue itu biasa deh, kenapa dia lebay banget sampe sakit ya?
Sesampainya di rumah, bu Maya langsung menginterogasi anaknya itu. Ya.. tentu saja dia sudah tahu tentang keadaan Gita dari bu Hanna.
"Reza.. kemari sebentar..!"
"Ya mah, ada apa?."
"Sebenarnya Gita kenapa Za? Kamu apain dia?."
"Gak diapa-apain mah, mungkin kecapean aja kali, atau emang dia nya aja yang lebay."
"Kamu tuh ya, masa sakit beneran dibilang lebay, kamu tuh yang lebay, kalau sakit mesti ditungguin, gak mau ditinggalin sendiri, apa mau mamah bilangin sama orang-orang tentang kelakuan kamu yang kayak anak kecil, terutama Gita.. hehe."
"Mah, ko jadi bongkar-bongkar rahasia anaknya sih, jangan ya mah..! Aku malu."
"Ok. Asal kamu memperlakukan Gita lebih baik lagi..!"
"Hmm iya mah."
Bisa gawat kalau dia tahu rahasia gue, ntar disebar sama dia, bisa-bisa anak-anak kampus bisa tahu, aura gue bisa hilang dong.. gak boleh pokoknya gak boleh..!
Reza masuk ke dalam kamarnya, membaringkan tubuhnya, lalu terlelap karena hari ini begitu melelahkan.
***
Sementara Gita yang baru sadar, dia masih merasa pusing dan mual.
"Git.. kamu baik-baik saja kan? Sebenarnya kamu kenapa, mamah jadi khawatir deh." Ucap bu Hanna.
"Gita gak apa-apa mah." Ucap Gita lalu membaringkan tubuhnya lagi.
"Kata dokter mungkin kamu kelelahan, atau masuk angin, mamah kerokin ya..?."
"Makasih mah, di kasih minyak angin aja cukup ko, Gita mau istirahat aja."
Gue sampe kayak Gini gara-gara dijailin tuh cowok rese, liat aja nanti gue bales balik. Batin Gita
Akhirnya Bu Hanna membiarkan anaknya itu istirahat, dia kembali menemui suaminya.
"Mah.. Gita kenapa, papah mau lihat dia, tolong antar papah ke kamarnya..!"
"Nanti aja pah..! Gitanya lagi istirahat."
"Emmh.. kenapa Gita mah? Pulang-pulang ko bisa sakit Gitu?."
"Masuk angin kali pah, perjodohan ini akan berhasil gak ya pah?"
"Harus berhasil dong mah..! Papah berpikir Reza menantu yang terbaik, dia juga bisa diandalkan nantinya menangani perusahaan papah."
"Terbaik kalau masalah bisnis, kalau kepribadiannya di luar sana kan mamah gak tahu, kalau di rumah sih kata Maya dia anak yang baik, memang suka pacarin anak orang, cuma sehari dua hari pah, tapi Maya bilang itu ketika Reza stress dan cuma nonton, atau sekedar ingin diperhatikan cewek aja katanya."
"Waduh, tapi tenang aja mah, anak kita kan tangguh.. kalau Reza berani macem-macem pasti Gita gak akan diem aja. Pasti KO tuh dia mah, hehe.."
"Bener juga sih pah, anak kita kan lain daripada yang lain. Kita gak perlu khawatirin anak gadis kita, yang kita khawatirkan malah anak orang yang takutnya dibikin babak belur sama Gita. Haha.."
__ADS_1
Mereka mengobrol dengan asyiknya, pasangan ini memang harmonis.
Bersambung...