Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
BAB 74 Raja Cemas


__ADS_3

Selama masa pemulihan Ratu lebih banyak menghabiskan waktunya di ranjang. Banyak memakan sayuran agar ASI nya lancar. Saat ASI nya kini melimpah, ia sering merasakan panas dingin karena terlalu penuh dan membuat payud@r@nya mengeras.


"ASI sedikit salah, ASI banyak pun salah, gue bener-bener gak ngerti deh jadi ibu ko bisa seribet ini, sesusah ini." Keluh Gita (Ratu)


Karena tak ingin mengalami bengkak, Ratu harus rutin membangunkan bayinya untuk menyusui, memang bayi yang baru lahir akan lebih banyak tidur, jadi seharusnya ibunya yang membangunkan dan mengatur jadwal menyusui.


Selama sebulan penuh Ratu mulai terbiasa dengan tangisan bayi, terbiasa begadang, terbiasa memandikan bayinya, dia sudah bisa mengambil alih pekerjaan seorang ibu baru. Ratu pun mulai bisa berjalan-jalan disekitar paviliunnya dengan menggendong Deob kecil, masa pemulihannya sudah ia lalui.


Bayi yang kini pipinya semakin chubby, semakin menarik perhatian orang dewasa yang merasa gemas padanya. Ibu Suri banyak membantu Ratu dalam mengurus bayi kecil itu.


Bahkan pamannya pun kini sering mengunjunginya, "Anggrek, kau belum memberi nama padanya? Aku bahkan selalu memanggilnya Deon kecil." Ucap Pangeran Ceng


"Ah aku tak sempat memikirkannya, aku terlalu sibuk dan lelah berperan menjadi ibu baru, apa ya nama yang cocok untuknya?" Tanya Ratu


"Emm… bagaimana kalau Deoncil, Deon kecil. Hehehe.." 


"Ah kamu ini, Deoncil? Aku tidak suka."


"Bagaimana kalau kita namai dia, Pangeran Pratama? Dia kan anak kita yang pertama." Ucap Deon yang tiba-tiba datang


"Lumayan bagus, jika anak kedua dan ketiga kau namai apa Deon? Hahaha.. aku mendadak penasaran." Ucap Pangeran Ceng sambil tertawa


"Sudahlah jangan membahas anak kedua, apalagi ketiga. Satu saja aku masih ingat sakitnya seperti apa, kalau mau kau saja yang melahirkan Deon. Aku mau ke kamar dulu menyusui Pangeran Kecil." Ratu sedikit kesal, ia pergi menuju kamarnya.

__ADS_1


"Istrimu kenapa?"


"Entahlah, kalau dipikir-pikir aku juga belum ingin merasakan tersiksa lagi, dijambak, dipukul dan siksaan lainnya saat dia melahirkan. Aku harus menunda dahulu rencana anak kedua itu." Ucap Deon sambil membayangkan kejadian sebulan yang lalu.


"Hahahahaha… tidak usah menunggu lama, mungkin besok kau akan mengalami tragedi itu lagi." Ucap Pangeran Ceng senang.


"Apa maksudmu?, bahkan Ratu belum aku sentuh lagi, mana mungkin besok melahirkan." Ucap Deon sambil menepuk paha Deon dengan keras.


"Aww.. sakit tahu, bukan Ratu, tapi selirmu itu."


"Astaga, kau benar, bisakah kau gantikan aku nanti?"


"Tidak mau, itu selirmu, bukan selirku, itu bayimu bukan bayiku."


"Hmm iya iya, aku mencoba percaya padamu, tapi tetap saja itu selirmu. Sebaiknya kau persiapkan dirimu. Hahaha.. aku pergi dulu."


Ucap Pangeran ceng, sambil berlari menghindari pukulan Deon lagi.


Setelah sahabatnya itu pergi, Raja benar-benar terngiang dengan apa yang dikatakan Pangeran Ceng, dia melupakan selirnya itu. Dia harus bersiap-siap menghadapi wanita yang melahirkan lagi.


Ratu keluar dari kamarnya, dia merasa heran dengan perubahan suaminya itu.


"Bukankah tadi kau merasa senang, bercanda dengan Pangeran Ceng, kenapa tiba-tiba lesu begitu?" Tanya Ratu heran.

__ADS_1


"Aku sedang membayangkan harus menemani Mey melahirkan, bukankah aku cukup teraniaya saat kau melahirkan, haruskah aku mengalaminya lagi?" Ucap Deon lemas.


"Hahaha… jadi itu yang membuatmu lesu. Sudahlah nanti kau temani dia jika memang perlu, lagi pula rasa sakitmu tidak sebanding dengan rasa sakit melahirkan, kau terlalu berlebihan."


"Apa yang berlebihan? Bukankah kau menjambak-jambak rambutku?, menggigit lenganku?, Mendorongku?, meremas tanganku? Memukul-mukul aku dengan kencang? Bukankah kau yang berlebihan?" Ucap Raja kesal


"Benarkah? Sepertinya aku lupa, astaga bayiku sepertinya menangis." Ucap Ratu lalu berlalu pergi menuju kamarnya.


Deon hanya berdecak kesal saat Ratu pergi menghindari pertanyaannya itu.


Deon pergi menemui tabib istana, dia ingin menanyakan mengenai kapan kira-kira selir Mey akan melahirkan. Dia seakan sedang merasa cemas, bukan cemas mengenai keselamatan selir Mey, ia hanya mencemaskan dirinya sendiri.


Tabib menjelaskan, jika memang ini sudah cukup bulan untuk melahirkan, hanya tinggal menunggu tanda-tandanya saja, bahkan tabib istana menyarankan untuk melakukan hal yang sama pada Selir, seperti hal yang ia lakukan pada Ratu agar cepat melahirkan.


"Yang benar saja? Justru aku tidak ingin dia cepat melahirkan." Pikir Deon


Raja juga sepertinya harus menemui Rizad, ia akan menyuruhnya menemani selir Mey ketika melahirkan.


"Bukankah dia ayah dari anak itu, tentu saja dia yang harus merasakan teraniaya sepertiku. Masa dia mau enaknya saja?, Hmm.." Gumamnya dalam hati.


Raja tidak ingin menemui Rizad secara langsung, dia hanya mengirimkan surat padanya. Memintanya segera mengambil keputusan tentang perjanjiannya dulu dengan pengawal istana itu, dan menyuruhnya menemani ketika selir Mey melahirkan, tentu saja jika hari itu tiba, Raja akan memberi jalan agar dia bisa memasuki kamar selir Mey.


Memang sebulan terakhir ini Raja sibuk dengan istri dan anaknya, dia belum sempat melihat keadaan Selir Mey lagi. Jikapun Mey membuat masalah, Raja akan menyuruh orang lain mengurusnya, ia begitu fokus dengan keluarga kecilnya dan bayi lucu yang selalu membuatnya rindu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2