Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Ramen Pelampiasan


__ADS_3

Gita masuk dengan perlahan, menatap semua yang hadir di rapat itu, sebisa mungkin dia tenang, menghilangkan rasa gugupnya.


Gue harus tenang..! Anggap aja gue lagi presentasi di kelas. Pikir Gita


Gita mulai menyapa para staf disitu dan mulai mengucapkan sambutan, dia meminta Pak Surya memberikan laporan perkembangan bulan ini.


Gadis itu menjelaskan secara perlahan, memberikan arahan agar bisa meningkatkan penghasilan di bulan depan, dia juga memberi semangat kepada mereka, semangat untuk bekerja tentunya.


"Akhirnya, berakhir sudah," ucap Gita pelan saat semua orang sudah membubarkan diri.


"Good job Non," ucap Pak Surya dengan 2 jempolnya.


"Iya, makasih Pak." Gita


Gadis itu merasa lega sekali, akhirnya kegelisahannya itu berakhir, dia akan melampiaskan semuanya pada makanan hari ini.


Meski waktu istirahat masih lama, namun dia tidak peduli, dia memesan makanan lewat aplikasi, memesan ramen dan juga ice cream coklat porsi besar. Gadis itu memakannya di ruangannya.


Bos 'kan bebas. Batin Gita


Saat gadis itu menyeruput mie, tiba-tiba dia mendengar ketukan di pintu.


Tok


Tok


Tok


"Masuk..!" Gita


"Wah ada yang lagi menikmati makanan di jam kerja." Angga


"Kakak baru datang? Aku menelpon berkali-kali tadi." Gita


"Iya, hehehe… ponsel Kakak tertinggal di mobil saat membawa raport Dafa." Angga


"Gimana anaknya Pak dapat peringkat berapa? Hehe.." Gita


"Hmmm… Kakak bagi dong! Kakak jadi pengen, lagi kesel emang butuh yang pedas-pedas." Angga


"Kakak kesal kenapa?" Gita

__ADS_1


"Ada deh." Angga


Pria itu ikut duduk disamping Gita, mengambil alih sumpit itu lalu ikut menyeruput ramen itu.


"Kakak, itu ramen aku, kakak pesan aja sendiri kalau mau!," terik Gita lalu memeluk mangkuk itu.


"Pelit." Angga


Angga beranjak dari tempat duduknya, dia pergi menuju ruangannya, dia juga ikut memesan apa yang Gita pesan, selera makanan mereka memang sama.


***


Siang ini Kirana mendatangi sel tahanan papanya, setelah beberapa bulan kondisi Aldi mulai membaik, dia mulai bisa diajak bicara. Aldi kini sudah sadar bahkan sadar akan kesalahannya selama ini.


Dengan perhatian dari Kirana, membuat Aldi semakin malu, karena Kirana tetap saja baik kepadanya saat dia sudah memperlakukan Kirana layaknya tahanan dirumahnya.


Waktu itu dia memang terobsesi oleh wajah Kirana , dia terlalu merindukan Alisa, apalagi ditambah pengaruh obat.


"Maafkan Papah ya, Kirana?" Aldi


"Maaf untuk apa Pah? Papah gak salah apa-apa kok." Kirana


"Maaf karena Papah tidak bisa menjadi Papah yang baik buat kamu, terimakasih juga karena kamu selalu ada saat Papah terpuruk." Aldi


"Iya, kamu tinggal dimana?" Aldi


"Aku tinggal bersama mamah Jani, aku juga menemukan Kakak ku, sepertinya aku akan tinggal dengan Kak Angga jika Mamah menikah lagi, atau aku akan mandiri tinggal sendiri." Kirana


"Kakak?" Aldi


"Iya Kak Angga, dia anak dari Mamah Alisa dan om Andra." Kirana


"Andra? Apa kamu sering bertemu dengannya? Tolong sampaikan kata maaf dari Papah ya..!" Aldi


"Hmm, iya Pah."


Setelah waktu kunjungan habis, Kirana melamun sepanjang jalan, dia memikirkan nasibnya jika Jani sampai menikah lagi.


Aku tidak mungkin ikut dengan mamah Jani terus, aku harus mulai menabung dan merencanakan hidupku sendiri. Pikir kirana


Gadis itu kini sampai dirumah, rumah yang selama bertahun tahun dia tempati, dia bahkan hapal betul setiap sudut ruangan , hapal tata letak semua benda yang ada disana.

__ADS_1


Rumah ini satu-satunya tempat Kirana kembali, seakan ini memang rumahnya, rumah ibu dan ayahnya, nyatanya dia hanya menumpang disini, membuat perasaannya kini terasa tidak nyaman.


"Bunga mawar yang cantik, kamu harus tetap tumbuh dan memberikan keceriaan pada orang-orang dengan mekarnya dirimu, meski nanti aku sudah tidak bisa merawatmu lagi, tumbuhlah dengan baik!" Kirana


Kebun bunga itu dia rawat sejak masa SMP, dia mulai menyukai bunga sejak itu, menurutnya merawat bunga bisa menghilangkan kejenuhannya selama dirumah, karena dulu memang Jani mengabaikannya.


Kirana akan merawat bunga itu sambil mengajak mereka berbicara, dia menjadikan bunga-bunga itu temannya.


Namun saat menyadari jika Jani tentunya suatu saat akan menikah dan tidak mungkin Kirana terus mengikuti Jani, mulai saat itu dia berpikir untuk hidup mandiri.


Kak Angga, aku juga tidak mau merepotkannya, gak enak 'kan kalau aku menumpang dirumah om Andra. Gumam Kirana dalam hati.


"Kirana, kamu lagi ngapain bengong disitu?" Jani


"Eh Mamah, gapapa aku lagi liatin bunga aja." Kirana


"Mamah kira kamu belum pulang, gimana keadaan Papah kamu?" Jani


"Alhamdulillah baik Mah.." Kirana


"Kita masuk yuk..! Mamah tadi bikin makanan dengan resep baru loh." Jani


Mereka pun masuk ke dalam Rumah, Jani merangkul Kirana dengan lembut.


***


Di kantor, saat Angga dan Gita sedang membahas sesuatu tentang bisnis, bahkan mereka sangat serius sekali. Mata mereka Fokus pada dokumen didepannya.


"Bagaiman, apa kamu mengerti Git?" Angga


"Hmm, pusing Kak, masih belum paham, coba Kakak ulangi lagi..!" Gita


"Hmm.." Angga


"Hehe, sekali lagi Kak dan jelasinnya pelan-pelan..!"


"Oke, oke, satu kali lagi ya?" Angga


"Beneran satu kali lagi pasti aku paham. Hehehe.." Gita


Namun saat ada yang mengetuk pintu dan memasuki ruangan mereka, mereka begitu terkejut sampai mereka menutup mulut mereka dengan tangan tanpa sadar.

__ADS_1


Apakah yang gue lihat ini nyata? Pikir Gita


Bersambung...


__ADS_2