
"Mah, Angga sadar mah," teriak Baskoro.
Hanna yang merasa senang dia memasukan amplop tadi ke dalam tasnya, dia belum sempat membacanya.
"Angga… mamah disini, mana yang sakit?" Hanna
Pria itu menatap Hanna, lalu melihat ke sekeliling ruangan. "Angga di Rumah Sakit? Kok bisa?"
Kirana berlari, pergi untuk memanggil dokter memberitahu jika Angga telah sadar.
"Kamu kecelakaan tadi siang, apa kamu tidak ingat? Seharusnya 'kan kamu di kantor, kamu pergi kemana tadi siang?, tapi syukurlah kamu tidak apa-apa," ucap Bu Hanna
Angga mulai mengingat kejadian tadi siang, dia kini mengingat semuanya, saat Kirana datang bersamaan dengan dokter lelaki itu, mata Angga fokus melihat gadis itu, dia tersenyum senang.
Akhirnya aku menemukan seseorang yang benar-benar keluargaku. Pikir Angga
Meski kecelakaan itu tidak menyebabkan lelaki itu terluka parah, namun dia akan pulang besok setelah pemeriksaan dibagian kepalanya.
Bu Hanna akan memastikan anaknya benar-benar sehat, baru dia bisa tenang dan membawa Angga pulang.
"Aku gapapa mah, aku pulang sekarang aja ya?"Keluh Angga.
"Besok aja, kamu harus periksa semuanya biar yakin kalau kamu benar-benar baik-baik saja!" Bu Hanna
"Iya kak, besok aja pulangnya, biar semua orang yang mengkhawatirkan kakak merasa tenang..!" Kirana
Angga mengangguk pelan, lelaki itu menuruti semua permintaan 2 wanita yang berarti untuknya.
Meski kecelakaan itu tidak menimbulkan luka parah namun badan Angga terasa sakit semua.
Kirana, Jani dan Maya pulang lebih dulu, meski sebenarnya Jani penasaran dengan hasil tes itu, tapi dia tahu jika sekarang bukanlah waktu yang tepat.
"Mah.. badan Angga sakit semua nih," keluh Angga.
"Hmm.. iya nanti dipijat kalau udah pulang, oh iya barang-barang kamu ada di tas mamah ya, telepon, dompet, sama surat dari Rumah Sakit." Bu Hanna
"Mamah udah baca isinya?" Tanya Angga pelan.
"Belum, memang surat apa sih? Kamu tes kolesterol kaya papah kamu?hehe.." tanya Hanna sambil melirik ke arah suaminya itu.
"Ko bawa-bawa papah?" Baskoro
"Hehe.. memang benar kan? Papah selalu rutin cek up ke dokter." Hanna
"Iya," jawab Baskoro
__ADS_1
"Mah, tolong … , Angga pengen dikupasin apel merah itu dong..!" Pinta Angga
Pria itu sedikit mengalihkan pembicaraan agar ibunya tidak membahas masalah surat itu, Angga butuh waktu untuk memberitahu orang tua angkatnya itu.
Selama ini Angga sudah benar-benar menganggap mereka orang tuanya sendiri, bahkan salah satu alasan Angga enggan mencari tahu keberadaan orang tua kandungnya adalah takut jika harus kehilangan sosok Bu Hanna dan Pak Baskoro yang selama ini baik padanya.
"Kakak … ," teriak Gita
"Kakak gapapa, kamu gak usah teriak, berisik tahu!" Angga
"Yaelah kak, aku khawatir eh malah dimarahin." Gita
"Haha.. kalian ini masih aja berantem, ingat ini rumah sakit, kalian harus akur..!" Bu Hanna
"Iya, harus akur dan jangan berisik..!" Baskoro
"Kak beneran gapapa? Aku kira karena kecelakaan kakak sakit parah." Reza
"Dasar adik ipar durhaka, apa kamu mau aku sakit parah, begitu?" Angga
"Bukan gitu kak maksudku." Reza
"Hmm.. terus gimana?" Angga
Reza pulang lebih dulu, disusul bu Hanna dan Baskoro, Gita yang malam ini berjaga menunggu Angga, ditemani 1 pelayan yang dibawanya dari rumah.
Angga sendiri yang meminta ibunya itu pulang, karena kasihan jika papanya itu harus ikut berjaga di rumah sakit, bahkan kesehatan Pak Baskoro belum benar-benar baik.
"Git, kamu gapapa kan nungguin kakak? Apa kamu mau ikut pulang juga nyusulin mamah sama papah?" Angga
"Aku disini aja kak, besok aku ijin gak masuk kuliah, 'kan jagain kak Angga." Gita
"Iya, makasih ya dek." Angga
"Sama-sama kak, lagian lumayan 'kan besok gak usah masuk kuliah, lagi males mata kuliah Pak Rendi, hahaha.." Gita
"Ya ampun ternyata ada niat tersembunyi dibalik kebaikanmu Git." Angga
"Hahaha.. aku ikhlas ko kak, dan soal izin kuliah, itu sih bonus, hmm.." Gita
"Iya deh, terserah, kakak mau teh manis hangat nih sama roti isi." Angga
"Ok, mbak Minul beliin roti ya didepan! kalau teh nya biar aku yang bikin disini, ini 'kan ada air panas." Gita
"Iya non." Mbak Minul
__ADS_1
"Dek, kamu mau kemah ya? Bawa selimut, air panas, teh, gula, mie cup, sekalian aja beras sama magic com nya! Haha.." Angga
"Jaga-jaga kak, biar enak 'kan nunggunya, hehe.." Gita
Malam itu Gita tidur setelah melihat kakaknya itu benar-benar tidur pulas, gadis itu sangat menyayangi kakak satu-satunya yang dia punya, kalau Angga sakit, tidak ada yang bisa dikerjain, diajaknya bercanda, dan akan membuat suasana rumah sepi.
"Cepet sembuh kak..!" Ucap Gita pelan, dia ikut memejamkan matanya, karena dia juga mulai mengantuk.
***
Saat subuh tiba, Bu Hanna sudah berada di rumah sakit, dia datang sendiri tanpa Baskoro suaminya.
"Mamah udah disini aja." Gita
"Iya, mamah khawatir, kamu kalau mau pulang, ya pulang aja Git, biar mamah yang jagain Angga." Bu Hanna
"Nanti aja mah kalau udah terang, ini sih masih gelap, mana dingin lagi." Gita
Gita yang sudah terbangun, dia memilih menarik selimutnya lagi karena saat melirik jam tangannya itu masih pukul 04.00 pagi.
Bu Hanna yang terlihat gelisah, dia menunggu Hingga pria itu terbangun. Tak enak rasanya jika harus membangunkan anak lelakinya itu, meski dia sangat ingin menanyakan sesuatu hal yang penting pada Angga.
Apa surat itu benar? Pikir Hanna
Ketika dirumah, Hanna yang terbangun di jam 3 malam itu, dia teringat surat Angga, dia juga mendengar handphone Angga yang berbunyi, suara alarm ponsel Angga, lelaki itu terbiasa bangun di saat seperti itu.
Saat membuka isi surat itu, Raut wajah Bu Hanna berubah, dia kaget, merasa aneh, dan juga penasaran kenapa bisa mereka bersaudara.
Saat Angga mulai membuka matanya, "mamah, apa ini sudah pagi? Jam berapa mah?" Angga
"Ini jam empat lebih, hehe.. mamah sengaja datang lebih pagi aja." Hanna
"Ini bukan pagi mah, subuh juga belum." Angga
Bu Hanna hanya tersenyum kecil membenarkan jika dia datang terlalu pagi. Namun karena rasa penasaran, dia mencoba bertanya pada anak lelakinya itu.
Ibu itu ingin memastikan, dan ingin tahu awal mula semua yang terjadi sampai Kirana dan Angga mempunyai hubungan itu.
"Angga, apa isi surat yang ada di amplop coklat kemarin itu benar?" Tanya Hanna.
Deg.
Mamah ternyata sudah membacanya, aku lupa kemarin tidak meminta surat itu. Pikir Angga
Bersambung...
__ADS_1