
Setelah berhasil melewati pertemuan dengan para menteri di istana yang begitu membosankan menurut Raja Deon. Akhirnya ia bisa menghirup udara segar di dekat perkebunan istana, ia juga senang karena hari ini ia bisa meluangkan waktu untuk mengunjungi Ratu, tanpa sengaja ia melihat Pangeran Xia, Raja Pun menghampirinya.
"Apa akhir-akhir ini kau sibuk? Sudah lama aku tidak melihatmu."
"Ah, iya yang mulia."
"Ya ampun, apa aku tidak salah dengar? Bukankah terdengar aneh kau memanggilku seperti itu?."
"Hehe.. " Pangeran Xia hanya bisa berpura-pura tersenyum, sebenarnya ia merasa canggung dan malu pada Raja Deon atas apa yang ia lakukan.
"Kau mau kemana? Sebaiknya kita makan bersama terlebih dahulu, aku ingin menikmati kebebasanku hari ini."
"Baiklah, memangnya kamu seorang tahanan? Ada-ada saja.hehe.." Pangeran Xia berusaha bersikap seperti biasa, ia mencoba menghilangkan rasa bersalahnya itu.
Akhirnya mereka pun makan di luar istana, karena Raja Deon benar-benar ingin merasakan kebebasan. Mereka makan berdua semakin membuat Pangeran Xia bingung menghadapi sahabatnya itu, ia sempat mengusulkan untuk mengajak Pangeran Ceng, tapi Deon menolak karena akan membutuhkan waktu lama jika harus menunggu Ceng.
Raja makan dengan lahapnya, bahkan ia bercerita tentang kesulitannya selama dua minggu ini.
"Maafkan aku Deon, aku sungguh terpaksa, aku tak berniat mengkhianatimu, apalagi mencelakaimu." Gumam Pangeran Xia
Dibalik pemberontakan di desa perbatasan itu, sebenarnya ada keterlibatan Pangeran Xia di dalamnya.
"Aku berjanji, aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu lagi." Pangeran Xia meyakinkan dirinya sendiri, ia juga tidak mau jika nantinya Deon membencinya.
Setelah selesai makan dan berbincang-bincang, Raja pergi terlebih dahulu, ia teringat rencananya mengunjungi Ratu. Sementara Pangeran Xia melanjutkan minum-minum sampai ia mabuk, ia benar-benar merasa bersalah.
* *
Pangeran Ceng dan Sani bergegas menemui Ratu setelah keranjang mereka penuh.
"Ayo Sani cepat, aku sudah tidak sabar melihat Ratu memakan buah-buah ini..!"
Sanipun mempercepat langkahnya, setibanya disana ternyata Ratu sudah menunggu di depan paviliunnya, sepertinya keadaan Ratu memang sudah lebih baik. Ia tidak sabar ingin sesuatu yang asam dan segar di siang hari.
"Coba aku lihat, wahhh… sepertinya segar, aku sudah tidak sabar" Ratu langsung merebut keranjang itu dari Sani, membuat Sani terpaku dan merasa heran. Membuatnya saling berpandangan dengan Pangeran Ceng karena sama-sama merasa heran.
Ratu langsung duduk di tepian taman paviliunnya, ia menyuruh pelayan membawakan bahan-bahan tambahan yang ia butuhkan.
"Sepertinya makan rujak di siang hari bisa bikin mood gue bagus deh, pasti seger deh, gue jadi inget saat dimana gue sama Nisa ngerujak bareng, yahh.. gue jadi kangen deh."
Gumam Ratu (Gita) dalam hatinya, dari bersemangat kini ia malah melamun lesu.
__ADS_1
Sani yang berada di sebelahnya tambah bingung dibuatnya,
"Tadi sakit, lalu bersemangat dan sekarang tiba-tiba seperti yang sedang sedih, aku benar-benar tidak mengerti dengan Ratu hari ini." Gumam Sani dalam hatinya
"Bukankah tadi kau bersemangat kenapa malah murung? Kau tidak merindukanku, bukankah beberapa hari ini kita tidak bermain bersama?." Ucap Pangeran Ceng
Ratu akhirnya sadar dari lamunan nya itu.
"Apa? Merindukanmu? Sama sekali tidak." Jawab Ratu dengan ketus
"Iishh kau ini, tidak pandai membuat orang senang." Jawab Pangeran Ceng sambil mengambil salah satu buah di keranjang dan berniat memakannya.
Tetapi Ratu melarangnya makan, ia sepertinya belum rela membagi buah-buah itu sekarang, ia akan membagikannya saat ia sudah puas dan tak menginginkannya.
Pelayan Pun datang, Ratu membuat bumbu Rujak yang manis pedas, sementara Sani membantu memotong buah-buah itu.
Dan pangeran Ceng yang diam memperhatikan mereka, ia seakan merajuk karena tadi dilarang Ratu makan.
"Dasar pelit, tapi bukankah kelihatannya itu masam sekali,emm sebaiknya memang aku tidak boleh makan." Pikir Pangeran Ceng
Akhirnya semua siap, Ratu makan dengan lahapnya ia bahkan berkeringat karena rasa pedas. Sani dan Pangeran Ceng yang melihat itu menjadi ingin juga mencicipinya mereka seakan lupa kalau buah itu sengaja mereka pilih yang rasanya akan asam.
Akhirnya mereka diperbolehkan makan bersamanya, namun pada saat suapan pertama Sani dan Pangeran Ceng merasa menyesal telah memakannya mereka memuntahkannya karena tidak tahan dengan rasa asam yang sangat asam.
"Kalian ini, tadi seakan ingin makan, tapi malah dimuntahkan.. ini kan enak." Ucap Gita (Ratu)
"Maaf Ratu tapi ini terlalu masam dan pedas, memangnya Ratu tidak merasakannya?." Sani merasa heran dan berpikir jika dugaannya itu benar
"Ah tidak, ini pas ko sedikit asam dan sedikit pedas." Jawab Ratu sambil tersenyum
"Astaga, kau memakan makanan seasam ini? Ini bukan makanan Anggrek." Ucap Pangeran Ceng
Pangeran Ceng mulai menyadari jika kemungkinan yang ia pikirkan pasti benar, membuat ia tersenyum senang.
Raja Deon yang ingin mengunjungi sang Ratu, dari depan gerbang ia sudah melihat Ratunya itu sedang makan bersama, ia lalu menghampiri mereka.
"Berani-beraninya kalian makan tanpa aku." Ucap Raja Deon
Pangeran Ceng yang mendengar suara Deon ia mulai memikirkan rencana jahilnya itu,
"Wah Raja kita berkunjung, bukankah selama beberapa minggu ini kau sibuk? Duduklah dulu disini..! Mari kita persilahkan Raja kita makan bersama Ratu kita."
__ADS_1
"Ada apa dengannya?" Pikir Deon
Tapi ia langsung duduk dan menanyakan kabar sang Ratu, tanpa diduga Ratu fokus sekali pada Rujak nya itu, ia hanya menjawab pertanyaan Raja dengan singkatnya.
Pangeran Ceng membiarkan Raja berduan dengan Ratu, ia sedikit bergeser memberi jarak pada mereka.
Ratu yang mulai kenyang, akhirnya ia bisa melihat Deon sedang duduk melihatnya makan.
"Apa itu enak? Kau bahkan hanya fokus pada makananmu." Tanya Raja
"Iya ini enak, segar apalagi dimakan di siang hari yang panas ini, cobalah makan aku suapin ya..! Tapi kamu harus menghabiskan sisa buah ini, kan sayang." Ucap Ratu membujuk Deon.
Deon yang merasa ini akan romantis, membuatnya menganggukan kepalanya dan tersenyum senang.
"Aaaaa….."
Ucap Gita (Ratu) sambil menyuapi Raja
Saat suapan pertama itu masuk ke dalam mulutnya, itu terasa manis pedas, menurut Deon ya ini segar dimakan di siang hari, tapi saat ia mulai menggigit buahnya, wajahnya mulai berubah.
"Sepertinya Ratu sedang hamil, ia makan makanan asam sekali, sebaiknya kamu harus menyenangkannya, kamu harus memakan semuanya, kamu tidak boleh mengecewakannya, dan jangan sampai dia sedih, itu tidak baik untuk calon anakmu." Bisik Pangeran Ceng pada telinga Raja Deon.
Niat Deon memuntahkan buah itu tidak jadi ia lakukan, ia berpura-pura menikmati suapan Ratu.
Ia bahkan mengatakan jika Rujak itu enak, ia terpengaruh oleh Ceng, ia berusaha membuat Ratu senang hari ini.
"Astaga ini asam sekali, ya ampun masih berapa suapan lagi sampai semuanya habis?, sabar Deon sabar…" Gumam Raja dalam hatinya.
Sementara Pangeran Ceng yang memperhatikan mereka, ia merasa puas melihat Deon menahan rasa asam. Sambil sesekali ia berkata,
"Romantisnya…"
Raja Deon yang mendengar Ucapan Pangeran Ceng merasa geram ingin marah, ia tahu bahwa sekarang Ceng hanya sedang mengejeknya.
Sementara Sani sedang bingung,
"Bukankah itu sangat asam, kenapa Raja sangat menikmatinya? Apakah mitos itu benar jika suami juga bisa sama-sama ngidam?"
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, like dan komen ya..! :)
__ADS_1