
Ketika malam tiba Ratu ditemani tidur oleh Sani, karena Ratu takut Sani tidur mengenai kakinya yang masih terasa sedikit sakit, maka Sani pun tidur dibawah.
Matahari mulai menampakan cahayanya, membuat Ratu terbangun karena rasa mual yang ia dapatkan rutin setiap pagi hari, Ratu mencoba pergi ke kamar mandi dengan kaki kanan yang masih tak sanggup ia pijakkan dengan kuat, ia masih takut jika kakinya akan sakit lagi.
"Biar saya bantu Ratu.." Sani yang terbangun karena langkah kaki Ratu yang seakan pincang itu membuat langkahnya sangat terdengar keras.
Dari kemarin Ratu terkurung di kamarnya, maka hari ini ia ingin berjemur saja di depan paviliunnya, ditemani teh hangat dan cemilan buah-buahan agar tidak membuatnya mual.
Tiba-tiba perasaan Ratu menjadi tidak enak, dan benar saja ada selir Mey yang berkunjung. Ia memberi salam pada Ratu lalu ikut bergabung dengan Ratu.
"Bagaimana keadaan kakimu?" Tanya selir Mey dia bertanya seolah-olah sebagai teman dekat.
"Kemarin aku sangat tersiksa dengan rasa sakit di kakiku, maka dari itu aku akan menghukum dengan berat orang yang sudah mencelakaiku dan calon bayiku, untungnya orang itu sudah aku tangkap, tinggal mengintrogasinya lalu menghukum mat* dia karena berani membuat seorang Ratu celaka." Jawab Ratu dengan sedikit emosi.
"Benarkah, kapan orang itu tertangkap?, memang sebaiknya langsung dihukum saja..!" Ucap Selir Mey
"Aku tidak tahu kapan yang penting dia tertangkap, dan aku masih ingin menggali informasi darinya maka akan ku biarkan dulu dia disana." Jawab Ratu
Selir Mey sedikit gugup, ia khawatir jika apa yang dimaksud Ratu itu orang yang ia suruh
"Itu tidak boleh terjadi, jika benar dia tertangkap aku akan membunuhnya terlebih dahulu sebelum dia memberikan informasi." Gumam selir Mey
"Iya aku setuju, sebaiknya memang seperti itu. Syukurlah kalau kamu merasa baik-baik saja sekarang, aku harus pamit dulu." Ucap selir Mey
"Kenapa terburu-buru, teh nya saja belum diminum." Ucap Ratu sambil mengangkat gelas milik selir Mey
"Tidak usah terimakasih, aku pamit dulu." Selir Mey menolak, ia ingin segera pergi dan memastikan sesuatu.
Saat selir Mey pergi, Ratu menyuruh Rey mengikutinya dan mencari tahu sebenarnya siapa pria misterius yang masuk ke kamarnya itu.
"Memangnya orang misterius yang kemarin itu sudah tertangkap Ratu?" Sani bertanya karena ia penasaran dan juga bingung.
"Hahahaha…. Aku hanya memancing selir Mey saja" Jawab Ratu sambil tertawa
Sani yang masih merasa bingung dan merasa tidak mendapatkan jawaban dari Ratu, ia memilih diam dan melanjutkan minum teh saja.
__ADS_1
Setengah jam kemudian saat Ratu masih menikmati cemilannya, ia melihat kedatangan mertuanya itu dengan nada khawatir. Ibu Suri langsung menghampiri Ratu Anggrek.
"Menantuku.. bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja bu." Ratu yang ingin berdiri dan memberi hormat pada ibu Suri ternyata oleng dan hampir jatuh karena kaki kanannya masih belum bisa ia pijakkan dengan kuat.
Sani langsung menahan tubuh Ratu, "Hati-hati yang mulia..!"
"Sudahlah tidak usah memberi hormat saat kau sedang sakit, aku begitu mengkhawatirkanmu dan juga calon cucuku, apakah benar jika ada yang sengaja mencelakai mu?"
"Sepertinya begitu, karena sebelumnya ada orang mencurigakan keluar dari kamarku dan juga biasanya kamar mandiku selalu dibersihka dan tidak pernah selicin itu."
"Keterlaluan, ibu akan mengurusnya, akan ibu pastikan dia dihukum dengan setimpal."
"Terimakasih bu, aku juga sedang berusaha mencari tahu pelakunya."
"Bagus Anggrek, kamu itu harus kuat harus tega jangan sampai kamu memaafkan orang-orang yang jahat padamu dengan begitu mudahnya..!"
Ratu hanya mengangguk, ia tentu tidak akan tinggal diam. Ia bukan Anggrek yang dulu, tapi kini ia Anggrek yang memiliki kepribadian seorang Gita di dalamnya.
* *
Raja pergi ke tempat dimana ia biasa beristirahat, "Bangunkan aku satu jam lagi..!" Ucap Raja pada pengawal yang berjaga di depan kamarnya
"Baik yang mulia."
Setelah merasa cukup tidur, Raja segera pergi ke tempat dimana para pengkhianat itu dikumpulkan untuk menginterogasi mereka, namun saat Raja sampai disana.
"Astaga, kenapa mereka semua?" Tanya Raja kaget
"Sepertinya ada yang melempar Racun berupa gas yang mulia, sehingga mereka semua yang ada di ruangan ini mat*." Ucap salah satu pengawal
"Lalu yang bertugas menjaga ruangan ini, kemana mereka?" Tanya Raja
"Mereka langsung lari keluar ruangan saat ada asap Racun itu, mereka selamat dan sedang dirawat tabib yang mulia." Ucap pengawal menjelaskan.
__ADS_1
"Syukurlah, hmm.. aku kecolongan lagi, pasti pimpinan mereka tidak mau jika mereka membocorkan rahasianya, jadi mereka semua dibunuh dengan cara seperti ini untuk menghilangkan jejak dan bukti-bukti." Ucap Raja
Raja kini terduduk bingung, memikirkan cara agar ia bisa mendapatkan bukti lain.
"Pengawal, tolong kalian urus mayat-mayat ini, kuburkan mereka dengan layak..!" Perintah Raja
"Baik yang mulia." Jawab mereka kompak.
Raja memilih pergi untuk melihat perbaikan desa, ia harus bisa mengambil perhatian dan kepercayaan Rakyatnya. Dia tidak mau jika warga disini kembali merasakan kekecewaan terhadapnya.
Raja menampilkan senyuman pada semua penduduk di desa, ikut berbaur untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan, Raja disambut dengan ramah oleh semua penduduk desa apalagi setelah tahu bahwa para pengacau telah ditangkap membuat penduduk desa perbatasan merasa lega.
* *
Selir Mey yang merasa takut ketahuan, ia mencari keberadaan orang suruhannya itu untuk memastikan apakah yang ditangkap Ratu itu orang suruhannya atau bukan.
Selir Mey mulai mencari ke dapur istana, karena biasanya memang orang itu bertugas disana. Ia mulai celingukan mencari orang yang dia maksud, tanpa ia sadari Rey terus membuntutinya dari arah belakang.
Ternyata selir Mey melihat orangnya dan langsung memanggilnya, "Ada apa lagi nyonya?"
"Tidak, aku hanya memastikan jika kau baik-baik saja, ingat jangan sampai kau tertangkap dan jangan kau sebut-sebut namaku jika kau tertangkap!"
"Baik nyonya." Jawab pelayan itu sambil menundukkan wajahnya, ia merasa takut dengan ancaman selir Mey
Kini selir Mey merasa lega, ia berniat kembali ke paviliunnya. Setelah dirasa selir Mey sudah cukup jauh pergi, Rey muncul dari persembunyiannya lalu mencari pelayan yang tadi berbincang dengan selir Mey. Meski ia tidak bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas karena jarak yang lumayan jauh, tapi Rey yakin kalau pelayan itu orangnya.
Rey mulai mengawasi tempat itu, ia melihat targetnya, mencari waktu yang pas, dan…. Rey pun membekap pelayan itu lalu membawanya pergi ke suatu tempat.
Bersambung...
...jangan lupa like setelah membaca ya..! terimakasih :)...
...Rekomendasi novel bagus untuk kalian..
__ADS_1
...