Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Belanja itu melelahkan


__ADS_3

Karena hari ini jadwal kuliah kosong, Gita hanya bersantai di rumah, bahkan kini dia masih berada di kamarnya, tiduran sambil memainkan ponselnya itu.


Dia menikmati hari liburnya dengan membaca komik online.


Tiba-tiba bu Hanna datang menghampiri, menyuruhnya mandi, dan bersiap-siap menemani ibu nya itu pergi ke suatu tempat, tanpa memberi tahu terlebih dahulu kemana mereka akan pergi.


Awalnya Gita protes karena tempat yang dituju tidak jelas, tapi akhirnya dia menuruti perintah ibunya itu.


Mau kemana sih? Tumben sampe maksa-maksa gini. Keluh Gita


Dia mandi hanya butuh waktu 10 menit saja, Gita memang terbiasa seperti itu, mandi cepat dan menurutnya asal bersih, gak perlu ada acara lulur-lulur segala macam.


"Gita.. ayo sayang, Nisa udah dateng juga tuh..!"


"Iya mah.."


Sebenarnya janjian mau kemana sih?, kalau Nisa ikut, kenapa gak berdua aja, gue kan lagi males.. lagi seru-serunya baca komik juga.. Huuhh..


Setelah siap, Gita keluar dengan gaya berpakaian seperti biasa. Ibu Hanna menggeleng-gelengkan kepalanya melihat cara berpakaian anak gadisnya yang mirip laki-laki itu, andai papahnya tidak melarang Gita memotong rambutnya, mungkin saat ini anaknya itu benar-benar berubah menjadi Gito. Hehe…


"Mah, kita mau kemana sih?" Tanya Gita


"Jalan-jalan sayang, bukannya kamu libur? Ya udah mending jalan bertiga."


"Trus papah gimana, masa ditinggal?."


"Justru papah yang punya ide dan nyuruh mamah pergi, jadi kamu gak udah khawatir ya..!"


"Ko aneh sih?."


"Kamu tuh yang aneh, cewek kok tampilannya kayak anak cowok. Hmm…"


Nisa hanya tersenyum mendengar anak dan ibu yang sedang berdebat itu, mereka akhirnya pergi bersama memakai mobil dan membawa 1 supir saja tanpa tambahan pengawal.


Mobil yang dibawa pun, mobil yang paling sederhana yang ada di bagasi. Ibu Hanna tidak ingin terlalu mencolok.


"Oh mau ke mall, ah Gita males mah nemenin mamah belanja berjam-jam, kaki Gita pegel mah, mamah sih happy, aku tersiksa mah.. Gita pulang aja ya? Kan ada Nisa, dia juga suka shopping mah. Hehe"


Saat Gita hendak berbalik, dia mengurungkan niatnya, saat ibu Hanna mengancamnya.


Eitss.. kalau kamu pulang sekarang, mamah akan memutuskan kamu menerima perjodohan itu, tidak ada tawar menawar lagi. Gita mengulang kata-kata ibunya di dalam hatinya.


Belanja adalah hal paling melelahkan menurut Gita, dia harus berkeliling di mall yang luas, berpindah dari toko satu ke toko yang lainnya.


Ibu Hanna dan Nisa begitu bersemangat memilih banyak baju, bahkan lengkap dengan tas dan sepatu.


"Ya ampun.. kalian kompak sekali, jangan-jangan Nisa itu anak mamah, dan aku cuma anak nemu di depan pintu? Atau aku ketuker ya sama Nisa dulu pas bayi?." Ucap Gita


"Kamu kok ngawur gitu sih, kamu anak mamah sayang, coba aja tes DNA..!" Jawab bu Hanna

__ADS_1


"Aku ngawur karena aku capek mah, aku pengen pulang, udah kan belanjanya?" Ucap Gita sambil memohon.


"Udah ko."


"Alhamdulillah.." Ucap Gita


"Tapi tante.." Ucap Nisa


"Iya belanjanya udah, tapi kita masih punya tempat lain yang harus dikunjungi."


"Ya ampun, Gita pingsan nih mah.. pingsan loh.. pingsan sekarang nih, disini loh mah.. jangan lupa angkat ya..!." Ucap Gita sambil berjongkok.


"Kamu nih, malu-maluin..! Ayo jalan, kita ke mobil."


Nisa hanya tertawa melihat kelakuan sahabatnya itu, mereka pergi menuju salon dan tempat Spa langganan ibu Hanna yang berada di satu gedung yang sama.


Gita dipaksa melakukan segala perawatan, dia sudah pasrah karena 1 lawan 2, dia tentu kalah.


Terkecuali make up, Gita menolak untuk di dandani.


Emm tidak buruk, rasanya menyegarkan. Batin Gita


"Bu Hanna apa kabar?" Tanya ibu-ibu paruh baya yang menghampiri ibu Anggita.


"Baik, alhamdulillah.. ini pasti Reza ya? Gantengnya anak kamu May." Ibu Hanna


"Iya ini anakku yang mau aku jodohin sama anak kamu." Bisiknya di telinga Bu Hanna, lalu mereka sedikit menjauh.


"Git, bukannya itu kak Reza yang di kampus kita? Yang terkenal karena tampan dan playboy?." Tanya Nisa pelan.


"Kayaknya sih iya." Jawab Gita.


Ibu Hanna kembali menghampiri dua gadis itu, mengajak mereka untuk pulang, rasanya sudah puas dengan kegiatan hari ini.


Tentu saja Gita yang paling senang, akhirnya dia bisa menikmati kamarnya yang sepi, dan kasurnya yang empuk.


Nisa diantar terlebih dahulu, tak lupa dia mengucapkan terimakasih karena sudah diberi banyak barang dan diantar pulang, tidak ada pembicaraan apapun selama perjalanan pulang, Gita bahkan tertidur karena kelelahan.


Nisa sibuk dengan handphone nya dan bu Hanna sibuk dengan pikirannya sendiri.


Sesampainya di rumah, bu Hanna membangunkan anaknya itu, Gita turun dengan mata tertutup saking ngantuknya.


Bughh…


"Aw.. "


"Kamu gak apa-apa Git? Lagian kamu sih jalan ko sambil merem."


"Tidur berjalan mah, ini lagi tren."

__ADS_1


"Tren apanya? Aneh kamu tuh, cepet masuk dan nanti malam akan ada tamu mamah, kamu harus pakai baju yang tadi mamah beliin, setidaknya kamu harus berpakaian sopan Git..!"


"Hmm.. iya mah." Jawab Gita sambil menutup mata.


Karena anaknya berperilaku seperti itu, rasanya bu Hanna mulai kesal, dia menarik tangan anaknya itu masuk ke dalam rumah dengan cepat, menggandengnya sampai di depan pintu kamar, takut jika Gita jatuh lagi atau bahkan nyasar di rumahnya sendiri.


Gita berjalan perlahan dan langsung membaringkan tubuhnya di kasur empuknya itu.


Ah lelahnya, kenapa mereka begitu menyukai acara belanja di mall sih? Keluh Gita.


Dia akhirnya menikmati tidur siangnya itu.


***


Di tempat lain, ibu Maya sedang sibuk memilih baju untuk anak laki-lakinya itu.


"Mah, kenpa dikeluarin semuanya? Aku pakai baju apapun tetap ganteng ko mah." Keluh Reza


"Hais.. anak mamah emang ganteng tapi kan mamah mau kamu pake baju yang terbaik."


Ucap bu Maya


Hmm.. padahal semua bajuku hampir semuanya sama, kenapa juga sih mesti ada acara jodoh-jodohan segala? Merepotkan.


"Mah, gak usahlah jodohin aku sama cewek gak jelas, mamah kan tahu pacar aku cantik-cantik, kenapa mamah mesti khawatir soal jodoh aku?."


"Justru itu, kamu tuh gak serius sama pacar-pacar kamu.. mamah maunya cewek yang serius yang sudah pasti nanti bakal jadi istri kamu."


"Nanti aku kan tinggal pilih aja salah satu dari mereka."


"Tapi mamah gak suka sama mereka semua, cuma cewek-cewek matre kok dibanggain."


"Mah, aku tuh masih ingin menikmati masa muda, mamah tenang aja aku gak akan lakuin hal yang akan mengecewakan, aku cuma iseng aja pacarin mereka, toh aku gak ngelakuin hal diluar batas. Percaya deh mah sama aku..!"


"Mamah percaya, tapi untuk kali ini mamah mohon, kamu coba dulu ya.. kalau gak cocok ya gak usah dilanjut."


"Aku gak cocok mah sama pilihan mamah, udah batalin aja..!"


Dan pukulan yang keras mendarat di paha Reza, dia meringis kesakitan. Bu Maya terlampau kesal dengan anak satu-satunya itu, setiap hari selalu saja membuat emosi.


Apalagi saat pacar-pacar nya datang ke rumah untuk cari muka dengannya, membawa berbagai makanan yang diakui itu adalah masakan mereka.


Bu Maya merasa lelah, dia ingin anaknya itu berhenti mengoleksi pacar. Meski ia percaya bahwa anaknya itu hanya main-main dan tidak melakukan hal diluar batas.


Terbesit di kepala bu Maya untuk memiliki cucu dan menantu yang benar-benar baik, tidak memandang ketampanan dan kekayaan yang Reza miliki.


Karena dia bersahabat lama dengan bu Hanna , maka dia berencana menjodohkan mereka, karena ibu-ibu ini sama-sama merasa lelah dengan sikap anak-anak mereka yang setiap hari hampir membuat mereka darah tinggi.


Saat mereka saling menceritakan anak mereka, terkadang mereka tertawa dengan tingkah anak jaman sekarang.

__ADS_1


Keluarga Reza pun akhirnya siap, dan segera menuju rumah keluarga Baskoro.


Bersambung…


__ADS_2