Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Jani Akhirnya Pulang


__ADS_3

Angga terus memperhatikan kalung itu, berharap dia bisa mengingat sesuatu, namun tidak ada ingatan apapun.


Mungkin kejadiannya terlalu lama, dan aku tidak bisa mengingatnya. Pikir Angga


"Mamah gak tahu artinya apa, mungkin nama keluarga besar, atau singkatan nama lain." Hanna


"Aku juga tidak ingat apapun mah," keluh Angga.


"Tidak usah dipaksakan..!" Bu Hanna


"Aku tadi sempat bertemu lelaki paruh baya dan anak kecil usia 10 tahunan mah, anak lelaki itu mirip sekali ketika aku kecil, apa mungkin ya mah?" Angga


"Mungkin saja, kali ini kamu dipertemukan dengan keluargamu." Bu Hanna


"Semoga saja mah." Angga


Lelaki itu membawa kotak peninggalan keluarganya, berniat menyimpannya baik-baik, membawa kotak itu masuk kedalam kamarnya.


Ponsel Reza berdering, ada panggilan masuk dari tante Jani.


"Angga.." Tante Jani


"Iya tante.." Angga


"Tante besok sudah bisa pulang, tante sudah sehat, kamu bisa atur rencana kita itu." Tante Jani


"Syukurlah, aku tidak enak tante, sebaiknya aku menunggu hingga tante benar-benar pulih." Angga


"Gapapa ko Angga, tante juga berharap ada kabar baik, tante bahagia jika Kirana bahagia." Tante Jani


"Baiklah, besok saya akan menjemput tante dan mengantar tante sampai ke rumah, dan besoknya kita bisa melakukan rencana itu." Angga


"Ok, tante tunggu ya..! Tante pasti senang jika diantar cowok ganteng kayak kamu, hehehe…" Tante Jani


"Tante bisa aja, besok aku jemput jam 9 ya tante." Angga


"Iya.." Tante Jani


Saat panggilan itu terputus, Angga mengembangkan senyumannya.


Ada harapan, semoga saja hasilnya sesuai dengan apa yang aku inginkan. Pikir Angga


Terdengar suara berisik dari luar, membuat Angga penasaran. 


Ada apa sih? Pikirnya


Angga melangkahkan kakinya keluar kamar, hingga dimana dia bisa melihat, adiknya itu sedang bertengkar dengan Reza, hanya karena makanan terakhir yang dibuat bu Hanna.


Reza tidak mau mengalah, entah kenapa dia kali ini sangat ingin memakan cemilan itu, rasanya enak, dan tidak ada yang menjualnya.


"Kamu kan bisa minta dibuatkan mamamu lagi..!" Reza

__ADS_1


"Tapi Za, aku mau makan yang manis-manis sekarang, aku mau itu, kalau menunggu mamah sih lama bikinnya." Gita


Saat mereka berdebat Angga mengambil cemilan manis itu tanpa rasa bersalah.


"Emm.. masakan mamah emang selalu enak, the best deh pokoknya, sayang mamah gak bikin yang banyak," ucap Angga sambil mengunyah.


Dua orang itu langsung menatap Angga dengan mata tajam, lalu berteriak bersama.


"Kak Angga…"


Mereka mengejar Angga bersama, yang tadinya bertengkar kini mereka kompak untuk menangkap Angga.


Pak Baskoro dan Bu Hanna yang baru saja turun ingin makan malam. Mereka hanya tertawa melihat mereka yang masih saja seperti anak kecil.


***


Keesokan harinya Angga ijin sebentar dari kantornya, dia pergi terburu-buru ke Rumah Sakit.


Disana dia bisa melihat Kirana yang juga tersenyum senang karena mamanya sembuh, dan bisa pulang hari ini.


"Tante.." Angga


"Makasih loh udah mau jemput tante, kamu tahu aja kalau tante sudah tidak punya laki-laki pelindung, hehe.." Tante Jani


"Maksud kamu apa Jani, bukankah abangmu masih ada, aku masih memperhatikanmu," ucap Sanjaya yang baru saja datang.


"Hahaha… Abang datang juga, bagaimana dong aku jadi bingung pilih yang mana. Hehe.." Tante Jani


"Kau ini, kamu naik mobil Abang aja, sama Maya, biarkan Kirana dengan Angga saja..! Hmmm.." Sanjaya


"Maksud kamu?" Sanjaya


"Bukan apa-apa, ayo kita pulang..! Aku merindukan rumahku, bunga-bungaku, hmm.." Jani


Mereka pun akhirnya pulang dengan 2 mobil yang saling beriringan, Kirana sedikit canggung berdua didalam mobil, namun sebisa mungkin dia mengakrabkan dirinya dengan Angga.


Bahkan dia menceritakan keadaan hatinya saat inj yang senang dengan kepulangan mamah Jani, tapi sedih dengan keadaan papanya saat ini yang bahkan sulit untuk ditemui.


Angga yang melihat kesedihan itu, dia berjanji akan mengantar Kirana pergi menjenguk Aldi lagi.


Akhirnya mobil mereka sampai di rumah yang megah, juga menyenangkan karena banyak dihiasi taman bunga.


Jani dan Kinara memang mempunyai hobby yang sama, karena dulu Jani bersikap dingin pada gadis itu, membuatnya memisahkan taman bunganya dengan taman bunga Kirana, jadi akhirnya di halaman depan maupun belakang banyak taman bunga yang cantik.


"Wah… taman bungaku, pasti kamu yang merawatnya Kirana?" Jani


"Iya mah.." Kirana


"Makasih loh, padahal dulu mamah suka ngelarang kamu walau hanya menyentuhnya saja,hehehe.. maafkan sikap mamah dulu ya?" Jani


"Gapapa mah, aku tidak merasa sakit hati, aku sudah memaafkan mamah dari dulu," jawab Kirana sambil tersenyum.

__ADS_1


Sanjaya, Maya, dan Angga begitu lega melihat hubungan mereka berdua yang semakin membaik.


***


Reza hari ini merasa kesal sekali, Meta bisa-bisanya gadis itu datang ke kantornya, membawa bekal makan siang untuknya.


Dia bahkan membawa cake ulang tahun keruangan Reza.


"Aku tidak ulang tahun, untuk apa kau membawanya?" Reza


"Kakak, bukankah 2 hari lagi kak Reza ulang tahun, aku hanya ingin menjadi orang yang pertama merayakannya." Meta


"Astaga, itu masih lama Meta," keluh Reza.


"Gapapa kak, ayo makan, kalau tidak makan aku tidak mau pulang," ancam Meta.


Anak ini, benar-benar menyebalkan. Batin Reza


Reza terpaksa memakan makanan yang dibawa Meta, menghabiskannya agar gadis itu cepat pulang dan berhenti mengganggunya.


Namun Meta belum pulang juga, membuat Reza kehabisan akal.


Lalu aku harus bagaimana? Pikir Reza


Roni datang ke ruangan itu, dia hanya ingin memberikan beberapa berkas saja.


"Roni, bukankah hari ini ada jadwal pertemuan dengan klien penting di luar?" Tanya Reza, dia bahkan mengedipkan matanya sebelah, sebagai kode, namun sepertinya Roni tidak mengerti.


"Tidak ada, mungkin anda salah, kalau begitu saya permisi dulu.." Roni


Astaga, kenapa dia tidak memahami kode gue? Pikir Reza


"Tunggu..!" Reza


"Iya.. ada apa lagi Bos?" Tanya Roni.


"Ayo kita pergi, tadi aku mendapatkan info pertemuan klien mendadak, ayo cepat..!" Reza


Bahkan pria itu memegang tangan Roni, menggenggamnya erat sampai keluar gedung, banyak karyawan yang memperhatikan mereka dengan tatapan aneh dan heran, ada juga yang penasaran dengan mereka.


Sementara Meta yang kesal, bahkan dia berteriak memanggil nama Reza. Namun lelaki itu pergi secepat kilat membuat Meta tak mampu mengejarnya karena sepatu haknya kini patah.


"Sial..," keluh Meta


Reza yang merasa lega sudah berada di luar gedung dan terlepas dari gadis aneh itu, dia baru menyadari jika dia menggenggam tangan orang lain.


Saat Reza membalikkan badannya, dia langsung menghempaskan tangan Roni dengan keras.


"Astaga, gue masih normal kali Ron." Reza


"Saya juga normal Bos, bukannya Bos yang menarik saya bahkan semua karyawan melihat kita?" Roni

__ADS_1


"Benarkah? Astaga, mati gue." Reza


Bersambung...


__ADS_2