
Raja yang penasaran dengan apa yang diminta Ratu, ia langsung bertanya.
"Satu syarat kan? Apa itu?"
"Hmm.. aku ingin setiap akhir pekan aku dibebaskan pergi kemanapun, termasuk keluar istana, dan aku mempunyai hak dengan siapa saja aku pergi. Bagaimana?"
"Tapi.. aku mengkhawatirkanmu, apalagi kamu kan sedang mengandung."
"Ayolah Deon, aku sangat bosan berada di kawasan istana terus."
"Hmm.. tapi dengan dikawal oleh Rey pengawal pribadimu itu ya..!"
"Hmm.. setuju."
Ratu ingin sekali merasakan suasana di luar istana, bergabung dengan kerumunan rakyat biasa, jajan makanan pasar yang menurutnya lebih enak. Mengingatkan Ratu (Gita) pada suasana pasar di dunia nyata. Disana menyediakan begitu banyak makanan tradisional, dan jajanan gorengan pedas seperti jajanan anak sekolahan. Rasanya ia rindu makan Batagor, cilok, cireng, bakso, mie tek-tek dll.
Malam ini Ratu tidur terlebih dahulu, sementara Raja masih termenung memikirkan bagaimana caranya agar ia tidak perlu terlibat dengan selir Mey, tapi bayinya itu tidak akan menjadi korban.
"Siapa sebenarnya ayah dari bayi Mey? Jika saja peramal itu memberitahuku dan memberiku surat rahasia lagi, aku tidak akan pusing mencari-cari siapa orang itu. Hmmm…" Pikir Raja
Saat sedang melamun, tiba-tiba Ratu mengigau.
"Biarkan saja Rizad yang mengurus si Mey itu, bukankah itu anaknya, kenapa jadi Deon yang harus kerepotan.. huh… menyebalkan."
Raja mengerutkan keningnya, "Ratu.., Ratu Anggrek.., sayang.., istriku.." Tapi tidak ada jawaban dan dia masih tertidur pulas.
"Apakah dia mengigau?" Ucap Raja pelan.
"Rizad? Bukankah dia pengawal Mey yang suka mengikuti Mey kemanapun dia pergi.. hmm, sepertinya aku harus mencoba menyelidiki dia."
Akhirnya Raja mencoba memejamkan matanya, dia tetap harus istirahat karena besok dia akan sibuk sekali.
Saat pagi tiba, Ratu masih terlelap dengan posisi memeluk Deon.
Raja yang memiliki janji penting, ia segera bangun dan bersiap-siap, tak lupa ia mencium kening istrinya itu.
__ADS_1
"Aku pergi dulu.."
Raja berpesan kepada Sani agar menjaga Ratu dengan baik, karena selama dua hari kedepan ia tidak akan ada di istana.
Saat hari sudah mulai siang, Sani masuk menemui Ratu, mencoba membangunkannya dan menyuruhnya sarapan. Ratu sempat mencari-cari Deon, namun setelah mendengar penjelasan dari Sani ia sedikit lega, setidaknya Raja tidak meninggalkan pagi nya untuk si Mey itu.
Karena hari ini tidak ada Raja, Ratu begitu bersemangat, ia tiba-tiba ingin menemui Pangeran Ceng, sudah lama ia tidak bermain dengannya. Karena keadaan sang Ratu, Sani meminta pengawal menemui Pangeran dan menyuruhnya datang kemari.
"Wah.. suatu kehormatan aku diundang kemari." Ucap Pangeran
"Isshh.. aku hanya ingin mengajakmu mencari tempat yang bagus di luar istana, tapi akhir pekan nanti, pasti kau lebih tau."
"Tentu saja, aku bisa meluangkan waktu untukmu."
"Terima Kasih, kenapa kau tak pernah kemari?"
"Aku sibuk dengan pertemuan kencan butaku, ibuku menyuruhku untuk segera menikah, ibuku mengenalkanku pada beberapa gadis pilihannya, dan tentu saja mereka semua anak para menteri dan pejabat tinggi, sebenarnya aku muak, sudah 10 gadis yang aku temui." Keluh pangeran Dengan wajah lesu.
"Bukankah itu bagus? Memang kau seharusnya sudah menikah. Hehe"
"Memangnya dari 10 wanita yang kau temui, tidak ada yang menarik?"
"Tidak.."
"Hahaha.. aku curiga kau lebih menyukai suamiku."
"Hahaha.. aku masih normal, kau berpikir terlalu jauh." Jawab Pangeran dengan cemberut dan tertawa dibuat-buat.
Sani yang mendengar Ucapan Pangeran, ia mulai menyadari kalau ia merasa cemburu, tapi ia juga menyadari posisinya. Perasaannya harus disimpan untuk dirinya sendiri.
"Aku hanya seorang pelayan, aku tidak mungkin menjadi seorang putri, jika beruntung, paling tidak aku bisa menjadi selirnya saja.. sadarlah Sani, lupakan perasaanmu..!"
Mereka menikmati makan siang bersama dan menyempatkan datang ke peternakan untuk merawat kuda-kuda mereka.
**
__ADS_1
Selir Mey yang gelisah, dia berharap hari ini Deon datang mengunjunginya. Namun dia harus menelan rasa kecewanya.
Saat pintu terbuka, selir memasang senyum bahagia, namun yang datang hanyalah pelayan dan seorang tabib.
"Nyonya makanlah dulu, dan minumlah obat ini, yang mulia Raja sedang mendapat tugas di luar istana, selama beberapa hari ini biarkan saya yang melayani nyonya." Ucap sang pelayan
Selir Mey tak menjawab apapun, ia hanya menunduk lesu.
"Nyonya, biar saya periksa terlebih dahulu." Ucap Tabib istana
Setelah diperiksa ternyata kondisi Mey membaik, tabib menyarankan agar selir Mey lebih bisa mengontrol emosinya. Mey dengan patuh meminum obat, ia ingin sembuh, dia yakin kalau Raja masih memperdulikannya dan juga anaknya itu.
Rizad yang tak bisa mengunjungi Mey ia hanya bisa menatap pintu kamar Mey yang dijaga banyak pengawal.
Ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk berlatih pedang untuk melupakan rasa khawatirnya.
Saat Rizad sedang berjalan menuju kamar peristirahatannya, tiba-tiba ada orang yang memukulnya dengan keras dari belakang, membuatnya pingsan seketika.
Saat ia sadar, dia membuka matanya " Dimana aku? lepaskan aku..!" Teriaknya tapi tidak ada orang di dalam ruangan itu.
Rizad berusaha melepaskan tali yang terikat di pergelangan tangannya, namun ikatan itu sangat kuat, ia tak bisa membukanya sama sekali, begitu juga dengan kakinya yang terikat kuat di sebuah kursi kayu.
"Sebenarnya siapa yang melakukan ini? Sungguh sial aku bisa berakhir disini." Keluhnya
Terdengarlah langkah kaki yang semakin keras, pintu pun terbuka, terlihat 5 orang bertubuh kekar dan berpakaian serba hitam.
"Ternyata kau sudah sadar, hahaha… kalian tutup mulut dia agar tidak berisik, biarkan dia disana sampai Tuan besar datang..!"
Mereka dengan patuh membungkam mulut Rizad, sebelum mulut itu terbungkam, Rizad berteriak.
"Apa salahku, apa sebenarnya yang kalian mau dariku?" Ucapnya, hingga akhirnya ia tak bisa mengucapkan apa-apa lagi.
Kelima orang tersebut hendak keluar dari ruangan itu, salah satu dari mereka berbisik di telinga Rizad. "Sebaiknya jika nanti kau mendapat pertanyaan, jawablah dengan jujur, jika kau ingin selamat..!"
Bersambung
__ADS_1