
Mereka memasuki kelas yang biasa menjadi tempat Dafa belajar, ternyata hampir semua yang datang mengambil rapot adalah ibu-ibu, membuat Angga menjadi wali siswa yang paling tampan.
"Cie… Kakak paling tampan loh dikelas ini, hehehe.." Dafa
"Hmm.. kamu mengejek Kakak? Ya udah Kakak pulang lagi, biar kamu gak bisa bawa pulang rapot kamu itu, paling nilainya merah semua," ejek Angga
"Ih Kakak kayak cewek aja gampang merajuk." Dafa
"Biarin, apa kamu tidak sadar jika kamu keterlaluan?, selalu mengerjai Kakakmu ini, jangan jadi adik durhaka dong..!" Angga
"Seru tau Kak kalau aku liat Kakak menderita, hehe.." Dafa
Namun anak itu dengan cepat menarik tangan Angga, menyuruhnya duduk dikursi yang sudah tersedia.
Acara sudah dimulai, wali kelas Dafa sudah memberikan sambutannya di hadapan semua orang di kelas itu. Dan saatnya pembagian raport dengan memanggil nama setiap anak sesuai absensi.
"Angga Pratama."
Saat nama itu disebutkan, Angga refleks berdiri dan maju kedepan kelas, namun disampingnya ada ibu dari Angga Pratama yang dimaksud, ibu itu berniat mengambil raport anaknya.
"Jadi, yang mana orang tua wali dari Angga pratama?" Tanya wali kelas (Bu Risma)
Angga baru menyadari jika dia melakukan kesalahan yang memalukan, dia berniat kembali duduk namun malah ditahan ibu tadi.
"Mas ganteng mau jadi calon papah dari anakku Angga? Wah… saya menerima dengan senang hati, saya janda loh Mas." Bisik ibu itu.
Seketika bulu kuduk Angga merinding, bisikkan itu lebih menakutkan dari makhluk halus, membuat Angga ingin menghilang seketika.
Astaga, dia kira aku brondong yang suka tante-tante apa? Pikir Angga
Sementara Dafa hanya tertawa dari kejauhan, membiarkan kakaknya terjebak di situasi yang memalukan itu, karena itu salah satu hiburan untuknya.
Kakak benar-benar lagi gak fokus, dia kira dia masih anak SD dan mengambil raportnya sendiri, hehe.. pikir Dafa
Angga dipaksa duduk di kursi yang tersedia untuk orang tua yang akan mengambil raport, tepat di depannya ada Bu Risma yang menatap heran.
Masih muda, ganteng, kok mau-maunya sama ibu-ibu gendut, menor, dan tua begitu, sayang sekali. Pikir Bu Risma
__ADS_1
"Ini rapot nya Bu, Pak. Anak kalian cukup berprestasi menempati peringkat kedua, harap ditingkatkan ya Bu, disemangati anaknya biar nilainya meningkat dan bisa di posisi pertama." Bu Risma
Kalian? Apa dia pikir aku benar-benar suami ibu ini. Pikir Andra
"Maaf Bu, saya walinya Dafa, saya akan membawa rapot adik saya." Angga
Seketika Bu Risma merasa bersalah karena menuduh yang macam-macam meski itu hanya dalam hatinya saja.
Wali kelas itu tersenyum kikuk.
"Oh begitu, Maaf Pak, eh Mas, hmmm… seharusnya diambil sesuai urutan absensi dan nanti saya akan memanggil satu persatu, namun karena terlanjur kedepan, ini rapot punya Dafa, adik Bapak , eh.. adik anda sangat pintar dan selalu berada diurutan pertama." Bu Risma
"Baik, terimakasih." Angga
Angga meninggalkan Bu Risma dan ibu menyeramkan tadi. Menemui Dafa yang sedang tertawa tanpa suara itu, mengejek Angga dari jauh.
"Ini rapot kamu." Angga
"Makasih Kak, hehe… padahal namaku masih uritan ke 7 loh kalau dipanggil Bu Risma." Dafa
"Hmm, harusnya kamu bilang dari awal..!" Angga
"Dafa itu Kakak kamu? Aku punya Kakak cewek, cantik loh, siapa tau Kakak kamu mau jadi Kakak aku juga, hehehe.." Wulan (teman Dafa)
"Iya Kakak aku, tampan Kan? Tapi dia memang masih jomblo, hehehe.." Dafa
"Dafa…" Angga
"Jomblo? Yaudah sama anak tante aja, dia cantik kaya saya ibunya, bagaimana?" Ucap Ibunya Wulan.
Hehe, kalau sama kaya ibu ini, bukan cantik dong, tapi… hmm astaga aku tidak boleh menghina sesama makhluk. Pikir Angga
"Maaf bu adik saya salah bicara, saya sudah mempunyai calon istri, maaf ya Bu, saya permisi." Angga
Ibu itu memperlihatkan wajah kecewanya, sementara Dafa yang ditarik keluar oleh Angga, dua hanya tertawa sepanjang jalan.
"Dafa… udah, jangan ketawa terus..! Kita pulang sekarang!" Angga
__ADS_1
"Tapi lucu Kak, hehe… emang calon istri Kakak yang mana sih?" Dafa
"Rahasia." Angga
Mereka menuju parkiran dan Angga dengan segera melajukan mobilnya, dia tidak ingin berlama-lama di tempat itu, karena lebih banyak ibu-ibu disana.
Satu ibu-ibu saja sudah membuatnya merinding, apalagi sebanyak itu. Hehe..
***
Sementara ditempat lain Gita sedang mondar mandir gak jelas, dia merasa gugup dan bingung.
Kak Angga kapan datangnya sih? Apa gue telpon aja ya? Pikir Gita
"Non, udah saatnya rapat bulanan ini dimulai, kasian mereka sudah menunggu lama." Pak Surya
"Tapi, bisakan rapat itu diundur Pak?" Gita
"Pak Angga sudah berpesan agar tetap melaksanakannya seperti biasanya, dan ini akan menjadi pelatihan rapat pertama buat Non Gita katanya." Pak Surya
Ok Gita, lo tenang..! Lo pasti bisa! Batin Gita
"Baiklah, aku akan mencobanya Pak." Gita
"Semangat Non..!" Pak Surya
Gita tersenyum sedikit, senyum yang dipaksakan karena dia juga merasa terpaksa memimpin rapat ini.
Dia berjalan sangat lambat, berharap ada keajaiban seperti kedatangan Angga atau Reza yang memberinya semangat juga dukungan, namun itu hanya angan-angan saja.
Sebelumnya pun Gita sudah beberapa kali menelpon Angga, berharap lelaki itu mengangkatnya dan datang ke kantor dengan cepat, namun Angga sama sekali tidak mengangkat telepon darinya. chatnya pun diabaikan, tak dibalas satupun.
Mana mungkin mereka datang, gue harus menghadapi ini, gue harus bisa!, bukannya gue akan memimpin perusahaan ini nanti. Pikir Gita
Gita berdiri didepan pintu ruangan Rapat, menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Dia memegang handle pintu dan membuka pintu itu perlahan.
Ceklek
__ADS_1
Bersambung...