
"Eh iya, kamu nanya apa Git tadi?." Hanna
"Itu foto-foto kak Angga waktu bayi mah, foto Gita kan ada, tapi kak Angga gak ada." Gita
"Oh, mamah lupa nyimpen Git, nanti mamah cari ya, emang buat apa?." Hanna
"Oh.. penasaran aja mah pasti lucu banget, tadi Gita ketemu anak kecil masa mirip banget sama kak Angga, pas liat papanya juga mirip kak Angga kalau udah tua kayaknya mukanya gitu deh, hehehe.." Gita
Deg
Apa itu keluarga kandung Angga? Tapi kenapa mesti sekarang, kenapa gak muncul dari dulu? Pikir Hanna
"Oh, kebetulan kali Git, kamu liat dimana, sempet kenalan gak? Namanya siapa?" Hanna juga penasaran.
"Iya kali mah kebetulan, ya udah gak usah dibahas mah. Gita mau ke kamar mau mandi gerah nih." Gita
Gita pergi ke kamarnya, namun Bu Hanna malah meneteskan air matanya saat melihat Foto Angga ketika berumur 9 tahun itu.
Angga, kamu anak mamah, cuma punya mamah Hanna. Batinnya
Bu Hanna menemui suaminya, menceritakan kembali apa yang diceritakan Gita. Namun Baskoro bersikap tenang.
Lelaki itu memang menyayangi Angga, namun ada yang lebih berhak darinya. Jika memang Angga ditakdirkan bertemu keluarga kandungnya, maka Baskoro tidak bisa menahan anak itu lagi.
Dia tidak mau egois, harus mendengarkan penjelasan dari orang tua Angga terlebih dahulu, alasan mereka meninggalkan anak itu di panti asuhan.
Jika memang bukan karena kesengajaan, tentu Baskoro akan dengan senang hati mengembalikan Angga. Dia berpikir mungkin selama ini orang tua Angga juga merasa menderita kehilangan anak itu.
"Dimana Gita bertemu orang itu mah, siapa namanya? Nanti papah akan mencoba mencari tahu." Baskoro
"Jangan pah..! Mamah gak rela." Hanna
"Tapi mah, kita tidak boleh egois, Angga juga akan selalu jadi anak kita meski nantinya kita berpisah." Baskoro
Bu Hanna menangis sejadi-jadinya. Dia tak kuasa membayangkan jika dia harus mengembalikan Angga pada keluarga aslinya.
Dikamar Gita membayangkan anak kecil tadi, "ah paling kebetulan, bukannya didunia ini ada orang yang sangat mirip meski tidak satu keluarga." Ucapnya pelan.
Tapi.. kak Angga kok gak mirip ya sama gue, sama mamah sama papah pun gak mirip. Pikirnya
"Udah ah pusing, gak usah mikirin hal yang gak penting Gita..! Pikirin aja 2 hari lagi Lo akan tunangan." Ucap Gita pada dirinya sendiri.
Dia mengambil handphone nya menelepon Reza namun tidak diangkat sama sekali.
Sibuk apa sih dia? Pikirnya
__ADS_1
Sore itu Gita mandi, namun malah tertidur di ranjangnya. Hingga dia terbangun saat mendengar suara familiar di telinganya.
Gara-gara mikirin Reza gue sampe ngerasa ada suaranya di rumah ini, benar-benar konyol.. hahaha, gue inget saat gue mendengar tangisan bayi di kamar mandi, padahal c gemoy lagi tidur pulas. Batin Gita
Gita menghiraukan suara itu, karena sedari tadi Reza memang sulit dihubungi, dia mengira itu hanya perasaannya saja. Gita memaksa tubuhnya bangun karena lapar, bahkan rambut yang masih acak-acakan.
Dia keluar dari kamarnya, berjalan dengan santai, namun dia terkejut saat melihat penampakan asli pacarnya itu.
"Reza.." Gita
"Hahaha… " Reza tak kuasa menahan tawanya melihat pacarnya itu bangun tidur, rambut yang mengembang dan mata yang belum terbuka sempurna, namun tiba-tiba melotot saat melihat Reza, ekspresi yang sangat lucu menurut Reza.
Gita yang menyadari penampilannya, dia langsung berlari masuk ke kamarnya.
Memalukan, memalukan kamu Gita. Pikir
Gita dia begitu menyesal, kenapa dia bisa berpikir jika suara tadi hanya salah dengar.
"Ada apa Za? Ada yang lucu?." Tanya Angga
"Gak ko, bukan apa-apa." Reza
Mereka Pun duduk membahas handphone yang sempat rusak itu. Angga memeriksa satu persatu data di dalam handphonenya.
Beruntung semua datanya ada, hingga Reza merasa sangat lega.
Selama menunggu makan malam yang sedang dimasak khusus oleh Bu Hanna, Reza memilih bermain game bersama Angga tanpa Gita.
Karena jika gadis itu bergabung maka mereka akan dipermalukan oleh gadis itu.
"Jangan ajak Gita Za, dia selalu menang, biar kita aja yang main..!" Angga
"Ok.." Reza
Lagipula gue juga gak mau, masa gue kalah terus, malu lah.. mending ngelawan kakak nya aja, kayaknya sama nih level gue sama dia. Hehe. Batin Reza
Gita merasa kesal dia sudah berganti pakaian dan berdandan cantik namun Reza mengabaikannya, pacarnya itu lebih memilih main bersama Angga, bahkan Angga mengunci pintu kamarnya, diketuk pun, pintu itu tidak terbuka, membuat gadis itu semakin kesal.
Menyebalkan. Keluh Gita
Makan malam pun terasa canggung, karena Gita diam sepanjang acara makan itu, dia hanya menjawab seperlunya saja mengingat perlakuan Reza dan kakaknya itu.
Namun dia teringat tentang kejadian konyol Angga ketika mengantar Nisa, membuatnya menceritakan kejadian itu penuh semangat.
Angga menjadi bahan tertawaan semua orang membuatnya membulatkan matanya pada Gita, kini Angga yang diam, dia merajuk dan tak mau diajak bicara.
__ADS_1
Bu Hanna yang melihat kejahilan antara adik dan kakak itu seketika meneteskan air matanya, ia tidak mau jika harus kehilangan Angga, kehilangan keseruan keluarga mereka, ketika Angga ke luar negri pun keluarganya terasa sepi. Tidak ada pertengkaran antara adik kakak itu.
***
Di rumah Reza, Bu Maya kedatangan tamu lagi, ya.. Jani yang ingin menjemput Kirana namun dengan memaksa gadis itu. Membuat kirana takut dan bersembunyi.
"Kemana Kirana mba? Dia kok tidak ada dikamarnya?" Jani
"Tadi kan ada dikamarnya, mungkin lagi ditoilet." Jawab Maya dengan santai.
"Aku mau bawa pulang dia sekarang juga mba." Jani
"Ini kan udah malam, besok saja biar aku yang mengantarkannya." Maya
"Tidak, aku mau malam ini." Jani
"Kenapa kamu begitu memaksa, oh iya aku perlu bicara empat mata denganmu Jani." Maya
Maya menyeret tangan Jani, membawanya ke tempat yang sedikit aman agar Kirana tidak bisa menguping.
"Ada apa mba?" Jani
"Mba langsung aja ya, sebenarnya Jani anak kamu bukan? Sepertinya tidak ada rasa kasih sayang seorang ibu dari kamu buat kirana." Maya
Deg
Jani merasa terkejut, namun sebisa mungkin dia tenang.
"Kirana memang anak Mas Aldi mba, coba aja tes DNA bila perlu." Jani
"Iya aku tidak meragukan Aldi, karena aku melihat dia begitu menyayangi Kirana, tapi kenapa kamu berbeda? Apa kalian punya masalah?" Maya
"Tidak ada masalah, sudahlah mba itu hanya perasaan mba saja." Jani
Jani melangkahkan kakinya pergi namun Maya menahannya.
"Tapi… Kirana juga merasakan keanehan itu, dia bilang dia tidak mirip denganmu dan juga Aldi, bahkan dia mengeluh karena perlakuanmu yang seakan tak peduli." Maya
Jani menunduk, "Itu sudah yang terbaik yang bisa aku lakukan mba, dia sudah beruntung dengan kasih sayang yang aku berikan meski itu sedikit."
Jani berlalu pergi dia tidak mau menangis didepan kakak iparnya itu.
Kirana yang sempat menguping dia bertanya tanya tentang kalimat terakhir ibunya itu.
Apa maksudnya? Beruntung dengan kasih sayang yang sedikit? Pikir Kirana
__ADS_1
Bersambung...