Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Melepas Kepergian Angga


__ADS_3

"Kok di Kampus? Sekarang aja Git, emang Kakak gak boleh tahu?" Angga


"Nggak, ini masalah wanita." Gita


"Hmmm…" Angga


Akhirnya mobil itu sampai di Kampus, kedua gadis itu turun secara bergantian, sementara Angga langsung menuju kantornya.


Sementara dua gadis itu menuju taman dan duduk di bangku yang ada disana.


Kirana merasa tegang, dia merasakan aura dingin, dia takut jika syarat yang diberikan oleh Gita itu sulit untuk dilakukan.


"Kamu tahu setelah kamu mengatakan mau menjadi pacar kak Angga?" Gita


"Nggak, memangnya kenapa kak?" Kirana


"Nisa, temen aku yang ada diantara kita waktu itu, dia begitu menyukai kakak, lalu karena candaan ku yang berakhir kalian jadian, membuat dia marah padaku, aku bahkan seharian dibuat pusing, membujuk dia, rela melakukan apapun, itu melelahkan dan bikin stress Kirana." Gita


"Emm.. jadi itu masalahnya, aku gak bermaksud bikin kalian marahan." Kirana


"Maka dari itu sekarang kamu harus bantuin aku..!" Gita


"Bantu apa?" Kirana


"Kamu harus bantu deketin kak Angga sama Nisa..! siapa tahu mereka cocok." Gita


"Oh gitu, iya akan aku usahakan Kak." Kirana


Kirana pergi setelah mendengar penjelasan Gita, dia masih memiliki kesibukan lain, sebenarnya hari ini dia ingin libur kuliah dan menunggu Jani yang masih lemas di rumah, namun dia tidak bisa melewatkan materi kuliah hari ini.


Sementara Gita masih duduk ditempat yang sama, menunggu kedatangan sahabatnya itu.


Saat sore hari mereka pulang bersama Kirana, Gita dan Nisa.


Kirana mengirim pesan kepada Angga untuk menjemput mereka dan mengantarnya ke bioskop.


Angga yang masih berpakaian rapi, memakai jas hitam, dia menjemput para gadis itu, mengantar ke tempat yang mereka mau.


Saat memilih kursi, mereka (Gita dan Kirana) sengaja memberi nomor kursi yang berdampingan untuk Angga dan Nisa.


Angga tidak masalah dengan hal itu, dia hanya menemani, bahkan tidak menyukai film yang mereka pilih.


Sementara Nisa, dia senang namun rasa itu berubah menjadi biasa aja saat menyadari jika Angga menyukai Kirana. Dia tidak ingin menjadi orang ketiga.


Saat fokus menonton, Kirana malah berbisik-bisik dengan Gita yang duduk bersebelahan, sementara Angga bingung harus mengajak ngobrol apa pada gadis disampingnya itu.


"Hei, kalian ngomongin apa, ko bisik-bisik gitu?" Angga bertanya kepada dua adiknya, namun mereka mengabaikan dirinya.


"Ssttt… ini bioskop jangan berisik kak..!" Nisa

__ADS_1


"Eh, iya maaf." Angga


Nisa tidak enak hati saat melihat tatapan tajam beberapa orang didepannya karena Angga berbicara lumayan keras.


Setelah selesai menonton, Angga mengantar ketiga wanita itu berbelanja, namun entah mengapa Angga merasa ada yang aneh, kedua adiknya itu sangat lengket, bergandengan kesana kemari.


Udah kaya prangko aja, nempel banget, bukannya tadi pagi Gita masih marah pada Kirana? Kenapa sekarang sudah seperti besti? Pikir Angga


"Kakak kenapa?" Nisa


"Gapapa, liatin mereka gak ada capeknya, kakak haus, apa kamu mau minum juga? Berhenti dulu yu disana..!" Angga


"Boleh, aku juga capek." Nisa


Mereka memesan minuman, duduk sejenak sambil melepaskan penat.


"Kak, bagaimana hubungan Kakak dengan Kirana? Apakah sudah mulai serius?" Nisa


Karena Gita sudah tahu semuanya, jadi Angga tidak menutupi apapun kali ini.


"Oh itu, lucu sih, sebenarnya Kirana itu adik Kakak, kami satu ibu, dan Kakak sebenarnya hanya angkat di keluarga Baskoro." Angga


"Apa? Serius Kak? Lalu waktu itu kalian pacaran, apa maksudnya?" Nisa


"Ah itu, hanya ide Kirana yang awalnya ingin menutupi hubungan kami yang sebenarnya, dan dia ingin Gita tidak curiga kalau kami sering bertemu dan dekat, lagipula Kirana itu tidak suka pacaran, dia memang terbaik." Angga


"Oh gitu." Nisa


Ya, Kirana memang terbaik, jika Kak Angga lebih suka wanita seperti itu, aku akan berusaha menjadi seperti Kirana. Batin Nisa


Saat mereka asyik mengobrol, tidak jauh dari sana Kirana dan Gita bersorak senang karena berhasil mendekatkan dua insan itu.


Setelah puas berbelanja, mereka pulang, Angga mengantar mereka satu persatu dan berakhir di rumah Gita, ya dan juga masih rumah Angga saat ini.


Mereka datang disambut oleh Hanna, langsung disediakan makanan enak buatannya.


Angga terlebih dahulu menyudahi makannya, dia menuju kamar untuk berganti pakaian, dia juga mendiamkan diri sejenak karena akan mandi.


Sementara di ruang makan, Hanna bertanya pada anak gadisnya dengan hati-hati.


"Git, kamu sudah tahu tentang Angga?" Hanna


"Iya mah, kenapa disini hanya aku yang tidak diberitahu?" Gita


"Maafkan mamah, mamah gak bermaksud begitu." Hanna


"Iya gapapa kok mah, aku memahaminya, hanya saja masih kesal masalah pacaran sama Kirana itu mah." Gita


"Memangnya kenapa?" Hanna

__ADS_1


Gitapun menceritakan kesialan yang terjadi padanya saat tragedi itu, dimana Nisa merajuk, dan Gita mati-matian meminta maaf dengan segala cara bahkan membuatnya stres karena Nisa susah dibujuk.


"Hahahaha… jadi seperti itu, aduh perut mamah sakit sayang." Hanna


"Ah mamah mah malah seneng, Gita mau ke kamar aja ngilangin rasa kenyang, terus mandi deh." Gita


Gadis itu bangkit dan melangkah pergi, karena ibunya masih saja menertawakan dirinya, membuatnya semakin kesal.


***


Saat malam tiba, ternyata ada tamu yang datang, bocah itu berlari memeluk Angga.


"Kak, malam ini menginap dirumah Dafa ya?" Dafa


"Hmm.. boleh, nanti ya minta izin dulu sama mamah Kakak." Angga


"Boleh kok kalau kamu memang mau, kasian Dafa sampe sengaja datang kesini." Hanna


"Maaf ya bu, saya jadi gak enak malam-malam bertamu dan membawa Angga juga." Pak Andra


"Hehe.. gapapa kok, mau dibungkusin sekalian Pak, sebelum dibawa pulang?" Hanna


"Memangnya aku paket mah pake dibungkus segala?" Angga


"Hahaha… karungin aja mah!" Gita


Dafa merengek ingin tidur ditemani Angga, membuat Pak Andra terpaksa datang meminta izin secara langsung.


"Kalian mirip sekali, Angga besar dan Angga kecil." Gita


"Sama-sama tampan 'kan Kak?" Dafa


"Iya sih, tapi lebih gemesin kamu, kalau Kak Angga sih nyebelin. Hehehe.." Gita


Perkataan Gita membuat semua orang tertawa, kecuali Angga sendiri, dia tidak terima dijelek-jelekin.


Malam itu Gita dan Hanna untuk pertama kalinya seperti melepas Angga yang akan pergu jauh, mereka tersenyum namun setelah Angga pergi mereka kompak menghembuskan napas kasarnya.


Suasana rumah yang mendadak terasa sepi, mereka membayangkan jika Angga benar-benar pergi, pindah rumah mengikuti orang tuanya.


"Angga pasti lebih betah disana ya Git?" Hanna


"Kenapa bisa begitu mah?" Gita


"Karena, disana dia punya adik menggemaskan, tidak seperti disini." Hanna


"Maksud mamah apa? Aku tidak menggemaskan, aku nyebelin, tukang bikin onar, Kaya preman? kak Angga selalu bilang begitu, ish… mamah sama aja, nyebelin.." Gita


"Hahaha…" Hanna

__ADS_1


Ibu itu tertawa lepas, sementara gadis itu pergi menuju kamarnya dengan keadaan kesal. Namun setelah itu keadaan rumah kembali sepi, bahkan Hanna dan Gita menangis sebelum mereka tertidur.


Bersambung…


__ADS_2