
Hari yang mulai sore membuat Maya memilih pulang, dia dijemput oleh suaminya Sanjaya.
Sanjaya yang terlanjur geram dengan Aldi, dia sudah tidak ingin berurusan dengan lelaki itu, dia berniat menasehati adiknya agar mau berpisah dengan Aldi.
Sanjaya menelepon Jani, dia berencana menjenguk adiknya itu besok pagi.
"Jani, bagaimana kabarmu? Maaf Abang belum bisa jenguk kamu, besok pagi Abang akan melihat kondisimu." Sanjaya
"Gapapa ko, aku baik-baik saja." Jani
"Kamu selalu seperti itu, harusnya kamu cerita disaat kamu ada masalah jangan dipendam sendirian..! Bahkan kakakmu ini tidak tahu jika rumah tanggamu tidak bahagia." Sanjaya
"Aku memang tidak apa-apa Bang, aku hanya mengkhawatirkan Kirana." Jani
"Ya.. nanti aku dan mbak mu akan mencari tahu siapa yang menculik Kirana, bahkan kasus ini sudah dilaporkan." Sanjaya
"Mudah-mudahan Kirana cepat ketemu." Jani
"Jani.. jika kamu tidak bahagia lepaskanlah..! Abang mu ini akan mendukungmu." Sanjaya
"Hmm.. iya nanti aku pikirkan lagi, makasih Bang." Jani
Telepon itu ditutup oleh Jani, wanita itu seakan tidak ingin membahas masalah rumah tangganya.
Dia merasa berat melepaskan lelaki yang dicintainya itu.
Apakah pengorbananku selama ini sia-sia? Batin Jani
Berkali-kali Jani dikecewakan lelaki itu, namun dia tidak mampu pergi, mungkin jika dia kecewa lagi itu akan menjadi kekecewaan yang terakhir, hingga dia bisa melepaskan lelaki itu, Jani memberikan 1 kesempatan lagi untuk Aldi.
***
Reza dan Angga masih tidak habis pikir bagaimana bisa rumah ini dimasuki penculik itu dengan mudah.
Kalau saja malam itu gue bangun dan menyadari kejadian itu, udah gue bikin pingsan itu semua penculiknya. Pikir Gita
"Git, kamu kenapa melamun tapi ekspresimu seperti marah?." Angga
"Kesel aja kak, kalau aja Guta tahu, udah dibikin tahu bejek itu pencuri." Gita
"Hahaha.. kakak jadi lapar, tapi bener juga sih kalau kamu bangun pasti mereka kalah, kamu sih tidur kok kayak orang mati, gak kedengeran orang gaduh apa?, Kan kamar kamu sebelahan sama kamar Kirana?." Ejek Angga
"Astaga kakak, aku tidak punya firasat apapun, aku juga tidak punya pendengaran super kaya alien di TV TV." Keluh Gita
"Alien? Kebanyakan nonton drakor kamu Git." Angga
"Biarin.." Gita
"Aku juga masih ingat waktu kamu ngalahin banyak preman pake rok lagi, lucu tahu. Hehe." Reza
Mereka malah bercanda menggoda Gita, sampai tak terasa sudah malam, Reza pun pamit pulang.
***
Pagi ini keluarga Baskoro beraktivitas seperti biasanya, meski mereka masih mengkhawatirkan Kirana yang belum ketemu, namun mereka tetap harus melakukan kegiatannya.
Angga yang sibuk dengan bisnis-bisnisnya, Gita yang sibuk dengan kuliahnya yang sedang dalam pase semester akhir.
Seperti biasa Reza menjemputnya, pria itu sebenarnya tidak suka naik motor karena panas dan pegal, namun demi pacarnya itu dia pergi mengantar Gita menggunakan motor barunya itu.
__ADS_1
"Ayo naik..!" Reza
"Nah gitu dong, pake motor biar tambah gagah.hehe." Goda Gita
"Bener nih? Makin cinta dong?." Reza kembali menggoda pacarnya itu
"Hmm.. ayok, udah siang nih takut telat..!" Gita, dia langsung naik ke motor Reza.
Reza hanya tersenyum, wanitanya itu selalu saja menghindar dari pertanyaan yang menyangkut perasaan dan isi hati.
Mungkin dia malu, tapi itu lucu. Pikir Reza
Reza membawa motornya sedikit kencang agar Pacarnya itu mau memeluknya lebih erat.
Pletuk…
Helm Reza diketok dengan keras oleh Gita, bukannya mendapat pelukan, pria itu malah kaget dengan aksi Gita.
Dia pacar gue bukan sih? Gak ada romantis-romantisnya. Batin Reza
"Jangan ngebut dong Za..!" Teriak Gita saat dibonceng.
Reza akhirnya memelankan laju motornya bahkan snagat pelan.
"Kalau pelan gini, kapan nyampenya Za?." Protes Gita
"Ya udah kamu aja yang bawa." Ucap Reza yang berniat bercanda saja, namun Gita menanggapinya secara serius.
"Ya udah kamu turun..!" Perintah Gita
"Aku? Turun?." Reza berharap dia salah mendengar.
Reza seakan di hipnotis Gita, dia menuruti semua perkataan gadis itu, dan pada akhirnya dia yang dibonceng oleh pacarnya itu dengan laju kendaraan sedang.
Ingin rasnya Reza berteriak untuk menyuruh Gita lebih kencang, bahkan dia juga ingin mengetuk helm gadis itu, namun dia tidak berani.
Mau marah tapi sayang, ahh sudahlah gue ngalah aja. Batin Reza
Reza yang berada di belakang, malah dengan sengaja memeluk Gita, membuat gadis itu malu, bahkan kalau helm itu dibuka dia sedang tersenyum-senyum sendirian.
Akhirnya motor mereka sampai di depan gerbang kampus, membuat mereka menjadi bahan tontonan orang-orang, bagaimana tidak karena cowoknya dibonceng si cewek. Hehe
Namun Gita mengabaikan tatapan-tatapan itu, dia turun dan melambaikan tangannya pada Reza.
Reza yang malu, dia dengan segera pergi melajukan motornya dengan kencang.
Sabar Za, dia pacar lo, sabar..! Batin Reza
***
Angga yang sedang sibuk dengan banyaknya dokumen yang harus ia baca dan pelajari, membuatnya pusing, apalagi jika teringat Kirana yang hilang.
"Astaga, aku butuh sesuatu yang membuatku rileks.." keluh Angga
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
"Masuk.." Angga
"Pagi Pak Angga.." Pak Damar
"Ah iya, pagi.. ada apa ya?." Tanya Angga, dia lupa jika kemarin dia mengerjai Bapak itu.
"Ini pak, saya sudah merevisi proposal yang waktu itu." Pak Damar
"Oh, iya.." Angga
Angga melihatnya sekilas, membuka dokumen itu cuma sebagian saja, karena ia lagi pusing dan tidak mau membebani pikirannya lagi dia menyetujui proposal itu.
"Ok, sudah bagus Pak, saya akan segera memprosesnya." Angga
"Terimakasih Pak Angga, kalau begitu saya permisi dulu." Pak Damar
Angga kembali berpusing-pusing lagi dengan pekerjaannya.
Pak Damar yang baru keluar dari ruangan Angga, didatangi asistennya. Memberitahu jika proposalnya tertukar, proposal yang diberikan itu proposal yang belum direvisi.
"Tapi, dia menyetujuinya." Ucap Pak Damar heran.
Sampai dimana dia mulai menyadari jika dia dipermainkan oleh anak Baskoro itu.
Astaga, apa dia benar-benar dendam padaku karena waktu itu?. Pikir Pak Damar
***
Sanjaya dan Maya pergi menjenguk Jani, mereka berharap kondisi wanita itu membaik dan bisa cepat pulang.
Namun saat mereka akan masuk, mereka mendengar suara Aldi, suaranya cukup keras membuat mereka bisa mendengarnya.
Mereka berdiam diri sejenak untuk menguping dan mencari tahu sifat asli Aldi.
"Bilang pada kakakmu Maya, jangan melaporkan masalah hilangnya pada polisi, itu akan sia-sia." Aldi
"Kenapa bisa begitu Mas?." Jani
"Buat apa mereka melapor, jika yang membawa Kirana pergi itu aku, ayahnya. Dan aku berhak melakukan itu, bilang pada mereka jangan sok ikut campur..!" Aldi
"Hahaha.. Kirana akan aman bersamaku, kalian jangan khawatir..!" Aldi
"Kamu gak boleh memaksa Kirana Mas, kasian dia..! Biarkan dia sendiri dulu, nanti juga dia akan memaafkan kita, kembali kepada kita, tidak perlu sampai menculiknya juga kan Mas? Dan jangan bilang kalau kamu mengurungnya?." Jani
"Dia anakku, aku berhak melakukan apapun padanya, kau tidak berhak, kau bukan ibunya, jadi jangan so peduli padanya..!" Aldi
"Satu lagi, aku akan segera menceraikanmu." Aldi
"Iya Mas aku terima, aku juga sudah lelah menghadapi sikapmu." Jani
"Baguslah, aku pergi, dan mulai sekarang jangan ganggu aku atau Kirana!" Aldi
Maya dan Sanjaya benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan Aldi, bisa-bisanya membawa Kirana secara paksa. Dan lelaki itu begitu emosi atas perlakuan Aldi terhadap adiknya, dia dengan segera membuka pintu itu, menghampiri Aldi dan.
Pukulan keras itu berhasil mendarat di pipi kanan dan pipi kiri Aldi.
Bruk...
Bersambung...
__ADS_1