
"Emm.. Aldi terjerat kasus penipuan, perusahaannya juga ada yang beroperasi secara ilegal, dia juga pengguna narkoba." Maya
"Astaga separah itu mah?" Reza
"Iya." Maya
"Aku bersyukur Kirana bisa pergi dari om Aldi, ternyata om Aldi bukan ayah yang baik untuk Kirana, tapi aku sekarang jadi kasihan padanya." Reza
"Iya, kalau Kirana mau, dia bisa tinggal disini, mamah pasti senang sekali, boleh kan pah?" tanya Maya.
"Boleh karena si Aldi sudah tidak bisa melakukan apapun, tapi lebih baik gadis itu menemani Jani saja, sampai Jani menemukan pendampingnya." Sanjaya
"Benar juga pah, apa mamah carikan pasangan buat adik kamu pah?" Maya
"Gak usah mah, nanti juga datang jodoh yang terbaik." Sanjaya
Reza, Maya dan Sanjaya pergi tidur untuk mengembalikan tenaganya yang hilang. Mereka sangat kompak tidur di pagi hari. Hehe
***
Karena mendapat kabar Aldi masuk penjara, Jani menyuruh Kirana datang ke Rumah Sakit, dan tentu saja gadis itu merasa senang, meski hati kecilnya merasa sedih mendengar kabar buruk tentang papanya.
Kirana mengetuk pintu, lalu mendorong pintu itu, melihat sekeliling kamar dan ternyata tante Jani sedang makan siang.
"Masuklah.., Kemari Kirana..!" Jani
Gadis itu masuk dengan langkah pelan, bahkan dia ragu untuk menemui Jani. Dia duduk di kursi yang berada di dekat ranjang.
"Apa kamu mau menjenguk papamu juga?" Jani
"Emm, mau mah, tapi nanti saja diantar kak Reza." Kirana
"Setelah Aldi masuk penjara, apa kamu masih mau tinggal bersama mamah?" Tanya Jani
"Maafin Kirana ya mah, selama ini mamah pasti benci dengan kehadiranku." Kirana
"Sudahlah, itu sudah berlalu, mamah sekarang bisa menerima kamu sepenuh hati, maafkan mamah juga karena memperlakukanmu kurang baik, padahal kamu tidak punya salah apa-apa sama mamah." Jani
Kirana tersenyum, dia merasa lega karena beban dan rasa bersalahnya seakan hilang, dia menganggap wanita itu ibunya sampai saat ini masih tetap ibunya.
Karena tidak ada lagi keluarga yang dia miliki saat ini, dia bersyukur dengan kehadiran Jani yang mau menerimanya, Kirana kini merasa kehidupannya akan lebih baik, perlakuan Jani juga pasti akan berbeda dari sebelumnya, gadis itu begitu rindu kasih sayang seorang ibu.
Tok
Tok
Tok
"Siapa? Coba Kirana lihat dan biarkan orang itu masuk..!" Jani
__ADS_1
Baru saja Kirana berdiri dari tempat duduknya, Angga sudah masuk terlebih dahulu, dia tersenyum pada semua orang disitu.
"Tante, apa kabar? Ini saya bawakan beberapa buah-buahan dan juga cake." Angga
"Ternyata anak tampan,hehe… makasih loh ngerepotin segala, pasti mau sekalian ketemu Kirana ya?" Goda tante Jani.
"Hehehe.. ah tante bisa aja, saya ada perlu sama tante, bicara 4 mata boleh kan?" Angga
"Wah.. mau ngelamar nih ceritanya?" Canda Jani.
Kenapa bisa salah paham seperti ini? Padahal bukan itu maksudku. Pikir Angga
"Gak tante, Kirana kan baru aja kuliah.hehe.." Angga
Kirana yang mendengar candaan ibunya itu merasa malu, dia senang jika didekat Angga, merasa nyaman, tapi dia tidak tahu apakah itu memang rasa cinta, hanya rasa kagum atau yang lainnya, dia belum bisa memastikan itu.
"Aku tunggu diluar dulu ya mah?" Kirana
"Iya, jangan pulang dulu ya..!" Jani
Kirana mengangguk pelan dan melangkahkan kakinya keluar ruangan itu.
Angga dan Jani berbicara serius, mereka membahas tentang Kirana, Jani awalnya bingung, namun dia sedikit demi sedikit bisa memahami apa yang dibicarakan anak lelaki itu.
Jani menyetujui permintaan Angga, dia bahkan mendukung penuh apa yang dilakukan anak lelaki itu, karena Jani juga ingin melihat Kirana bahagia.
"Kirana sepertinya ingin menjenguk papanya di sel tahanan." Jani
"Boleh, tante percayakan dia padamu." Jani
Angga memanggil Kirana masuk, lalu mengajaknya ke kantor polisi, karena ibunya juga mengizinkan, akhirnya gadis itu pergi bersama Angga.
Angga merasa senang gadis itu mau pergi bersamanya, sebelum mereka menemui Aldi, Angga mengajak gadis itu untuk makan siang dulu, lelaki itu merasa lapar dan ingin makan bersama Kirana.
Awalnya Kirana hanya ingin menemani makan saja karena tidak enak hati, namun karena Angga memaksa akhirnya gadis itu pun ikut makan.
"Makan aja, kalau lapar jangan ditahan-tahan..! hehe.." Angga
Kirana hanya tersenyum kecil, melihat Angga makan dengan lahap membuatnya ikut merasa senang. Ada rasa tertarik dan peduli dari hati Kirana untuk Angga.
"Pelan-pelan kak, nanti tersedak..!" Kirana
"Iya, kamu juga makan yang banyak..! Bagaimana bisa kuat kalau makan cuma dua suap." Angga
Angga menambahkan nasi di piring Kirana, dia juga menambahkan beberapa lauk pauk.
"Kakak…" keluh Kirana
"Jangan teriak, tapi makan Kirana..!, gak usah takut gemuk, kamu kalau gemuk makin menarik." Angga
__ADS_1
Kenapa kak Angga bilang begitu? Menarik? Apa iya? Pikir Kirana
"Aku hanya tidak terbiasa makan banyak kak, perutku gampang kenyang." Jawab Kirana
Setelah selesai makan, Angga membayar makanannya di kasir, sementara kirana menuju parkiran terlebih dahulu karena antriannya yang sedikit panjang.
"Nona, bisakah mobilmu dikeluarkan terlebih dahulu, karena itu mobilmu sedikit menghalangi mobilku..!" Pak Andra
Saat Kirana menoleh, wajah Pak Andra berubah memucat, dia seakan melihat hantu, bahkan tubuhnya sempat oleng namun ditahan oleh Angga yang baru datang.
"Pak, anda tidak apa-apa? Apa perlu kita kerumah sakit?" Angga
Saat Pak Andra menoleh ke sumber suara, dia juga terkejut melihat wajah Angga.
Apa aku sedang berada di alam mimpi? Pikir Andra
Bapak itu seakan melihat dirinya ketika masih muda dan melihat seorang gadis yang mirip dengan wanita yang telah dianggapnya mati.
"Pak, biar kita antar ke klinik saja, bagaimana?" Kirana
"Tidak usah nak, anak saya menunggu di dalam mobil, sebaiknya mobil ini dikeluarkan terlebih dahulu." Pak Andra
"Oh, baiklah, kak Angga ayo keluarkan mobilnya..!" Kirana
Angga masih melamun, setelah melihat wajah Bapak itu, namun perintah Kirana membuatnya sadar.
"Iya, biar saya keluarkan dulu ya Pak." Angga
Pak Andra mengangguk pelan, dia berpegangan pada mobil lain yang terparkir di sana, dia masih merasa kaget.
Setelah Angga mengeluarkan mobilnya yang menghalangi mobil Andra, dia menepikan mobil hitamnya, lalu turun dari mobil dan menghampiri bapak tadi.
"Pak, perkenalkan nama saya Angga, nama Bapak siapa?" Angga
"Andra, panggil saja Pak Andra." Andra
"Baik, sekali lagi maaf ya pak, bisakah saya meminta nomor ponsel Bapak?" Angga
Apa mungkin dia anakku yang hilang? Aku berikan saja nomor ponselku, siapa tahu nanti aku membutuhkannya. Pikir Andra
Mereka Pun saling bertukar nomor handphone, karena mereka memang sama-sama merasa penasaran.
"Pah, ayo cepat kita pulang..!," teriak Dafa, bahkan kepalanya keluar dari jendela mobil untuk memanggil Pak Andra yang lama sekali.
"Iya nak sebentar." Pak Andra
"Anak itu.." Angga
"Kenapa dengan anak saya?" Pak Andra
__ADS_1
Bersambung...