
Ratu mondar-mandir di kamarnya, ia merasa gelisah jika surat itu sampai.
"Haruskah aku menyusul pengawal tadi dan mengambil surat itu, tapi itu tidak mungkin karena pasti pengawal itu sudah pergi jauh, huh.." Keluh Ratu.
"Semua ini gara-gara kamu Sani." Ratu menatap tajam ke arah Sani
"Emm.. bukankah tadi Ratu yang memerintah saya untuk membalas surat itu, lagi pula menurut saya surat itu sangat wajar antara suami istri, Ratu tidak usah khawatir..!" Sani menjelaskan
"Tetap saja, aku merasa khawatir nanti disaat Deon pulang."
"Apa yang dikhawatirkan? Justru Ratu harus senang menyambut suami datang, iya kan?"
"Iya.. iya, lebih baik kamu perintahkan koki istana untuk membuatkan mie Ramen pedas untukku, aku merasa pikiranku sedang kacau dan butuh makanan pedas, ingat dua porsi ya..!"
"Baik Ratu."
* *
Selir Mey mendapatkan pemeriksaan dan tabib istana memberinya beberapa obat-obatan.
"Sepertinya dalam beberapa hari lagi nyonya akan sembuh, nyonya tidak usah khawatir."
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu, aku akan meminum obat ini dengan benar."
"Kalau begitu saya permisi nyonya."
Setelah sang tabib pergi meninggalkan kamar Selir Mey, mulai terpikir oleh selir Mey jika ia tidak punya banyak waktu untuk membuat rencana.
Rizad datang mengunjungi selir Mey hanya sekali dalam sehari, karena penjagaan sangatlah ketat.
Sebenarnya beberapa hari yang lalu saat selir Mey masih berada di dalam penjara, ia sempat menyuruh Rizad membawakan jenis racun yang berasal dari bunga yang dosisnya rendah untuk mengelabui semua orang.
Selir ingin menghirup udara segar, karena ia benar-benar tidak tahan mencium bau lembab, terkadang tercium bau busuk dan tentu banyak kecoa di sana, belum lagi cuaca yang dingin dimalam hari serta tidak ada selimut, membuat ia rela meminum racun itu.
"Rizad, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak ingin kembali ke dalam penjara." Keluh selir Mey
"Hmm.. aku belum punya rencana Mey, tunggulah dulu, aku akan berusaha mencari jalan keluar. Jika memang kamu kembali ke tahanan setidaknya kamu harus bertahan sampai Raja Deon datang..!"
__ADS_1
"Aku tidak mau, aku tidak sanggup tinggal disana Rizad, aku juga tidak tahu kapan Deon kembali."
"Tapi.. kasus ini berat, ditambah ada peran ibu Suri di dalamnya."
"Hhhuuhhhh.. sudahlah kamu keluar saja, dan jangan kembali jika belum mendapatkan solusi..!"
Rizad melangkahkan kakinya keluar dengan sedikit ragu-ragu. Ia berpikir kenapa Mey begitu keras kepala dan benar-benar tidak menyadari kesalahannya, Rizad juga menyadari jika Mey sudah terlanjur menuju jalan yang salah dan tidak bisa berbalik arah. Kini Rizad hanya bisa berusaha untuk selalu disampingnya.
Setelah Rizad benar-benar pergi, selir Mey membaringkan badannya diatas ranjang dan menyelimuti seluruh badannya, ia meratapi nasibnya saat ini.
* *
Ratu yang bosan menunggu mie Ramen yang lama datang, ia mencoba membaca surat tadi, surat yang ditulis Sani.
# # #
Salam Rindu untuk yang mulia Raja.
Aku baik-baik saja disini, tidak usah terlalu khawatir yang mulia. Calon bayi kita juga baik-baik saja dia juga sepertinya merindukan ayahnya.
Ketika pagi hari anak kita masih selalu merepotkanku, aku selalu dibuatnya kerepotan. Aku mual muntah setiap pagi tetapi untunglah ketika menjelang siang hari anakmu akan berbaik hati membiarkan ibunya makan, hehe.. lucu bukan?
Aku rindu mendekatkan kepalaku di dadamu, supaya dapat mendengar detak jantungmu.
Aku rindu saat kita menghabiskan waktu berdua, seakan dunia hanya milik kita.
Aku senang karena kini memiliki cintamu, aku berharap cinta itu akan selalu untukku.
Cepatlah pulang yang mulia..! Aku benar-benar tersiksa tanpamu.
# # #
"Astaga, surat ini benar-benar membuat gue ingin marah-marah, gue gak sanggup menghadapi Deon nanti, gue malu, semalu-malunya. Huhh.." Ucap Ratu
Sejenak Ratu memikirkannya lagi, "Bukankah ini bagus buat kelanjutan hubungan mereka, Anggrek dan Deon pasti nanti akan bahagia. Gue harus berusaha menjadi istri yang baik, gue harus sadar kalau ini tubuh Anggrek..! Iya gue harus bisa, semangat Gita..!" Gumam Gita dalam hatinya
Gita (Ratu) melipat surat itu lalu menyimpannya, karena kedatangan Sani membuat selera makannya naik, ia benar-benar mencium wangi Ramen yang pedas yang menusuk hidungnya.
__ADS_1
"Hacciimmm…"
Dengan mencium aromanya saja dari dekat sudah membuat Ratu bersin, itu menandakan betapa pedasnya Ramen itu, Ratu begitu semangat.
"Sani kemarilah, kita makan bersama..!"
"Tapi Ratu?"
"Sudahlah tidak usah malu-malu, ini sebagai hadiah karena kamu telah membantuku membalas surat tadi."
"Baiklah, tapi ini terlalu pedas Ratu." Keluh Sani
"Bukankah surat yang kau buat juga terlalu berlebihan, hemm.."
Akhirnya Sani menyerah, ia memakan mie Ramen itu dengan pelan, satu sendok saja membuatnya harus meminum air putih satu gelas penuh.
"Ya ampun, ini masih terlihat banyak, sanggupkah aku menghabiskannya?" Keluh Sani sambil menatap mie Ramen itu, dengan mata berkaca-kaca, entah ia sedih atau merasa kepedasan.
Tiba-tiba datang seseorang menerobos ke kamar Ratu, ia tahu Ratu sedang makan makanya ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
"Astaga, bisa-bisanya kalian makan tanpa mengajakku? Hmm.."
"Sani, kenapa kau hanya menatap mie itu? Jika kau tidak mau, sini buat aku saja." Dia mengambil mangkuk mie milik Sani lalu makan dengan lahap.
Ratu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu.
"Ya ampun, ya ampun.. amit-amit cabang bayi." Ucap Ratu sambil mengelus-ngelus perutnya yang masih rata itu.
Sementara Sani memandangnya dengan senyuman, "malaikat penolongku.." Gumamnya dalam hati
Bersambung…
iya menolong Sani dari bahaya mie Ramen pedas.hehehe
Rekomendasi novel hari ini, yu kepoin readers..!
__ADS_1