
Tapi dua pengawal itu terus menyeretnya hingga setengah jalan, tiba-tiba selir Mey ambruk tak sadarkan diri.
Semua orang yang hadir begitu menyayangkan kejadian ini, mereka yang begitu mendukung Ratu pun seakan kecewa karena eksekusi ini ditunda untuk beberapa hari kedepan.
Selir Mey dibawa masuk kembali ke sel dan menerima pemeriksaan tabib istana terlebih dahulu. Saat pemeriksaan selesai, dan selir Mey masih belum sadarkan diri, tabib istana itu berbisik kepada sang Raja.
"Sepertinya nyonya selir sedang mengandung"
Deg..
Raja Deon dibuat kaget dengan pernyataan sang tabib, ia merasa beberapa bulan terakhir tidak pernah melakukan hubungan suami istri dengan selir Mey, bahkan sebulan terakhir ia sibuk di desa perbatasan. Raja meragukan kehamilan selir Mey, dia merasa itu bukanlah anaknya, jika pun iya pasti kehamilan Mey sudah besar, karena terakhir kali mereka melakukannya sekitar 3 bulan yang lalu.
"Periksa sekali lagi, aku tidak yakin..!" Perintah Raja kepada sang tabib
Setelah pemeriksaan kedua selesai dilakukan, hasilnya tetap lah sama, akhirnya Raja Deon menyuruh pelayan memindahkan selir Mey ke kamarnya yang dulu sampai Raja mengambil keputusan lagi dan Raja berlalu pergi untuk kembali ke paviliun Ratu.
Disaat Raja Deon melewati istana utama, dia tidak terlalu memperhatikan jalan di sekitarnya. karena merasa frustasi dengan masalah baru ini dia berjalan sambil melamun, tiba-tiba ibu Suri memanggil.
"Yang mulia Raja, saya ingin membicarakan sesuatu, bisakah yang mulia meluangkan waktu sebentar?" Ucap ibu Suri, dia akan berbicara lebih sopan saat di depan umum meski itu anak kandungnya.
"Baiklah, mari kita bicara di ruangan saya." Ucap Raja Deon, ia melangkah terlebih dahulu dan diikuti ibu Suri.
Saat di dalam ruangan dan hanya ada ibu dan anak.
"Deon, kau mau membantunya lolos dari hukuman? Sampai kau pura-pura tidak melihat ibumu sendiri untuk menghindariku." Ibu Suri merasa marah kali ini dengan anaknya.
"Ibu… bukan begitu, aku benar-benar tidak melihat ibu, aku sedang tidak fokus bu, dan aku sama sekali tidak membantu Mey." Ucap Deon membela dirinya
"Ibu tau, wanita itu pasti pura-pura sakit agar menarik perhatianmu dan lolos dari hukuman."
"Iya aku juga awalnya berpikir begitu, tapi…"
"Tapi apa? Jangan coba-coba membohongi ibu demi wanita itu..!"
__ADS_1
"Tapi, tabib istana bilang bahwa Mey sedang mengandung, aku tidak bisa membiarkan Mey dihukum mat* saat ada nyawa yang tidak bersalah di dalam perutnya, kasihan kan bu."
"Apa?, pasti tabib itu salah, suruh dia kembali memeriksanya!, ibu yakin wanita itu punya tipu daya muslihat."
Raja Deon menjelaskan bahwa sudah beberapa kali tabib istana memeriksa tapi hasilnya sama, dia juga menjelaskan kalau dia tidak yakin kalau anak didalam perut Mey adalah anaknya.
Ibu Suri pun percaya, karena ia merasa ada yang janggal dari semua ini. Meski begitu dia pun seorang wanita dan seorang ibu yang tidak akan tega membunuh calon bayi yang tidak berdosa.
Akhirnya mereka mengambil keputusan, bahwa selir Mey akan tinggal di paviliunnya kembali dengan penjagaan yang sangat ketat sampai dia melahirkan, selir juga diperlakukan layaknya tahanan dan Raja akan menceraikan selir Mey setelah dia melahirkan.
Selama itu Deon akan mencari bukti bahwa memang itu bukan anaknya, dan memang tak masuk akal jika Mey tiba-tiba hamil tanpa disentuh.
Raja pun membicarakan masalah ini dengan Ratu setelah tiba di kamar Ratu.
"Iya tidak apa-apa biarkan dia menjalani kehamilannya dengan baik, berikan makanan dengan gizi yang baik..! Karena aku juga sedang mengandung, aku tidak tega jika calon anak itu ikut mat* saat eksekusi." Ucap Ratu
"Terimakasih karena kamu mau mengerti dengan keputusanku ini." Ucap Raja Deon lalu mengecup kening sang Ratu.
"Jika itu anakmu, akui saja..! Aku tidak keberatan nantinya mengasuh anak itu juga." Ucap Ratu sambil mengangkat alisnya itu.
"Benarkah? Kenapa kamu tidak menyentuhnya selama itu?" Tanya Ratu mengetes jawaban Raja Deon
"Emmm… karena sejak saat itu.. a-aku mulai menyukaimu, dan tak pernah sengaja menemui dia, kalau tidak karena bertemu secara kebetulan." Ucap Deon malu
"Hahaha.. aku benar-benar tersanjung, tapi jangan sampai kau menemukan wanita lain yang lebih menarik, dan mencampakan aku seperti kau mencampakkan dia."
"Tentu saja tidak, aku punya alasan mencampakkannya, sementara aku tak punya alasan melepaskanmu, apa kau berpikir kalau aku lelaki breng**k begitu?" Raja Deon mulai kesal
Raja Deon yang merasa kesal akhirnya keluar dari kamar Ratu dan pergi keluar untuk menenangkan dirinya, sementara Ratu (Gita) hanya tersenyum senang karena berhasil membuat Deon kesal, menurut Ratu itu sangat lucu.
* * *
Rizad yang mendengar kabar bahwa hari eksekusi diundur, ia merasa sangat senang dan langsung pergi untuk menemui selir Mey.
__ADS_1
Tapi sayangnya penjagaan kali ini benar-benar tidak memperbolehkan orang berkunjung, lagi pula selir Mey masih dalam keadaan pingsan.
Tapi terdengar beberapa pelayan berbisik-bisik, mereka bergosip tentang selir Mey.
"Benarkah dia sedang hamil?"
"Iya, aku sempat mendengar ucapan sang tabib istana, dan memeriksa berulang kali untuk memastikannya."
"Sungguh beruntung nyonya selir itu, dia bisa selamat dari hari kemat*annya."
"Benar, tapi aku kesal mengetahui orang jahat bisa lolos dari hukuman."
Rizad mencoba menguping pembicaran mereka, dia terkejut dan mulai berpikir, "Apakah yang ada dalam perut Mey itu anakku?, astaga.."
Disatu sisi Rizad merasa senang karena anaknya itu bisa menyelamatkan Mey, tapi.. jika Raja mengakui anak itu maka ia akan kehilangan dua orang yang dicintai sekaligus, itu akan lebih menyakitkan untuknya.
* * *
Saat selir Mey sadar, ia mulai membuka matanya perlahan.
"Dimana aku? Apakah aku sudah mat*? Tapi ini seperti kamarku?" Pikir selir Mey
Dia mulai memperjelas penglihatannya dan memastikan bahwa itu benar-benar kamarnya.
"Benarkah aku masih hidup? Syukurlah.."
Pelayan istana masuk, dia membawakan makanan untuk selir Mey, pelayan itu menunjukan wajah tidak sukanya terhadap Mey.
"Semoga lain kali tidak ada keberuntungan untuk orang sepertimu nyonya." Ucap pelayan itu ketika menaruh makanan.
"Astaga, pelayan itu kurang ajar sekali." Selir Mey kesal, dia kini sadar bahwa sekarang tidak ada yang menghormatinya, bahkan seorang pelayan pun berani berbicara seperti itu padanya.
Bersambung..
__ADS_1
Rekomendasi novel hari ini, yu kepoin readers..! :)