
Selamat siang semuanya, semoga kalian sehat-sehat ya , dan masih setia lanjutin baca novel ini. meski di season 2 ini latarnya bukan kerajaan, tapi saya berharap cerita ini akan sama menariknya dari cerita di season 1.
saya juga sedang mengikuti lomba menulis dari NT yang pov pelakor, konflik rumah tangga, sudah ok, tapi belum up di aplikasi. sebenarnya saya ragu meneruskan cerita ini tuh karena waktu yang terbatas dan sibuknya di dunia nyata juga.
tapi saya akan berusaha melanjutkan cerita ini, dan juga menyelesaikan novel yang baru dengan bersamaan, jadi mohon maaf kalau saya tidak bisa crazy up..
happy reading :)
.
.
.
Setelah berhasil kembali ke dunia nyata, Gita memang merasa senang tapi hatinya sedikit hampa dan kosong.
Tanpa kehadiran Deon dan bayi kecilnya, kini memang tak ada yang merepotkannya, dia tak perlu begadang mengurus bayi lucu itu. Tapi … tapi entah mengapa kini rasanya momen itu sangat nyata dan sangat dirindukan olehnya.
"Kamu sudah mandi sayang? Cepat makan dulu, mamah udah masakin kamu banyak makanan tuh udah siap di ruang makan." Ucap bu Hanna
"Benarkah? Mamaku memang yang terbaik."
Ucap Gita memberi dua jempol pada mamanya itu, lalu berhambur memeluknya.
"Sudah cepat makan! Kenapa kamu malah memeluk erat seperti tidak bertemu lama saja." Keluh ibu Hanna
"Ah mamah, iya.. Gita makan sekarang."
Saat dia duduk di meja makan, melihat makanan yang dirindukan selama ini, makanan yang sudah lama ia tidak cicipi itu, Gita langsung bersemangat dan mulai makan.
"Anak perawan kok makannya gitu sih..!"
"Laper mah.."
Nikmatnya..., gue baru bisa makan masakan mamah gue lagi. Kalau disana sih rasanya sedikit hambar dan sedikit aneh. .
Sambil mengunyah, Gita teringat sesuatu.
"Mah, papah mana?"
"Dikamarnya, baru saja tidur siang. Lah kamu bangun siang. Hahaha.. mamah khawatir gak akan ada yang mau sama kamu Git, hmm…"
"Mah.. jangan nyumpahin anaknya sembarangan dong..!"
"Iya, iya.." jawab ibu Hanna lalu ikut makan bersama.
Setelah selesai makan, Gita merapikan piring kotor dan pergi mencucinya. Bu Hanna merasa heran dengan tingkah anaknya yang berubah mendadak rajin itu.
Setelah selesai, Gita kembali ke kamarnya mengecek buku komik yang sempat ia baca, syukurlah komik itu akhirnya berakhir bahagia, dan tentunya kisah di dalamnya adalah kisah yang dia ciptakan.
Saat membaca part dimana Ratu yang menyusui, dan melihat wajah pangeran yang tampan. Dia mulai menangis.
Bukankah ini terlalu kejam buat gue? Gue tuh udah cape hamil, udah ngerasain sakitnya melahirkan, eh si Gemoy gak bisa gue bawa pulang.. hhuwwwaaa.. Gita menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Tepat di halaman terakhir terselip cincin ajaib sang Ratu, dan terbawa olehnya.
Jadi cuma cincin ini yang bisa gue bawa? Tuker aja lah sama Pangeran Mahkota.. cius deh gue lebih sayang sama dia..!
Gita mengambil cincin itu dan menyimpannya di laci meja riasnya, meja rias lengkap dengan cerminnya yang hanya dipakai bercermin saja, bukan berdandan. Hehe
Gita yang penasaran mulai membaca komik itu dari awal, sampai hari mulai menjelang sore, dia pun berniat menemui papanya.
Papanya terbaring lemah tak berdaya, meski begitu beliau masih memberikan senyuman manisnya pada anak gadisnya itu.
"Gita, kemari nak..!"
Gita langsung menghampiri papanya, memeluknya dan menangis sejadi-jadinya.
"Berhenti menangis nak..! Papa baik-baik saja, nanti kalau papa mat* baru kau boleh menangis seperti itu. Haha.."
"Papah…" jawab Gita, dia mulai menghentikan tangisannya, menemani papanya . Bercerita tentang kejadiannya di dunia komik, namun Gita hanya bilang bahwa itu mimpi aneh.
Baskoro begitu menikmati cerita unik dari anaknya itu, sampai-sampai baskoro tertawa dan terharu.
Ini cerita nyata pah, ini cerita Gita, perjalanan Gita, tapi biarlah itu menjadi mimpi Gita yang panjang, tapi dapat membuat Gita mendapatkan pengalaman yang berharga.
Perusahan Baskoro kini dikelola oleh Surya, orang kepercayaannya. Sebenarnya dia mempunyai anak laki-laki bernama Anggara, tapi dia kini sedang mengelola perusahaan yang berada di luar negri, bahkan sudah 1 tahun anak itu tidak pulang.
Baskoro tidak punya pilihan lain, andai Gita tertarik dengan dunia bisnis dan mau belajar tentang mengelola perusahaannya, tentu saja dia akan senang dan tidak perlu menunjuk orang lain untuk menggantikan posisinya saat dia sakit, yang sebenarnya terselip keraguan pada Surya meski itu hanya 1 % saja.
"Nak.. papah sedang sakit begini, bolehkan papah minta satu permohonan saja?"
"Kamu mau ya belajar bisnis, dan mengelola perusahaan papah yang ada disini, kamu tahu sendiri kan kakakmu itu sibuk dengan bisnis yang di luar negri..!"
"Gi-gita pikir-pikir dulu ya pah?"
"Ok sayang, tapi jangan lama-lama, papah akan lebih tenang jika perusahaan yang papah bangun dari nol, diurus oleh anak papah sendiri, bukannya orang lain."
"Iya pah."
Mungkin udah saatnya gue berbakti, kan selama ini gue udah puas bermain-main, puas hidup sesuai keinginan gue, lagian kasian papah.
"Kak Angga kapan sih pulangnya pah? Aku kangen deh..?"
"Papah juga tidak tahu, kamu telpon aja dia!."
"Ok."
Saat telpon itu berhasil diangkat oleh yang punya di seberang negara sana.
"Dek, ada apa? Kamu gak tahu kalau disini masih jam 1 malam? Ganggu aja deh."
"Ih kakak, dikangenin kok gitu amat, kapan pulang? papah sakit."
"Kakak nanti usahain deh, mudah-mudahan papah cepet sembuh. Aamiin."
"Iya, aamiin. Cepat pulang kak..!"
__ADS_1
"Iya bawel, kamu tuh udah galak, bawel, gak ada bagus-bagusnya, cantik juga enggak dek, ya ampun kalau ada cowok yang mau sama kamu, nanti kakak kasih apapun yang kamu mau deh, berani taruhan deh. Haha.."
"Kakak….. keterlaluan."
Gita langsung menutup teleponnya, dia kesal.. bukannya kangen-kangenan eh malah diejek.
"Pah, dia itu kakak aku bukan sih? Sadis amat sama Gita."
"Hahaha… adik-kakak kalau bertengkar berarti sedang melepas rindu."
"Hmm.. dia bukan rindu, memang hobby nya ngejekin aku kok. Sebel deh, kalau pulang aku tonjok dia pah, sebagai ucapan selamat datang."
"Hahahaha.. kamu ini Gita, bener apa kata kakakmu , kalau galak-galak gak akan ada yang mau sama kamu."
"Uh.. papah sama aja, aku mau tidur aja deh.."
Gita pergi dengan terburu-buru karena kesal,
Padahal gue cantik kok, banyak yang mau sama gue, liat aja nanti..! Si Deon saja yang Raja ganteng itu, klepek-klepek sama gue, mau aja disuruh-suruh sama gue, ahh… gue jadi kangen
Gita bergegas masuk ke kamar, dan melihat kembali wajah si Deon itu di dalam komik, dia peluk erat komik itu dan blush.. pipinya merona saat mengingat malam romantisnya dengan Raja dunia komik itu.
Pikiran kotor pergilah..! Jangan meracuni pikiran anak perawan dong..! Batin Gita
Tiba-tiba dia teringat, dan dengan segera menelpon nomor ponsel sahabatnya.
"Hallo Nis?"
"Iya, ada apa tumben lo telponin gue?"
"Hehe.. gue kangen aja sama lo, besok lo ngampus kan? Gue mau cerita banyak sama lo."
"Hmm iya, tapi jemput ya..! Hehe."
"Ah, lo naik taksi aja, atau naik bus ke, angkot ke..!"
"Taksi mahal Git, gue lagi berhemat, Naik bus males, naik angkot apalagi."
"Ojol aja..!"
"Males Git dapetnya selalu bapak tua, gue pengen sama yang ganteng."
"Astaga, lo itu banyak alasannya, iya deh besok gue jemput.. puas?."
"Ok deh sahabatku."
"Gue udah ngantuk nih, padahal baru jam segini.. bye.."
Telepon itu ditutup cepat oleh Nisa yang ternyata sudah ingin tidur.
Baru juga pulang ke dunia ini, ternyata orang-orang disini yang gue kangenin.. haiis mereka menyebalkan.
Bersambung…
__ADS_1