Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
BAB 48 Perasaan Sani


__ADS_3

Suasana penjara istana sangatlah gelap, hanya diterangi beberapa cahaya obor saja dan beberapa lampu lentera minyak yang digantung.


Ada beberapa penjara istana yang terletak di ruangan khusus yang masih bisa tercapai cahaya matahari, ada juga yang letaknya di bawah tanah, selir Mey menempati penjara yang berada di bawah tanah yang gelap, udaranya pengap, dan sedikit lembab. Biasanya yang ditempatkan di penjara bawah tanah adalah orang-orang yang melakukan kejahatan sedang sampai yang berat.


Sedangkan untuk penjara di atas di ruangan khusus, itu untuk orang-orang yang baru akan diinterogasi atau mereka hanya melakukan kesalahan kecil dan terpaksa, seperti mencuri makanan karena lapar atau mencuri barang di pasar yang harganya memang tidak mahal, terlebih anak dibawah umur, mereka pasti ditempatkan di sana dan hanya beberapa bulan saja agar ada efek jera.


Selir Mey hanya pasrah saat diseret masuk ke dalam penjara.


"Kenapa aku harus berakhir disini? Aku berharap Deon akan membebaskanku, aku harus membujuknya." Gumam selir Mey dalam hati


Tak berselang lama Rizad datang menghampiri Mey, ia menggenggam keras jeruji besi itu berharap ia bisa menghancurkannya dan membawa Mey pergi. Rizad menatap Mey dengan mata yang berkaca-kaca, sebenarnya dia sedang menahan tangisannya, ia tahu jika kesalahan selir Mey itu berat, ia bisa membayangkan hukuman Mey pasti akan sangat berat, bahkan bisa sampai hukuman penggalan karena mencoba membunuh calon anak Raja.


"Mey.. dengarkan aku, kau akan baik-baik saja..! Aku akan berusaha menolongmu."


Mey menatap Rizad ia mengangguk, lalu menenggelamkan wajahnya di antara lutut dan dadanya, ia menangisi nasibnya sekarang.


"Nanti cobalah kau bujuk Raja Deon agar memperingan hukumanmu..! aku yakin masih ada cintanya untukmu meski sedikit, aku yakin masih ada tersisa rasa bersedih untukmu meski sedikit, aku yakin itu."


Saat mendengar kata-kata itu selir Mey mendapat sedikit harapan, dia merasa apa yang dikatakan Rizad benar, dia tak boleh merasa putus asa masih ada harapan ketika Deon kembali. Dia mengangkat wajahnya menatap Rizad dengan wajah sendu itu lalu mengangguk. "Iya, aku akan memohon pada Deon, sebaiknya kau pergi saja Rizad aku hanya ingin menikmati kesendirianku..!"


"Baiklah jika itu mau mu, nanti aku akan datang kembali menjengukmu lagi."


* *


Hari kini sudah menjelang sore, ibu Suri sudah pergi setelah menemani Ratu bersantai menikmati cemilannya, Ratu berencana pergi ke peternakan menjenguk si Putih, karena ibu Suri sudah membawakan kabar baik, kini suasana hati Ratu sedang merasa senang, ia ingin berbagi kegembiraan dengan kudanya itu.


Ratu berjalan dengan sedikit cepat, ia tidak sabar bertemu si Putih terlebih beberapa hari ini ia merasa bosan berada di kamar seharian.

__ADS_1


"Ratu.. hati-hati." Teriak Sani sambil mengejar sang Ratu


"Ratu kalau sudah kembali sehat, pasti begitu.. tingkahnya seperti anak kecil yang ceria berlarian kesana kemari, aku seakan kewalahan seperti sedang menjaga balita yang sedang aktif-aktifnya, aduh.." keluh Sani sepanjang jalan sambil berusaha menyusul Ratunya itu.


Sesampainya di peternakan Ratu tanpa sengaja bertemu Pangeran Ceng.


"Bagaimana kabarmu? Aku dengar kamu hamil, syukurlah aku ikut senang mendengarnya, lalu aku mendengar katanya kamu terjatuh dicelakai orang, tapi bayimu tidak apa-apa bukan?, syukurlah calon keponakanku baik-baik saja, maaf kan aku tidak sempat menjengukmu, aku belum sempat menjengukmu pula calon keponakan."


"Astaga, kau ini mau bertanya atau bercerita? Panjang sekali, hmm…"


"Hehehe.. kamu mau kemana sekarang? Biar aku temani."


"Aku hanya ingin menjenguk si Putih saja, kau sendiri sedang apa disini?"


"Ah, memang hanya kau saja yang mempunyai kuda kesayangan. Tentu saja aku pun punya dia lebih cepat dari si Putihmu."


"Jangan!!"


"Kenapa? Apa kau takut?"


"Aku hanya mengkhawatirkan calon keponakanku saja, bukankah kau dilarang berkuda?"


"Hmm.. alasan." Ratu melangkah pergi menuju kandang si Putih diikuti pangeran Ceng


Sani sebenarnya sudah sampai di peternakan, tapi saat melihat pangeran Ceng, ia membiarkan Ratu mengobrol berdua dengan pangeran. Ia hanya menatap dari kejauhan, entah kenapa hatinya terasa aneh, biasanya ia akan biasa-biasa saja bertemu dengan pangeran Ceng tapi.. kali ini ia merasa malu dan jantungnya berdegup kencang.


"Mungkinkah aku menyukai pangeran Ceng? Tapi dia itu tidak setampan dan segagah pangeran lain, bahkan kelakuannya terkesan kekanak-kanakkan, sama sekali tidak mencerminkan seorang pangeran, jika dia bermain dengan Ratu justru pangeran Ceng sangat cocok, karena dia bisa mengimbangi tingkah Ratu yang selalu membuatku kewalahan." Gumam Sani

__ADS_1


Sani melamun sepanjang jalan, hingga akhirnya ia sampai di kandang si Putih, dan tidak sengaja kepalanya menabrak punggung pangeran Ceng.


"Aduh… astaga maafkan aku pangeran." Ucap Sani yang kini merasa kaget, ia langsung memalingkan wajahnya dan menghampiri Ratu.


"Ada apa dengannya?" Ucap pangeran Ceng pelan


Pangeran Ceng melangkahkan kakinya, lebih dekat dengan Ratu, saat mendengar Ratu yang sedang curhat pada si Putih, pangeran ceng merasa heran ia mengerutkan dahinya.


"Hahaha…, kau ini curhat kok sama si Putih?, kenapa kau tidak curhat padaku saja?." Pangeran Ceng tertawa karena merasa lucu melihat Ratu berbicara pada kudanya itu.


Ratu melirik pangeran Ceng dengan tatapan kesalnya, "Jika kau tidak suka maka pergilah..!"


"Ah.. maaf, aku tau orang hamil memang lebih sensitif.hehe.. ya sudah lanjutkan saja ceritamu, aku akan ikut mendengarkannya disini, iya kan Sani?." Pangeran Ceng mulai melirik dan bertanya pada Sani


Sani merasa kaget sekaligus salah tingkah karena ditatap oleh Pangeran Ceng, "ah iya tentu saja."


"Bagaimana kabar Deon di desa perbatasan sana ya? Apakah kamu mendapatkan kabar terbaru?" Tanya pangeran Ceng pada Ratu.


"Hmm.. belum ada kabar lagi, tapi aku berharap dia baik-baik saja karena aku tidak ingin menyandang status janda hamil ditinggal mati, itu terlalu tragis."


"Hahahha…" Pangeran Ceng hanya tertawa mendapatkan jawaban dari Ratu.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menghampiri, orang itu langsung berlutut di tanah dihadapan sang Ratu..


Bersambung..


Jangan lupa kepoin novel temanku juga ya, sambil nunggu bab baru up..! :)

__ADS_1



__ADS_2