
Bu Maya yang kaget segera berlari menghampiri anaknya yang sedang duduk di ranjang, menempelkan badannya pada Reza bahkan bersembunyi di balik tubuh besar anaknya itu.
"Ada apa Za, a-apa yang kamu lihat, po-pocong, genderuwo, kun-kun-kuntilanak? Dedemit yang mana ja?." Tanya Bu Maya gugup.
"Mana ya? Mamah maunya lihat yang mana?." Tanya Reza kembali dengan sedikit senyuman.
Dan dengan segera bantal itu mengenai pundak Reza, "astagfirullah.. dasar anak durhaka kamu ya, kamu ngerjain mamah?." Tanya Maya dengan sedikit emosi.
"Hehe.. selow mah, gak ada apa-apa kok. Abisnya mamah juga nyebelin main tinggal aja."
"Dasar kamu ya.. euhh.. greget mamah, kalau kamu gak lagi sakit udah mamah puas-puasin mukul kamu pake sapu."
Wanita paruh baya itu benar-benar merasa kesal, dia hempaskan tubuhnya di ranjang yang ada di sebelah Reza.
"Udah ah, cepetan kamu tidur sana! Mamah tidur disini kan nemenin kamu?."
"Iya mamah ku yang cantik, kan udah disediain ranjang satu lagi disitu. Jangan marah-marah mah nanti keriput mamah terlihat semakin jelas..hehe"
"Kamu sakit aja nyebelin, bener kata Gita kamu memang anak yang nyebelin Za."
Kemudian bu Maya menarik selimutnya dan berusaha tertidur.
Sementara Reza yang mendengar kata-kata Nyebelin, dia mulai berpikir.
Apakah se rese itu? Jadi dia gak suka aku yang ngerjain dia? Aku harus bersikap manis nih? Pikir Reza
Suhu tubuh Reza berada di 40℃, , demam yang masih bisa ia tahan namun masih membutuhkan teman tidur. Dia berharap besok bisa sembuh dan bisa mengantar Gita ke kampus lagi.
***
Keesokan harinya Reza bangun dengan semangat, suhunya kini 36℃, dia berencana mengantar jemput Gita lagi.
"Za kamu baru sembuh, jangan dulu keluar rumah, besok aja kamu temui Gita."
"Aku bete mah dirumah terus."
"Tapi, kalau kamu sakit lagi gimana? Nanti aja sore kamu jemput Gita, pagi ini kamu gak usah kemana-mana!."
"Iya." Reza pasrah, dia pun duduk di kursinya dan mulai sarapan.
"Iya kamu tuh Za jangan lama-lama sakitnya, papah jadi kesepian tidur sendirian gara-gara kamu."
"Kenapa papah takut? Kalau gitu ya papah ikut tidur di kamar Reza aja..!"
"Papah gak takut, astaga papah bisa-bisa darah tinggi ngadepin kamu, mending gak usah ngomong aja sekalian." Ucap Pak Sanjaya kesal.
Bu Maya hanya tersenyum melihat kejengkelan suaminya itu. Karena dia juga sering merasakan hal yang sama, namun suaminya yang jarang di rumah membuat pemandangan ini sangatlah langka.
Reza berusaha berbicara mengenai Meta, dia tidak suka dengan kedatangan wanita itu.
"Masa mamah gak bolehin dia datang, kan masih saudara dia mau silaturahmi Reza."
__ADS_1
"Dia cuma modus mah."
"Bukannya kamu juga suka modusin cewek?."
"Itu beda lagi mah." Reza membela diri.
Reza menyudahi sarapannya, dia memang sulit berbicara mengenai Meta, ibunya begitu menyayangi anak itu, menganggapnya anak sendiri karena dulu bu Maya begitu menginginkan anak perempuan.
Bahkan di saat mereka bertengkar pun, bu Maya akan membela Meta daripada Reza. Sungguh membuat Reza semakin kesal.
Reza melangkahkan kakinya menuju kamar mengambil obat dan meminumnya berharap dia bisa segera sembuh.
Dia mengambil handphone dan mengirim pesan pada Gita.
| Sorry ya Git, gue belum bisa anter lo ngampus, gue masih sedikit demam, paling nanti aku jemput pas pulang ngampus. Ok? | Reza
Gita yang sedang asyik menonton drama korea merasa terganggu dengan pesan yang baru masuk.
Siapa sih?, ganggu aja.. Batin Gita
| Gak usah Za, gue libur kok.. | Gita
| oh, ya udah.. paling nanti gue mampir ya ke rumah lo. | Reza
| Ngapain? | Gita
| Bete aja di rumah, siapa tau bisa main game gitu bareng kakak lo. Hehe.. | Reza
Gita meneruskan aktivitas tadi yang sempat tertunda, memang hari ini libur dan dia sedang ingin bersantai di rumah karena ada kak Reza yang menangani perusahaan.
Sementara Reza merasa kesal, kesal pada dirinya sendiri. Niat hati mau bertemu Gita kenapa beralasan bertemu kakaknya.
Susah amat bilang pengen ketemu, astaga kenapa gue malah bilang pengen ketemu kak Angga? Bodo ah yang penting gue ke rumahnya. Pikir Reza.
***
Ketika jam di dinding menunjukan pukul 14.00 WIB Reza memutuskan segera pergi, karena dia baru saja mendengar suara cemprengnya Meta.
Gue harus buru-buru pergi nih. Batin Reza
Dia berganti pakaian, dan segera keluar kamar tak lupa pintu kamar ia kunci, ia khawatir Meta akan masuk dan mengacak-ngacak isi kamarnya.
Dia berjalan menghampiri ibunya yang sedang ada di dapur.
"Mah.. aku pergi dulu ya."
"Kamu beneran udah sembuh?, mau kemana?." Tanya bu Maya
"Kak Reza aku ikut dong." Ucap Meta
"Udah sembuh, aku ada urusan penting mah, dan kamu Meta, kamh gak bisa ikut dan gak boleh ikut!." Reza
__ADS_1
"Kak Reza pelit, ikut ya..? Aku juga pengen jalan-jalan." Meta
"Gak." Reza
"Udah-udah , kalian kalau ketemu selalu berisik, Meta sama tante aja, temenin tante masak, ya?."
Padahal gue kesini pengen ketemu kak Reza, kenapa malah masak sih? Malesin.. Batin Meta
"Emm iya tante." Jawab Meta lesu.
Reza dengan secepat kilat pergi, sebelum wanita itu melakukan sesuatu dan memaksanya membawanya.
Ketika sampai di bagasi, kini lelaki itu merasa lega, dia segera masuk dan melajukan mobilnya menuju rumah Gita.
***
"Assalamu'alaikum.."
Tok
Tok
Tok
"Cari siapa?." Tanya bik Mina , salah satu pembantu di rumah Baskoro.
"Cari… emm.. Gita, ada?."
"Non Gita sepertinya ada, bibi panggilkan dulu ya, aden bisa tunggu disini." Ucap Bi Mina sambil menunjuk ke arah kursi yang ada di teras.
Saat wanita itu akan menutup pintu, dia teringat belum menanyakan nama lelaki itu, tapj ia urungkan. Dia memilih segera memanggil nona mudanya.
"Ada apa bi?."
"Diluar ada yang nyariin non Gita."
"Siapa?."
"Bibi lupa tanya namanya, dia ganteng non, tinggi, pacar non mungkin." Jawab Bi Mina yang benar-benar tidak tahu tentang Reza yang dijodohkan dengan majikan mudanya itu.
"Siapa ya?." Tanya Gita pada dirinya sendiri, Gita bahkan tidak ingat jika tadi pagi ia bertukar pesan dengan Reza, karena terlalu fokus nonton drama korea kesukaannya.
Gita bersiap-siap menemui pria di depan teras, dengan siap siaga dia menyiapkan cincin ajaibnya, dia selalu waspada.
"Git mau kemana?." Tanya bu Hanna dari arah belakang dengan menepuk pundak Gita membuat wanita itu kaget, refleks membalikan badannya.
Naas cincin Gita yang sudah ia elus-elus itu mengenai seseorang, dan…
Bruukk….
Bersambung...
__ADS_1