
Malam ini Angga tidur di kamarnya sendirian, sejak dia tahu gaya tidur adiknya yang bagaikan pemain bola profesional saat tertidur, menendangnya berkali-kali sampai gol jatuh dari atas ranjang ke lantai.
Itu benar-benar menyakitkan, apalagi disaat Angga naik dan mulai tidur lagi, namun lagi-lagi Dafa mengeluarkan tendangan tsubasa nya yang berhasil menendang bokong Angga hingga dia terjatuh untuk yang kedua kalinya.
Dafa sepertinya sering bermimpi menjadi pemain sepak bola, membuat Angga kapok dan minta tidur dikamar yang terpisah saja.
Setelah mendapatkan kamarnya sendiri, Angga mulai bisa tidur nyenyak, namun malam ini terasa berbeda.
Tiba-tiba alarm ponsel Angga berbunyi, padahal dia hanya memasang pukul 04.00 dini hari.
"Sudah subuh lagi." Angga
Dia duduk ditepi ranjang dan mengecek ponselnya, "kenapa jam 00.00? Ini sih tengah malam, apa aku sholat tahajud aja ya?" Ucap Angga pelan.
Dia pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan ibadahnya.
Namun setelah selesai berdoa, dia mendengar suara aneh, suara yang membuat bulu kuduknya merinding.
"Hihihihihi…"
Siapa sih?, tapi ini tengah malam, mungkin saja mbak kunti lagi ngeronda. Hehehe… pikir Angga
Angga mengabaikannya, dia merebahkan badannya dan menarik selimutnya. Namun selimut itu entah mengapa seperti ada yang menarik, sehingga ada adegan tarik-menarik.
"Ini kenapa bisa begini? Astagfirullah, , tenang Angga, tenang..!" Ucapnya pada diri sendiri.
"Jangan mengganggu, sana kalian pergi wahai jin yang tidak terlihat!" Ucap Angga.
Namun selimut itu ditarik semua dan masuk ke bawah ranjang milik Angga.
Pria itu memberanikan diri menungging, menengok ke bawah sana, namun betapa kagetnya dia melihat ada yang nampak namun serba putih.
Keadaan malam itu cukup gelap, karena Angga berniat tidur dengan lampu dimatikan, hanya ada lampu tidur yang menyala di pinggir ranjang.
"Tuyul … ," teriak Angga, lalu ia membenamkan wajahnya dibawah bantal dengan posisi menungging.
Makhluk itu keluar dari bawah sana, melompat ke arah ranjang dan memeluk Angga.
"Lepas, lepaskan!" Teriak Angga.
Apakah ini karma lagi? Karma dulu saat aku mengerjai Reza, dan sekarang aku dipeluk hantu beneran?, jangan sampai aku salah membaca doa seperti Reza. Pikir Angga
"Pergi! Jangan menggangguku!" Teriak Angga lagi, dia masih bersembunyi di dalam bantal, menggoyangkan tubuhnya agar makhluk itu mau melepaskan pelukannya, namun ternyata makhluk malah kegirangan dan tertawa kencang.
"Hahahaha… , ini aku Kak, Dafa, Kakak penakut sekali." Dafa
"Astaga Dafa, kamu udah berkali-kali ngerjain Kakak hari ini." Angga
Tiba-tiba lampu menyala, semuanya menjadi terang, datanglah Andra dengan cake di tangannya dan semua pekerja di rumah itu ikut meramaikan juga, mereka bernyanyi dengan kompak.
__ADS_1
"Happy birthday to you, happy birthday to you.."
Siapa yang ulang tahun. Pikir Angga
"Selamat ulang tahun Angga anakku." Andra
Jadi aku yang ulang tahun? Ini tanggal berapa? Pikir Angga lagi, dia merasa benar-benar bingung.
"Aku ulang tahun Pah?" Angga
"Iya, Papah masih ingat tanggal saat kamu lahir, semoga umurmu berkah, panjang umur, sehat selalu, sukses, dan.. cepat dapat jodoh. Aamiin." Andra
"Aamiin, makasih Pah." Angga
Ternyata ini adalah hari ulang tahun Angga yang sebenarnya, karena saat bersama keluarga Baskoro dia merayakan ulang tahunnya saat dimana dia ditemukan di panti, yang membuat hari ulang tahunnya jelas berbeda dengan yang sebenarnya.
Angga memeluk Ayahnya dengan mata berkaca-kaca, dia juga baru tahu tanggal lahirnya yang sebenarnya.
Dan tiba-tiba makhluk putih kecil tadi (Dafa) juga ikut memeluknya dari arah belakang.
Membuat baju Angga kini sama-sama putih karena dipeluk Dafa.
"Hahaha… kamu bikin Kakak ikutan putih-putih juga." Angga
Mereka tertawa bersama, bahkan makan bersama, ternyata di ruang keluarga sudah dihias dengan dekorasi ulang tahun, namun memakai banyak balon, karena itu keinginan Dafa.
"Ini yang ulang tahun, Kakak atau kamu?" Tanya Angga pada adiknya itu.
Disana juga sudah tersedia banyak makanan, seperti pizza, puding, cake, dan yang lainnya.
Makan beramai-ramai sambil mendengarkan musik, para pekerja di rumah pun ikut bergabung dan merasa senang.
***
Pagi pun datang, ruang tamu masih berantakan, Andra melarang pekerja untuk membersihkannya malam itu, dia tidak mau menyuruh mereka saat dalam keadaan lelah dan mengantuk.
"Selamat Pagi Den Angga." Bi Nina
"Selamat pagi juga bi." Angga
"Pak, apakah ruangan itu saya bersihkan sekarang saja?" Bi Nina
"Iya boleh bi." Andra
Dafa datang berlari dan langsung duduk. Memandang Angga dengan mata berkedip-kedip.
"Kamu kenapa?" Angga
"Kak, hari ini Kakak aja ya yang bawa rapot aku, Papah biarkan saja pergi ke Kantor..!" Dafa
__ADS_1
Angga melirik pada ayahnya yang sedang makan.
"Hmm, jadi udah bosen nih dianter sama Papah?" Andra
"Bukan gitu Pah, sekali-kali dong aku pamerin Kak Angga, hehe.." Dafa
"Hmm.. boleh aja, paling Kakak ke Kantornya sepulang dari sekolahan kamu aja." Angga
"Beneran gapapa nih Angga?" Andra
"Iya gapapa, ada Gita dna juga Pak Surya di kantor." Angga
Pak Andra mengangguk setuju, dia bergegas pergi ke kantor, sementara Angga dan Dafa masih dirumah, karena mereka bernagkat nanti pukul 08.30.
Angga mengirim pesan pada adiknya itu.
| Git, hari ini Kakak ke kantornya siang ya?, soalnya mau nganterin Dafa ambil rapot ke sekolahnya, kamu bisa 'kan menghandel rapat kali ini, lagian ada Pak Surya juga.| Angga
| Iya Kak, awas nanti dikira anak sama bapaknya lagi.hehehe
Masalah rapat, sama Kakak aja lah, ditunda aja sampai Kakak datang.| Gita
| Gak bisa , itu rapat rutin tiap pagi, dan sebulan sekali.| Angga
| Kalau gitu biar pak Surya aja deh Kak.| Gita
| Gak bisa, pak Surya yang nyiapin bahan rapat, dan kamu yang mimpin rapat! Belajar lah Git..! | Angga
Namun tidak ada balasan lagi dari Gita, Angga berpikir kalau dia menyetujuinya.
***
Setelah selesai berpakaian, Angga pergi bersama Dafa, Angga memakai jas yang biasa diapakai ke kantor karena pulang darisana memang dia akan pergi ke kantor.
"Kak padahal pake baju biasa aja, biar kelihatan lebih muda..!" Dafa
"Memang Kakak kelihatan tua sekarang?" Angga
"Emm, gak sih, cuma kelihatan galak aja. Hehehe..." Dafa
Apa iya begitu? Padahal aku kelihatan keren dan berwibawa pake jas begini. Pikir Angga
Sesampainya di sekolah, semua mata fokus pada Angga dan Dafa. Mereka kompak memakai baju yang sama. Meski Dafa mengejek pakaian kakaknya, namun anak itu meniru pakaian Angga karena ingin copel.
Sejak dirumah dia menanyakan perihal baju yang akan dipakai Angga, lalu dia menyuruh pengasuhnya untuk mencarikan baju yang sama, dan jika tidak ada maka pengasuhnya lah yang akan berusaha keras mencarinya. Dafa tidak peduli dimana pengasuh itu mendapatkannya.
"Mengejek tapi kenapa ditiru?" Tanya Angga
Namun anak itu malah tersenyum senang.
__ADS_1
Bersambung...