
Episode Ekstra 4
"Ah, perutku…" Reza
"Kamu kenapa sayang?" Gita
"Mulas sayang, tapi ini ko melilit gitu ya, aku gak tahan." Reza
"Sabar… aku telpon dulu papa, sama mamah Maya dulu." Gita
Setelah ditelpon, Gita mencoba menenangkan Reza, mereka tinggal di Apartemen jadi sedikit sulit meminta bantuan orang lain.
Untung saja lokasi apartemen mereka tidak jauh dari tempat tinggal keluarga Gita.
"Sayang, darah apa itu?" Reza
"Darah?" Gita
Wanita itu melihat kakinya yang ternyata memang ada cairan bening serta darah yang hanya sedikit.
Apa ini tanda-tanda melahirkan? Tapi gur gak ngerasa sakit perut sama sekali? Pikir Gita
Gita membersihkan noda itu di kakinya, dia menuju pintu dengan perlahan mengingat kehamilannya yang sudah 8 bulan dan besar sekali karena ada dua bayi di dalamnya.
"Papah, Kak Angga, ayo masuk..! Kita ke Rumah Sakit aja pah sekarang!" Gita
"Iya." Baskoro
"Kamu kenapa Za?" Angga
"Perutku sakit, apa aku salah makan ya? Rasanya sakit sekali." Reza
Angga segera memapah Reza, membantunya keluar. Sementara Gita mengambil tas persiapan persalinannya.
"Kenapa kamu bawa tas besar segala?" Baskoro
"Jaga-jaga Pah, aku sepertinya mengalami tanda-tanda melahirkan." Gita
"Benarkah? Ayo Papah bantu berjalan..!" Baskoro
"Gak usah Pah, aku masih kuat, aku mau sekalian cek ke dokter kandungan, meskipun HPL (Hari Perkiraan Lahiran) masih lama." Gita
Mereka akhirnya sampai di Rumah Sakit, Hanna dan Maya pun datang menyusul mereka.
Reza dibawa ke IGD, ditemani oleh Angga, sementara Gita pergi mengecek kandungannya, dia khawatir karena sempat keluar lendir dan darah.
Kebetulan sekali pasien disana tidak terlalu banyak sehingga Gita hanya butuh waktu 15 menit menunggu.
"Git, Rezanya mana?" Maya
"Di IGD Mah sama kak Angga." Gita
"Yaudah Hanna aku tinggal dulu ya menemui Reza." Maya
"Iya, aku nemenin Gita dulu." Hanna
Akhirnya saatnya Gita diperiksa, dokter menanyakan tentang rasa mulas, tapi wanita itu menggelengkan kepalanya, namun dokter mengecek pembukaan dikarenakan lendir yang keluar.
"Ternyata sudah pembukaan lima Bu Gita, ini memang sudah waktunya melahirkan." Dokter
"Apa? Tapi tidak mules sama sekali." Gita
"Mungkin belum Git, kamu jangan kaget, karena rasa mulesnya akan lumayan sakit, kamu pasti kuat!" Hanna
Hmm, andai Mamah tau kalau gue itu udah berpengalaman melahirkan, dan tahu sesakit apa mules melahirkan itu. Pikir Gita
Gita dipindahkan ke ruangan bersalin menunggu pembukaan sempurna, yaitu pembukaan 10 (10 cm). Sementara Reza masih di ruangan sambil meraung-raung karena sakit perut.
"Kamu makan makanan pedas Za?" Maya
__ADS_1
"Aku lupa Mah, mungkin iya." Reza
"Apa usus buntu ya?" Maya
"Jangan dong Mah, aku gak mau dioperasi." Reza
Angga yang sudah menerima telepon dari Hanna, dia memberitahu Reza kalau istrinya sedang di ruangan bersalin. Reza memaksa ingin menemani Gita disana.
"Tapi kamu juga lagi sakit Za, disana 'kan udah ada ibunya dan juga ayahnya." Maya
"Tapi aku mau menyaksikan mereka lahir kedunia Mah." Reza
"Oke kalau kamu memaksa, tapi kamu beneran gapapa, katanya tadi sakit banget?" Maya
"Bisa aku tahan kok Mah," ucap Reza dengan sedikit meringis menahan sakit.
Reza menggunakan kursi roda dengan didorong oleh ibunya menuju ruangan bersalin. Angga pergi lebih dulu karena dia khawatir dengan adiknya itu.
Sepanjang perjalanan Reza masih saja merasa sakit perut yang muncul lalu menghilang, muncul dan menghilang, begitulah seterusnya. Pria itu merasa sangat tersiksa, dia menahan sakitnya padahal dia belum sempat diperiksa lebih lanjut.
***
Gita berbaring di ranjang pasien, sesekali dia berjalan-jalan disekitar ruangan itu agar pembukaannya bertambah dengan cepat, Hanna yang melihat anaknya itu, dia teringat perjuangannya dulu saat melahirkan anak perempuannya.
Gita kuat sekali, padahal dulu aku sampai menangis dan melambaikan tangan pertanda aku ingin menyerah saking sakitnya. Pikir Hanna
Kenapa belum mules juga ya? Pikir Gita
"Reza.." Gita
"Suamimu ngeyel Git, dia memaksa ingin melihat proses persalinan mu." Angga
"Memang udah gak sakit perutnya?" Gita
"Gapapa, aku bisa menahannya." Reza
"Pasti sakit sekali ya, sakitnya datang dan pergi namun semakin kesini semakin sakit dan semakin intens?" Gita
"Kok kamu tahu Git? Apa kamu tahu ini penyakit apa?" Reza
"Hmm tidak apa-apa, nanti kamu akan sembuh setelah melihat betapa lucunya anak-anak kita." Gita
"Aku harap begitu." Reza
2 jam berlalu, Gita berjalan-jalan menelusuri ruangan itu, sementara Reza terlihat semakin pucat menahan rasa sakitnya, Gita merasa tidak tega.
Tuhan, biarlah aku yang merasakan sakit melahirkan, aku ingin menjadi ibu yang berkorban untuk anak-anaknya. Batin Gita
Ada dokter yang kembali datang untuk mengecek pembukaan, ternyata sudah di pembukaan 8.
Tiba-tiba Gita merasakan mulas itu, "aduh… perutku." Teriaknya
Reza yang merasa sudah membaik dia bangkit dari kursi roda dan berlari menghampiri istrinya itu, memegangnya dengan lembut.
Astaga ini sakit sekali, aku tidak ingat jika rasanya sesakit ini. Batin Gita
"Huh hah, huh hah…" Gita
Wanita itu mulai mengatur nafasnya, berharap bisa mengurangi rasa sakitnya, Reza yang panik dia melupakan rasa sakit perutnya itu.
Hanna dan Baskoro menunggu diluar ruangan karena Gita sudah pembukaan 8 dan tak lama lagi akan segera melahirkan.
Suster disana sudah menyiapkan peralatan dengan lengkap, Dokter berpesan jika sudah terasa dorongan ingin buang air besar maka Gita harus memberitahu sang dokter.
"Memangnya melahirkan itu seperti ingin buang air besar ya dok?" Reza
"Hmm, bagaimana ya menjelaskannya, memang disaat pembukaan sempurna rasa mulas itu akan berubah menjadi keinginan mendorong bayi keluar." Dokter
Reza menganggukan kepalanya, entah dia mengerti atau tidak dengan apa yang dikatakan sang dokter.
__ADS_1
Gita mencoba menenangkan dirinya, menahan rasa sakitnya dan beristighfar beberapa kali, meskipun dia pernah melahirkan dan merasa berpengalaman, namun tetap saja dia tidak bisa mengendalikan sikapnya.
Gita berteriak, bahkan sempat meninju dinding saking sakitnya.
"Sabar sayang, istighfar..!" Reza
"Iya, astagfirullah.." Gita
Hanna dan yang lainnya menunggu diluar dengan khawatir, berharap segera mendengar tangisan bayi.
"Dokter, saya sudah tidak tahan. Hiks.." Gita
Kasihan sekali, sampai menangis, ini kedua kalinya aku melihat istriku menangis, yang pertama saat malam itu. Pikir Reza
Dokter menyuruh Gita berbaring diranjang, karena sebelumnya dia berdiri dan bersandar di dinding.
Reza membantu istrinya berbaring, dia memegangi tangan istrinya, namun rasanya sakit sekali karena Gita meremas tangannya begitu kuat, seakan tangannya remuk.
"Cek dulu ya Bu.." Dokter
Cek lagi? Kapan gue lahirannya? Pikir Gita
"Dok, saya sudah merasa ingin mendorong, saya gak kuat dok!" Gita
"Baiklah, tarik nafas panjang lalu dorong ya bu!" Dokter
Suster disana juga ikut membantu proses persalinan itu, "siap-siap ya bu..!"
"Tarik nafas panjang, dorong..!" Dokter
"Emmhhh…." Gita mendorong sekuat yang dia bisa
"Lagi Bu..!" Dokter
"Emmhhh…" Gita
Oek… oek…
"Alhamdulilah.." Reza
Gita masih merasa ingin mengejan, dia baru ingat kalau dia harus mengeluarkan satu bayinya lagi, suster membawa bayi pertama.
"Dorong lagi Bu..!" Dokter
"Emmhh…" Gita
Oek…
Oek…
"Akhirnya.." Gita
Semua orang yang menunggu di luar ruangan itu bersorak senang, Hanna dan Maya begitu bahagia, mereka merasa ingin segera masuk dan mendobrak pintunya.
Setelah 2 bayi itu bersih dan dipakaikan baju, Reza langsung mengadzani mereka bergantian. Tersenyum bahagia melihat wajah-wajah mungil itu, dia kembali menemui istrinya dengan membawa bayi itu.
"Lihatlah, dia lucu sekali..!" Reza
"Iya sayang, dia mirip denganku." Gita
"Iya, dia perempuan, dan yang satunya laki-laki, makasih ya sayang karena kamu sudah berjuang melahirkan anak-anak kita." Reza
Cup
Reza mengecup kening istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
*
*
__ADS_1