Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
BAB 75 Giliran sang selir


__ADS_3

Setelah dua hari berlalu, Raja yang sedang menimang-nimang bayinya itu nampak kaget mendengar bahwa Selir Mey sudah merasakan mulas melahirkan, bahkan menyebut-nyebut nama sang Raja, berharap Raja menemaninya.


"Benarkah?" Raja berteriak, membuat bayi yang baru saja tertidur itu membuka matanya dan menangis kencang.


Ratu berlari dari arah luar, ia langsung masuk saat mendengar tangisan bayinya.


"Kau apakan bayi kita Deon, hingga dia menangis kencang?" Tanya Ratu.


Raja yang masih melamun memikirkan proses persalinan Mey nanti, ia sibuk dengan lamunannya tanpa menjawab pertanyaan Ratu.


Ratu mengambil bayinya itu dan menggendongnya, membawanya keluar kamar untuk menimang-nimang kembali agar mau tertidur lagi.


"Padahal kau sudah ibu beri ASI yang banyak tadi, seharusnya kamu tidur nyenyak sekarang, ayahmu memang sedikit aneh, lebih baik kau bersama ibu saja ya..!"


Raja berjalan melewati sang Ratu, "Sayang.. aku pergi melihat keadaan Mey sebentar ya, kata pelayan tadi sepertinya hari ini dia akan melahirkan."


"Oh.. jadi ini yang membuatmu cemas dan bahkan membuat anak kita menangis kencang.hmm.. ya pergilah..! aku sungguh tidak keberatan, jika perlu kau nanti beritahu aku bagaimana menderitanya dia saat melahirkan.. hehehe…"


"Jadi kau memintaku menjadi mata-mata? Aku lebih mengkhawatirkan diriku sendiri, bukankah informasi itu bisa kau dapatkan dari pelayan, kau suruh saja Sani untuk memantaunya..!"


"Baiklah… baiklah… lebih baik memang mengirim Sani , daripada mengorbankan suamiku."


Ratu pergi membaringkan Pangeran kecil, lalu ia bergegas menemui Sani.


"Astaga, dia benar-benar menyetujui ideku tadi, sebegitu penasarankah dengan penderitaan Mey?hhmm.."


Ucap Deon sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dia lalu berlalu pergi hanya untuk melihat keadaan Mey sebentar saja, lalu ia akan membiarkan Rizad yang menemani Mey.


***

__ADS_1


Saat Raja sampai disana, dan membuka pintu. Raja melihat Mey yang sedang meringkuk di ranjang dengan memegangi perutnya.


Raja berjalan dengan perlahan mendekati selir Mey, saat Mey menoleh dia langsung bangun dan berkata,


"Deon kamu datang? Anak kita sepertinya akan lahir hari ini, Deon ini begitu sakit.. tolong temani aku disini..!"


Karena Deon sudah pengalaman dengan proses ibu melahirkan dia tahu hal-hal yang perlu ia lakukan, "Bagaimana tabib, berapa lama lagi bayi itu akan lahir?"


"Hamba harus memeriksanya terlebih dahulu yang mulia."


"Periksalah cepat..!"


Tabib menyuruh selir Mey berbaring diranjang dan mulai memeriksa jalan lahirnya, apakah sudah terbuka sempurna atau belum. Tapi saat tabib mulai beraksi, selir Mey melakukan penolakan sama seperti saat Ratu melahirkan.


"Tidak apa-apa Mey, ini hanya pemeriksaan, biarkan Tabib itu bekerja..!"


Saat Mey sedang berbicara dengan Raja dan ia sedikit teralihkan, tabib istana tanpa aba-aba langsung memeriksa pembukaan jalan lahir.


"Aw… sakit sekali, singkirkan tanganmu itu dariku!"


Tabib istana itu hanya menanggapinya dengan santai, memang berbeda cara ia melayani Ratu yang penuh hati-hati dengan selir ini yang ia perlakukan seenaknya tanpa persetujuan yang penting sesuai prosedur, tabib ingin proses pemeriksaan itu cepat dan tidak ada drama seperti saat Ratu melahirkan. Jika pada Ratu ia tidak berani, tapi jika pada selir Mey tentu ia berani karena sekarang dia hanya selir tahanan.


"Deon lihatlah..! Tabib itu sungguh keterlaluan." Keluh selir Mey


"Dia hanya melakukan tugasnya, kamu jangan mempersulitnya..!" Jawab Deon


"Bagaimana?" Tanya Raja pada tabib


"Masih lama yang mulia, ini hanya baru terbuka sedikit saja, mungkin nanti malam."

__ADS_1


"Apa? Nanti malam? Bahkan perutku sudah sangat sakit sekali."


"Tahanlah nyonya..!, ini hanya sakit permulaan, jika nanti sudah mencapai puncaknya, barulah proses persalinan dimulai."


"Apa? Sakit ini hanya permulaan? Tidak adakah obat untuk meredakan sakit di perut ku?"


"Tidak nyonya, ini mulas alami, ini proses melahirkan yang harus dilalui semua ibu hamil." Ucap tabib istana sambil membereskan peralatannya. Dia beranjak pergi karena mempunyai urusan lain, tabib itu hanya menyuruh asisten nya untuk berjaga-jaga.


 Disana juga sudah ada Sani, dengan begitu Raja bisa pergi. Meski selir melarangnya, tapi Raja beralasan jika dia mempunyai pekerjaan mendesak, lagi pula menuju waktu melahirkan pun masih lama.


Hari masih siang, kali ini Raja menemui Rizad secara langsung. Dia menyuruhnya mememani selir sore nanti, karena diperkirakan malam hari baru melahirkan.


Rizad Pun menyetujuinya, tapi dia belum bisa memutuskan untuk mengakui secara terang-terangan di hadapan semua orang bahwa itu adalah anaknya.


Setelah itu Raja kembali ke paviliun Ratu untuk makan siang bersama.


"Sayang.. mari kita makan bersama?"


"Hmm.. aku sih mau, tapi Pangeran kecil sepertinya masih ingin minum ASI ku. Tunggulah beberapa saat lagi..!"


"Baiklah…"


"Gue sebenernya udah laper banget, apa gue minta disuapin aja ya?hmm.. tapi, kalau disuapin itu rasanya gak puas, gak bisa makan sesuai keinginan, kadang pengen makan banyak disuapin sedikit, pengen cepat eh yang nyuapinnya lelet.. gue tunggu si comel ini puas dulu deh." Gumam Ratu dalam hatinya, bahkan ia mencubit sedikit pipi anaknya yang chubby itu.


Ratu memang merasa kewalahan menjadi ibu baru, karena terkadang bayinya itu hanya diam jika digendong olehnya. Tapi ia begitu menikmati momen-momen itu, apalagi melihat bayinya tumbuh setiap hari, semakin hari semakin sayang pada Pangeran kecilnya itu.


Jika sebulan yang lalu ia ingin cepat kembali ke dunia nyata, maka hari ini ia merasa tidak rela meninggalkan bayi yang gemuk dan semakin lucu itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2