Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Mencari Petunjuk


__ADS_3

Baru juga berlari setengah jalan, Pak Rendi terdiam, kini dia hanya menonton saja. Reza menepuk pundak lelaki itu.


Sampai dimana Pak Rendi bisa melihat Gita mengalahkan semua lelaki itu, membuat dosen itu terpukau.


"Waw.. tunangan kamu spesial Za, bisa sekalian dijadikan bodyguard tuh..!" Pak Rendi.


"Haha.. ya begitulah, aku tidak usah repot-repot kan jagain pacar, tapi aku yang dijagain pacar," ucap Reza sambil tertawa.


"Kak Reza, harusnya meski Gita lebih jago, kakak itu tolongin dia, bantu apa ke, lawan satu aja dari mereka gitu..! Pacar ko gini amat," keluh Nisa.


"Aku mau nolongin, ini kan mau nyamperin, cuma ternyata mereka sudah kalah duluan 'kan?" Reza beralasan.


"Hmmm alasan, bilang aja takut," ejek Nisa.


Gadis itu berlari menghampiri sahabatnya, Gita menyuruh anak kecil itu segera pulang.


"Lo gapapa 'kan?" Nisa


"Gak, malahan yang tadinya ngantuk mendadak seger loh, gue serasa berolahraga sampe keringetan, hehe…" Gita


Mereka berjalan bersama menghampiri 2 pria yang sedang menunggu.


"Kamu gapapa Git?" Reza


"Gapapa-gapapa, bantuin enggak so perhatian nih kak Reza," keluh Nisa.


"Hmm.. aku gapapa kok, yuk pulang..!" Ajak Gita


Mereka akhirnya berpisah di tempat parkir karena Pak Rendi tentu saja pulang sendiri dengan mobilnya.


Sementara Nisa dan Gita ikut masuk ke dalam mobil Reza.


"Kenapa kamu ikut masuk juga?" Tanya Reza.


"Emangnya aku gak boleh nebeng ya kak?" Nisa


"Gak, karena kamu tadi sudah mojokin aku." Reza


"Git, gue boleh nebeng kan?" Tanya Nisa.


"Boleh, biarin aja, Reza memang begitu, dia mudah merajuk. Hehe.." ejek Gita.


"Siapa yang merajuk?" Keluh Reza.


Lelaki itu memasuki mobilnya dengan hati kesal.


Gue kaya sopir deh, dan mereka penumpangnya. Batin Reza


Sesampainya di rumah Gita, Reza mampir untuk melepaskan rindu pada tunangannya itu, mengobrol dan bercanda sudah membuatnya senang.


Bu Hanna menyiapkan beberapa cemilan untuk mereka, kebetulan hari ini ibu itu telah membuat banyak makanan, hobby bu Hanna memang memasak.


Reza tak lupa menjenguk calon ayah mertuanya itu, bersyukur ayahnya Gita mulai membaik, bahkan bisa berjalan menggunakan tongkat.

__ADS_1


Mereka bermain catur bersama.


Kenapa gue inget kejadian di rumah Nisa ya? Gue belum sempat balas dendam nih sama kak Angga. Pikir Reza


Saat bermain catur, Reza memberanikan diri bertanya pada Pak Baskoro mengenai Angga dan Gita.


"Pak, bolehkan saya bertanya sesuatu mengenai hal yang sedikit pribadi?" Reza


"Boleh, serius sekali kamu Za, hehe.." Baskoro


"Begini, saya tahu jika kak Angga bukanlah anak kandung Bu Hanna, apakah Gita tahu hal itu, dan apakah kak Angga juga tahu?" Reza.


Deg


Mungkin dari Maya anak ini tahu hal ini. Pikir Baskoro


"Hmm.. iya, Angga tahu karena waktu diambil oleh keluarga saya dia sudah berumur 7 tahun dan mengerti jika saya bukan papanya, kalau Gita memang belum tahu dan sengaja tidak diberitahu dulu." Baskoro


"Emm seperti itu, kenapa tidak memberi tahu Gita pak? Bukannya gadis bapak sudah dewasa, pasti paham dan mengerti." Reza


"Hahaha… kamu tidak usah khawatir, tidak akan ada hubungan spesial diantara mereka, mereka itu cuma adik kakak, yang saling menyayangi, saya hanya tidak ingin membuat Gita merasa canggung pada Angga setelah dia tahu." Baskoro


"Bukan begitu maksud saya, hehe… tapi benar juga, jadi mau disembunyikan sampai kapan Pak? Saya juga takut jika tak sengaja memberitahunya." Reza


"Mungkin sampai Gita menikah, saat dia memiliki suami, saat dia sudah menemukan lelaki yang melindunginya yang bisa menggantikan Angga." Baskoro


Reza mengakhiri pertanyaannya, disaat dia melihat Angga datang dari arah berlawanan.


"Wah, papah tumben main catur?" Angga


"Dicoba aja pah, seru loh..!" Angga


"Lain kali aja, papah masih fokus ke pengobatan papah." Baskoro


"Ya sudah lanjutkan aja pah, Angga mau ganti baju, mau mandi dulu biar gak kaya orang yang di sebelah papah tuh, bau belum mandi, hahaha.." Angga


"Angga…." Baskoro


Reza tidak bisa membalas perkataan Angga didepan calon mertuanya itu, dia hanya mampu untuk berpura-pura tidak mendengarnya.


***


Angga membaringkan tubuhnya sejenak, dia mengingat wajah Pak Andra yang ia temui di parkiran restoran tadi.


Pria itu merogoh ponselnya, ingin rasanya dia menelpon lelaki paruh baya tadi, namun dia masih merasa ragu.


Disimpannya ponsel itu di atas ranjangnya, lalu dia bergegas pergi ke kamar mandi, badannya sudah terasa lengket sekali.


"Segarnya…" Angga


Pria itu dengan segera memakai baju dan tak sengaja menjatuhkan foto yang terselip di lemari pakaiannya.


"Ah foto lamaku, memang mirip dengan anaknya pak Andra," ucap Angga pelan.

__ADS_1


Angga berpikir untuk menemui ibunya, Bu Hanna pasti masih menyimpan benda peninggalan masa lalunya, karena Bu Panti bilang barang terakhir yang dimiliki Angga kecil waktu itu dibawa oleh keluarga ini.


Dia bergegas keluar dari kamarnya dan mencari ibunya.


"Pah, mamah mana?" Angga


"Dikamar Gita, mamah kamu lagi ngajarin adikmu berdandan." Baskoro


"Oh, ok pah." Angga


"Mah…" Angga


"Masuk.." Bu Hanna.


"Aduh mentang-mentang diluar ada pacarnya, tiba-tiba dandan gitu, biasa aja lah dek jangan nunjukin kalau kamu tuh cinta banget sama Reza. Hahaha.." Angga


"Bilang aja iri," jawab Gita kesal.


"Ssttt, kamu jangan godain adikmu, lagian dia udah lama mamah ajarin make up, bukan karena ada Reza." Bu Hanna


"Udah lama, tapi belum bisa juga, astaga.." Angga


"Kalau cuma mau ngeledekin, mending keluar aja deh, ini kan kamar aku..!" Gita


"Ok..ok, mah.. aku ada perlu, bisa bicara berdua aja?" Angga


"Ada apa tumben?" Bu Hanna


"Ini serius mah.." Angga


"Kalau serius, kak Angga mau minta ngelamarin anak orang tuh. Hahaha.. syukur deh." Gita


"Sok tahu kamu Git," ucap Angga, lalu dia menarik lengan ibunya itu keluar dari kamar adiknya itu.


Kenapa kak Angga main rahasia-rahasiaan segala sih? Pikir Gita


Angga langsung to the point, dia menanyakan barang lamanya saat masih kecil, berharap ada petunjuk.


"Kamu yakin mau cari orang tua kamu? Bukankah selama ini kamu selalu menolak bahkan mamah sudah bosan membujuk kamu." Bu Hanna


"Sekarang aku berubah pikiran mah." Angga


Bu Hanna menuju kamarnya dengan diikuti oleh Angga, dia membuka lemari pakaiannya dan mengambil kotak yang berisi baju terakhir yang Angga pakai waktu ditemukan di Panti.


Ada sepatu, baju, celana, jam tangan dan kalung kecil.


Angga mengambil kalung itu, ada ukiran nama di belakangnya, (Angga Pratama).


"Ini…" Angga


"Iya itu kalung kamu dari kecil, mamah tidak merubah namamu, dan coba lihat ada inisial AA dibawah namamu..!" Bu Hanna


"AA… artinya apa ya?" Angga

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2