
"Gak tau kak, aku gak nanya, aku ketemu pas di kampus sih, kenapa gitu kak?." Tanya Gita penasaran.
"Gapapa Git, ya sudah lanjutin itu belajarnya..!" Angga
"Iya, iya." Gita
Angga melamun setelah apa yang dikatakan Gita tadi. Bukannya papah sudah sempat mencari keberadaan orang tuaku dan tidak ada jejak, lalu ini apa? Apakah hanya kebetulan? Atau pertanda jika aku harus mulai mencari tahu lagi? Pikir Angga
***
Hari ini Reza pun masuk kantor seperti biasanya, dia tahu jika pacarnya itu sedang sibuk belajar bisnis hari ini, membuatnya enggan menghubungi gadis itu, khawatir malah mengganggunya.
Semalam ketika Reza berada di rumah sakit, dia sempat menanyakan perihal Kirana pada om nya, om Aldi, namun sepertinya om nya itu menyembunyikan sesuatu, entah apa itu.
Kirana yang baru sembuh pun ikut merawat Bu Jani, gadis itu memang baik, dia bahkan merawat Jani sepenuh hatinya meski mendapat perlakuan kurang baik dari ibunya itu.
Bahkan Kirana sendiri yang mengurus semuanya, seperti mengganti baju Ibunya, mengantarnya ke kamar mandi, menyuapinya. Membuat Maya yang melihat itu pun merasa jika setelah ini mungkin hubungan mereka akan lebih baik.
Satu Panggilan masuk ke handphone Reza.
"Za… mamah ke rumah Gita dulu ya mau ketemu tante Hanna, lalu ke rumah sakit sebentar, lalu mamah ke kantor kamu deh." Maya
"Iya mah, tapi.. mau apa ke kantor Reza?." Reza
"Jemput kamu lah.hehe.." Maya
"Memangnya aku anak TK mah? Gak usah mah..!" Reza kesal
"Ih bukan gitu Za, mamah mau lihat dekorasi gedung pertunangan kalian, kata mamanya Gita, semua sudah siap, mamah kepo Za. Hehe.." Maya
"Padahal besok juga mamah bakalan lihat, kenapa hari ini mesti kesana?" Reza
"Iyain aja lah Za, ok?." Maya
"Iya ,iya.."
"Ok anak mamah yang ganteng, mamah berangkat dulu, mamah tutup teleponnya, assalamu'alaikum." Maya
"Waalaikumsalam.." Reza
Salamnya pas mau ditutup aja, mamah… mamah.. Batin Reza
***
Saat Bu Maya menjenguk adik iparnya itu, akhirnya Jani mau berbicara jujur padanya. Menceritakan semua kejadian dimasa lalu, dan tentang alasannya bersikap acuh tak acuh pada Kirana.
__ADS_1
Saat Kirana pamit pulang dulu ke rumahnya untuk mandi, berganti pakaian dan mengambil barang yang tertinggal, kini hanya ada Jani dan Maya di kamar itu.
"Apa kamu serius jika Kirana bukan anak kandungmu? Apa dia anak angkat mu dan Aldi?." Tanya Maya begitu terkejut.
"Dia memang bukan anakku, tapi anak kandung Mas Aldi." Jawab Jani dengan menundukkan wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca.
"Maksud kamu? Astaga apa benar Aldi bisa melakukan hal itu?." Maya
"Iya mbak, sebenarnya waktu aku pergi ke luar negeri itu aku lari dari Mas Aldi, aku kecewa mba saat tahu dia selingkuh bahkan selingkuhannya sedang hamil." Jani
"Lalu ibu asli Kirana dimana sekarang?." Maya
"Dia sudah mendapat karmanya mbak, dia meninggal saat kecelakaan, dan terpaksa Kirana dilahirkan secara sesar karena memang sudah memasuki 9 bulan." Jani
"Astaga, lalu Aldi memintamu kembali dan merawat Kirana? Keterlaluan." Maya ingin rasanya memaki-maki adik iparnya itu.
"Iya mbak, aku tidak bisa membohongi perasaanku yang sangat mencintainya mba, dia juga berjanji tidak akan selingkuh asal aku mau merawat Kirana, awalnya aku mencoba menyayangi anak itu, namun semakin tumbuh dewasa wajahnya semakin mirip wanita ja**ng itu mbak, aku muak." Jani menangis sejadi-jadinya.
Maya begitu terkejut dengan fakta itu, ada dua korban disini, Jani dan Kirana sama-sama korban, harusnya mereka saling menyayangi dan menguatkan.
Maya menasehati Jani, bahwa Kirana tidak tahu apa-apa jadi jangan melampiaskan kemarahannya pada gadis itu.
Jani menyadari kesalahannya itu, dia juga dapat melihat jika Kirana itu anak yang baik, penurut, dan ikhlas merawatnya saat Jani sakit.
Namun Jani meminta Maya merahasiakan hal ini dari Kirana, tapi Maya tidak setuju, karena lebih baik jujur lagi pula Kirana sudah dewasa dan pasti paham. Daripada berbohong dan gadis itu tetap merasakan sakit hati ditambah salah paham pada Jani.
Saat Kirana kembali, Maya memeluk gadis itu dengan erat lalu berpamitan pulang.
Sepanjang jalan Maya mendadak jadi wanita pendiam, membuat sang supir pun merasa heran dengan majikannya itu.
Maya melanjutkan perjalanannya menuju kantor Reza, dia beruntung sudah mempunyai anak kandung meski hanya Reza, tidak seperti Jani yang masih dalam penantian.
Meski terkadang Maya juga sedih dan mengeluh karena ingin anak perempuan, tapi setelah mengingat umurnya, dia mengganti keinginannya, sekarang dia menginginkan cucu perempuan karena baginya Gita nanti akan menjadi anak perempuannya.
"Reza, siapa dia?." Tanya Maya
"Ah ini, temen SMA dulu mah, dia baru saja melamar kerja." Reza
"Sore tante, perkenalkan nama saya Mira tante." Mira tersenyum
"Hmm iya, salam kenal juga ya, saya Maya, mamanya Reza." Maya
"Za, sudah waktunya pulang belum, ayo cepet katanya mau lihat tempat acara pertunangan buat besok?." Maya
"Iya mah, bentar lagi." Reza
__ADS_1
Siapa yang mau lihat? Gue terpaksa ikut, sebenernya gue gak masalah tempatnya mau seperti apa, mamah.. mamah... Batin Reza
Mira pamit untuk kembali ke ruangannya, sementara Maya mulai berbisik di telinga Reza.
"Kamu jangan main-main dibelakang Gita ya Za..!"
"Ya ampun mamab suudzon aja, dia temen lama Reza, dia….emm" Reza
"Dia apa?." Maya penasaran.
"Dia janda mah." Ucap Reza pelan.
"Makin bahaya itu Za, kamu harus hati-hati..!" Maya
"Mamah udah ya..! jangan parno gitu." Reza
Seseorang yang menguping di balik pintu itu hanya berdecak kesal.
Dia sudah mau tunangan? sudahlah.. yang penting aku sudah dapat pekerjaan ini, tapi sungguh status janda ini sangat membuatku kesal, banyak orang yang berpikiran negatif padaku. Pikir Mira
Setelah menyelesaikan pekerjaannya yang terakhir Reza pergi bersama ibunya itu menuju lokasi yang dituju.
Bu Maya begitu menyukai tempat itu, luas, mewah, dekorasinya rapih.
Sementara Reza hanya berjalan menemani ibunya itu, melirik tempatnya sekilas.
Reza begitu percaya diri, dia membayangkan besok akan menjadi seorang Raja yang menjadi pusat perhatian, itu menyenangkan, apalagi memperkenalkan Gita sebagai tunangannya.
Dia tersenyum sendiri tanpa ia sadari.
"Cie… cie.." Maya
"Apaan sih mah?" Reza
"Bukan sama kamu Za, tuh lihat mereka serasi sekali." Maya
Reza menoleh ke arah yang ditunjukan oleh ibunya , dia bisa melihat Angga dan Gita berjalan bersama, bahkan Gita menggandeng tangan Angga.
"Mana mungkin aku cemburu sama kakak ipar mah." Reza
"Kamu tahu gak, kalau Angga itu anak angkat Hanna, mereka bisa saja berjodoh kan, kamu pernah merasakan perlakuan manja dari Gita seperti itu?" Bisik Maya pelan.
Meski pelan namun kata-kata itu sangat terdengar jelas ditelinga Reza, membuatnya mematung melihat kedua orang yang kini berjalan mendekat.
Jika dipikirkan lagi, memang Gita tidak pernah semanis itu jika sedang bersama Reza.
__ADS_1
Bersambung..