Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Sosok Kirana


__ADS_3

"Hmm.. mamah ternyata sudah membacanya, tadinya aku ingin merahasiakannya terlebih dulu." Angga


"Kenapa dirahasiakan?" Hanna


"Menunggu waktu yang tepat, seperti mamah yang menyembunyikan status aku pada Gita." Angga


"Emm.. iya mamah mengerti, mamah juga belum sanggup mengatakan tentang kamu pada adikmu itu, mamah hanya tidak ingin Gita merasa canggung dan berubah sikapnya sama kamu." Hanna


Angga Pun menceritakan semua kejadian awal mula dimana dia mencurigai Kirana itu anggota keluarganya, dia juga bercerita kalau sempat pergi ke panti asuhan, dan yang paling baru tentu cerita tentang Pak Andra dan Dafa yang mirip dengannya.


"Benarkah? Apa jangan-jangan mereka juga keluarga kamu?" Hanna.


"Mungkin saja mah," tanggap Angga.


"Tapi apa benar om Aldi bukan papah kamu? Siapa tau dia juga papah kamu?" Hanna


"Entahlah, tapi aku tidak yakin, dia kan tidak setampan aku mah, hehehe…" Angga


"Hmm.., mamah serius Angga." Hanna


"Belum aku cari tahu lagi mah, yang jelas dia menikah dengan mamah aku jauh setelah aku lahir, aku pikir itu pernikahan kedua, dan aku lahir dari pria yang dinikahi mamah di pernikahan pertama." Angga


"Masuk akal sih, tapi kan kamu bisa cek dulu Aldi..!" Hanna


"Om Aldi tidak bisa diajak komunikasi mah, terakhir kali aku menjenguknya pun dia diam, kasihan Kirana." Angga


Bu Hanna mengangguk pelan pertanda dia mengerti situasinya sekarang, wanita itu juga akan merahasiakan tentang hal ini dulu dari Gita, dia juga tidak ingin kehilangan Angga, ibu itu akan mengatakan hal yang sebenarnya saat Ayah Angga yang asli bisa ditemukan.


Pasti kalau sudah bertemu ayahnya, angga akan ikut bersamanya. Pikir Hanna


Pikiran Hanna itulah yang membuatnya sedih dan tidak sanggup menghadapi kenyataan, ingin rasanya dia melarang anak lelaki itu mencari keluarganya, namun itu adalah hak Angga, dia tidak mau egois.


Akhirnya pagi pun datang, Angga mendapat telepon dari Dafa, anak kecil yang membuatnya bersemangat.


"Kak Angga, aku mau pergi sekolah, pulang sekolah kak Angga main ya ke rumah Dafa lagi, mau 'kan?" Dafa


"Emm.. besok mungkin, hari ini kak Angga gak bisa." Angga


"Tapi Dafa maunya sekarang, mau nunjukin banyak mainan baru sama kakak." Dafa


Terdengar suara Pak Andra yang melarang anaknya memaksakan kehendaknya pada Angga, meski pelan terdengar sekali jika Pak Andra merasa tak enak hati.

__ADS_1


"Boleh, nanti kalau kakak udah sembuh pasti main lagi sama kamu." Angga


"Kakak sakit? Sakit apa? Biar Dafa tengokin ya?" Dafa


"Gak usah Dafa, nanti siang kakak pulang kok dari Rumah sakit, kakak gapapa." Angga


Namun anak kecil itu begitu ingin tahu, membuat Angga memberitahu dimana dia dirawat, Angga akan menunggu Dafa datang dulu sebelum pulang.


Hanna dab Guta juga sempat bertanya tentang Dafa, namun Angga hanya menjawab kalau dia anak dari salah satu rekan bisnisnya.


Gita pamit pulang terlebih dahulu, dia ingin merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya, dia juga ingin menemani ayahnya yang ditinggal oleh bu Hanna sedari subuh.


"Aku pulang ya mah, kasian papah sendirian di rumah, meski ada pembantu tetep aja kasian, mamah sih pake ditinggal, dari subuh pula." Gita


"Hehe … , mamah hanya khawatir berlebihan pada Angga, ya udah kalau mau pulang, bilang sama papah, kalau mamah pulangnya nanti siang bareng sama kakak kamu..!" Hanna


"Oke," gadis itu menyalami tangan ibunya dan berlalu pergi.


Angga bilang pada Bu Hanna jika dia akan menunggu anak kecil itu dulu, dan kemungkinan dia datang sepulang sekolah. Bu Hanna menyetujui permintaan Angga.


Pagi itu Kirana datang sendirian tanpa Jani, gadis itu membawa sarapan untuk Angga yang dibuatnya sendiri di rumah.


"Kak Angga makan ya..! Makanan rumah 'kan lebih sehat." Kirana


Lelaki itu senang diperhatikan Kirana, meski dia belum tahu kalau Angga kakak kandungnya tapi perhatiannya itu seolah hati Kirana merasakan darah persaudaraan diantara mereka.


"Makasih ya, makanannya enak." Angga


"Sama-sama kak." Kirana


Tiba-tiba pintu terbuka lebar, dan terdengar teriakan bocah lelaki yang nampak khawatir.


"Kak Angga." Dafa


Anak itu berlari memeluk Angga, bahkan anak itu menangis di pelukannya. Ternyata Dafa lebih mengkhawatirkan Angga di Rumah Sakit. 


Pak Andra terlihat menyusul Dafa, lelaki itu meminta maaf karena Dafa datang dengan berteriak dan mengagetkan semua orang.


Dafa memilih izin sekolah, dan Pak Andra pun mau tidak mau memberi izin pada anak itu, dia tidak tega karena 15 menit anak itu merengek. Bahkan selama di dalam mobil Dafa berisik sekaki, dia sepertinya ingin cepat sampai di Rumah Sakit.


Saat Pak Andra memperkenalkan diri dan menyapa Hanna, wanita itu sedikit menampilkan wajah terkejutnya melihat wajah yang mirip dengan Angga.

__ADS_1


Apa ini? Apa kebetulan? Dia orang yang diceritakan Angga tadi 'kan? Pikir Hanna


Namun saat Pak Andra ingin menyapa Kirana, dirinya malah mundur 3 langkah dan terjatuh dan


Wajahnya sedikit pucat.


Kirana yang refleks, dia mengulurkan tangannya untuk membantu Pak Andra.


Tapi lelaki itu menolak, dia malah bertanya dengan gugup.


"Ka-kamu si-siapa?" Pak Andra


Pemandangan itu membuat Angga bertanya-tanya.


Apa mungkin Pak Andra mengenali wajah yang mirip dengan Kirana? Seperti yang aku rasakan dulu? Pikir Angga


"Kirana, mari saya bantu pak, apa bapa sakit? Kelihatannya bapak pucat." Kirana


"Ah, benarkah?" Pak Andra


"Iya, apa papah mau dirawat juga bersama kak Angga? Biar kita bisa menginap disini juga bareng kak Angga." Dafa


Anak itu membuat keadaan yang tadinya khawatir menjadi sedikit lucu, dia malah senang saat papanya sakit karena ingin bersama Angga.


"Saya tidak apa-apa." Pak Andra


Kemudian lelaki itu duduk, mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Dia hanya mirip saja dengan Alisa, aku tidak boleh mengingat wanita itu! Pikir Andra


Lelaki paruh baya itu mengingat jika wanita itu hanya luka baginya, yang menyebabkan dirinya juga harus kehilangan anak lelakinya.


Kehilangan rasa percaya, kehilangan semangat, kehilangan segala-galanya, wanita itu bagaikan racun di hidupnya. Lelaki itu tidak mau mengenang sedikitpun tentang wanita itu, dia tidak mau mengingat pengkhianatan wanita itu dulu.


Bahkan lelaki itu memutuskan kontak dengan semua keluarga Alisa, dia tidak mau berurusan dengan mereka lagi.


Bahkan setelah kejadian itu, Andra harus menutup hatinya, dia tidak ingin menjalin lagi sebuah biduk rumah tangga, dia tidak mau kecewa. Sampai dimana akhirnya ada satu wanita yang membuatnya percaya, mematahkan pemikiran Andra tentang pernikahan yang menurutnya akan sia-sia.


Ya, itu ibunya Dafa, wanita yang membuat hidup Andra kembali merasakan kebahagiaan dan kehangatan cinta, namun dia harus ikhlas saat wanita itu pergi setelah berjuang melahirkan Dafa, anak pertama mereka.


"Pah ko malah ngelamun?" Tanya Dafa.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2