
"Git, sudah lama kamu gak main ke kantor?" Baskoro
"Iya, masih sibuk kuliah pah, masih ada kak Angga yang ngurusin Pah tenang aja..!" Gita
Justru itu, papah mau kamu siap mengurus perusahaan saat ini, karena Angga cepat atau lambat pasti kembali ke keluarganya. Pikir Baskoro
"Tetep aja kamu jangan terlalu santai begitu dan mengandalkan kakak kamu, kakak kamu juga punya perusahaan diluar negeri sana, kapan kamu wisuda?" Baskoro
"Kapan ya? Sekitar 6 bulan lagi pah." Gita
"Harusnya dari sekarang kamu mulai serius Git, biar setelah wisuda, kamu sudah siap..!, atau apakah kamu mau langsung nikah? Hehehe.." Angga
"Ish, karir dulu lah kak." Gita
Sejak pembicaraan itu Gita mulai memikirkan jika dia harus mulai serius dengan bisnis papanya itu, namun mendekati wisuda, skripsi itu menyibukan dirinya, membuatnya pusing juga.
Jika libur yang ada dipikiran Gita hanyalah diam dirumah beristirahat, nonton drama korea.
Saat malam tiba ada Reza datang, dia membawa makanan pesanan pacarnya itu.
"Ini pizza spesial buat kamu sayang..!" Reza
"Wah , makasih.." Gita
"Lah, buat aku mana Za?" Angga
"Tenang aku juga bawain buat tante Hanna sama om, kalau yang ini spesial buat Kak Angga." Reza
Bu Hanna mengambil miliknya dan suaminya itu, tak lupa dia berterima kasih dan pergi menuju kamar suaminya, kalau sudah malam begini, Baskoro memang sudah berada di kamarnya.
"Pasti sebentar lagi kakak kamu teriak." Reza
"Kenapa?" Gita
"Reza…….." terdengar suara Angga dari arah kamarnya.
Reza mencoba menahan tawanya, membayangkan wajah Angga yang memerah karena kepedasan.
"Kamu apain kak Angga?" Gita
"Gak ko, yang diapa-apain tuh cuma pizza nya, hehe…" Reza
"Dasar jail.." Gita
***
Keesokan harinya, Pak Andra datang ke kantor Angga saat jam pulang kerja, dia menunggu kepulangan anaknya itu.
"Pah, biar aku yang masuk ya pah?, aku cari kak Angga, kita ajak makan diluar." Dafa
"Ya udah coba kamu yang panggil, itu udah ada kak Angga!" Pak Andra
__ADS_1
Dafa turun dari mobil, dia berlari menuju Angga, sambil berteriak "Kak Angga.."
Anak kecil itu berhambur memeluk Angga, Dafa merasa rindu dengan kakak lelakinya itu. Menarik lengan Angga untuk pergi bersamanya, tentu pria itu tidak bisa menolak, dia tidak ingin menyakiti perasaan anak itu.
"Kak ayo, kita makan diluar bareng papah..!" Dafa
"Kakak boleh ikut?" Angga
"Iya, kan bertiga, iya kan Pah?" Dafa
"Iya Nak Angga, masuk aja, nanti kita putuskan makan dimana, memilih yang sesuai selera Nak Angga saja." Pak Andra
"Saya jadi malu, saya ikut saja gimana bapak mau makan dimana." Angga
Mereka masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya ke salah satu restoran yang terkenal dengan masakan khas daerah indonesia.
Mereka begitu menikmati makanannya, Dafa terlihat senang sekali bisa bertemu Angga lagi. Pak Andra tidak mampu mengucapkan jika dia ayah kandung Angga, akhirnya dia memilih cara lain.
Saat mereka sudah selesai makan.
"Nak Angga, bapak punya sesuatu, ini harap dibaca setelah dirumah saja ya..!" Pak Andra
"Kenapa tidak disini saja Pak?" Angga
"Dirumah saja, biar bisa dibaca dengan tenang." Pak Andra
"Saya jadi merasa penasaran dengan isinya, sampai-sampai Bapak berpesan begitu, hehe.." Angga
"Pah, aku juga mau tau itu isinya apa?" Dafa
"Ssttt… anak kecil dilarang kepo..!" Pak Andra
"Hahahaha… , nanti kalau kakak udah baca kakka kasih tau kamu ya..!, oke?" Angga
"Oke, jangan lupa kak..!" Dafa
"Iya.." Angga
Mereka akhirnya berpisah, Angga diantar sampai di depan rumahnya, kebetulan memang dia hari ini tidak membawa mobil, dia diantar jemput supirnya.
"Dadah kak Angga.." Dafa
Angga melambai-lambaikan tangannya ke arah mobil Dafa yang berlalu pergi.
Anak yang menggemaskan. Pikir Angga
Dia masuk ke dalam rumahnya, tak lupa mengucapkan salam dan mendapati Bi Mina yang membukakan pintunya. Angga langsung pergi menuju kamarnya berniat mandi.
Namun dia penasaran dengan isi amplop itu, perlahan dia membukanya, namun baru saja dia ingin membuka lipatan surat ini, terdengar teriakan adiknya itu.
"Kak Angga." Gita
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
Angga membuka pintu kamarnya, "ada apa?"
"Mamah menyuruh kak Angga makan dulu." Gita
"Oh, kakak sudah makan, kakak mau mandi." Angga
Gita akhirnya kembali ke ruang makan, dia memulai makan bersama kedua orang tuanya. Sementara Angga yang berniat membaca surat itu, dia malah pergi ke kamar mandi, dia melupakan surat yang tergeletak di atas ranjangnya.
Angga asyik berendam, dia menikmati air hangat yang membuat badannya terasa enak, bahkan membuatnya mengantuk.
Gita datang ke kamar Angga untuk menanyakan perihal perusahaan, berniat memulai belajar bisnis lagi, namun dia tak mendapati Angga disana setelah masuk tanpa izin karena berkali-kali diketuk namun tidak ada jawaban.
"Apakah masih mandi? Kaya cewek aja lama bener mandinya." Gita
Gadis itu berniat kembali lagi, namun dia melihat surat tergeletak diatas kasur milik Angga, mencoba mendekat, dia bisa membaca dengan jelas itu surat dari Rumah Sakit.
Gita berpikir dan mulai khawatir, takut jika surat itu bukti kalau kakaknya menyembunyikan penyakitnya, dia langsung membawa dan membacanya, namun bukannya khawatir dan sedih, Gita malah bingung saat membaca isinya.
Apa maksud semua ini? Surat ini, apakah asli? Pikir Gita
Gita menyimpan surat itu ke tempat semula, dia berjalan dengan linglung, ingin bertanya langsung namun dia masih syok, ingin menanyakan pada ibunya , namun dia takut mendengar kenyataan yang pahit itu.
Gadis itu memilih kembali ke kamarnya, mengabaikan panggilan Hanna.
"Git, Angga nya mana?" Hanna
Kenapa dia? Ditanya gak dijawab. Pikir Hanna
Gita merebahkan tubuhnya diatas ranjang, menatap langit-langit, mengenang masa kecilnya bersama Angga, mengingat-ngingat berharap ada ingatan masa lalu tentang pertemuan pertama mereka.
Namun gadis itu tidak mengingat apapun, yang dia ingat saat hari ulang tahunnya yang dirayakan banyak orang, disana ada Angga yang bahkan sudah lumayan besar, saat itu Gita merayakan usianya yang menginjak 6 tahun.
Kenapa aku tidak bisa mengingat masa dimana kak Angga datang pertama kali ke rumah? Apakah dia sudah dirawat mamah sejak bayi? Pikir Gita
"Tidak, dia kakak gue, selamanya jadi kakak gue, tapi bagaimana kalau dia pergi dan tinggal bersama Pak Andra? Astaga, itu tidak boleh terjadi!" Ucap Gita pelan
Gadis itu menyembunyikan wajahnya dibawah bantal, mulai menangisi kemungkinan yang akan terjadi.
Pantas saja papah memaksaku cepat mengurus perusahaannya. Batin Gita
Ingin rasanya Gita meluapkan perasaanya, dia mencoba menghubungi Reza, namun ponselnya tidak aktif, akhirnya dia mengirim pesan yang banyak, semua keluh kesah hari ini dia curahkan dalam pesan itu lalu mengirimkannya pada nomor ponsel kekasihnya itu.
Bahkan tentang kekhawatirannya jika Angga pergi, meski kakaknya itu jahil, namun gadis itu sangat menyayangi Angga.
Meski pesan itu tidak terbaca, namun itu setidaknya membuat perasan Gita lebih lega.
__ADS_1
Bersambung….