
Keesokan harinya Gita absen, dia masih merasa tubuhnya lemas dan tidak ingin ke kampus. Dia hanya ingin tidur sepanjang hari dikamarnya.
Mending gue dirumah aja deh, daripada ngampus. Males gue ketemu si Reza. Pikir Gita
Pagi ini Gita sarapan bubur, meski hanya bubur ayam tapi menurutnya ini sarapan mewah, karena khusus dibuatkan ibunya untuk memperhatikan Gita.
"Makasih mah, buburnya the best.." ucap Gita sambil memberikan kode jempol tangannya.
"Iya sayang, makan yang banyak biar cepet sembuh, kamu istirahat aja dulu gak usah ke kampus..!"
"Iya mah, aku udah izin gak masuk kok, dan nanti siang akan ada Nisa kesini, katanya mau ngejenguk aku."
"Emmhh ok, nanti mamah sambut dia, dia gadis yang baik yah Git, mamah suka. Apalagi selera baju nya sesuai dengan pikiran mamah, andai kamu kaya gitu Git, mamah pasti seneng ngedandanin kamu."
"Hmm.. hmm.. aku ya.. aku mah, Nisa ya.. Nisa. Mamah nih anak sendiri kok di jelek-jelekin." Gita sedikit merajuk
"Hehe.. gak kok sayang. Kamu tetap anak mamah yang paling cantik." Ucap bu Hanna sambil tersenyum dan berlalu pergi.
Iyalah tercantik, lah kakak gue cowok, hmm ko gue jadi inget sama kak Anggara ya, kapan sih dia pulang? Gue kangen.
Anggara adalah kakak Gita yang berusia 29th, Sudah 3 tahun kakaknya tinggal di luar negeri dan mengurus perusahaan yang ada disana.
Semenjak itu tidak ada suasana heboh dirumah, jika biasanya kakak adik itu akan saling menjahili satu sama lain, memberi kejutan disaat ulang tahun dan banyak hal lainnya lagi.
Bagi Gita, Angga adalah sosok kakak yang baik dan penyayang. Tapi selama ini kakaknya itu terobsesi dengan pekerjaan, tidak pernah Gita dikenalkan pada pacar sang kakak, jika bu Hanna menanyakan hal itu pun, Angga akan menjawab bahwa dia tidak punya pacar dan belum ingin menikah.
Lamunan Gita buyar saat dia mendengar suara yang mengerikan.
"Gita…"
Ko gue denger ada suara si Reza sih, horor banget deh. Gumam Gita
Gita yang tidur menyamping, membuatnya tak menyadari kedatangan Reza.
"Gita, lo baik-baik aja kan?." Reza bertanya tepat di hadapannya.
"Astagfirullah, Lo tuh ya seneng banget ngagetin gue, bikin jantung gue shock tau, ngapain sih lo kesini?."
"Hmm.. gak baca ayat kursi lagi nih?"
"Gue baca dalam hati."
"Astaga, lo keterlaluan banget. Gue kesini jengukin Lo.. biasa lah terpaksa gue."
"Kalau terpaksa mending gak usah, gak ada rasa bersalahnya sama sekali."
"Hehe.. oh soal kemarin, iya iya gue emang salah. Maaf deh."
"Hmmm.."
__ADS_1
"Nih gue bawain jus bikinan nyokap, sama salad buahnya juga, perhatian bener nyokap gue sama lo." Ucap Reza sambil menyimpan itu semua di meja dekat tempat tidur.
"Iya dong.. kan calon mantu." Ucap Bu Hanna yang tiba-tiba datang mengagetkan mereka.
"Eh tante." Reza sedikit malu dengan apa yang dikatakan sebelumnya.
Setelah beberapa menit mengobrol, Reza pamit pulang, dia memang berencana pergi ke kantor tapi ibu nya menitipkan makanan untuk Gita, jadi dia menyempatkan mampir.
"Makasih ya nak Reza udah jengukin Gita."
"Iya tante, aku pamit dulu."
Setelah Reza benar-benar pergi, Gita mulai protes.
"Mah jangan godain Gita di depan Reza..! Aku juga belum tentu menerima perjodohan ini, apalagi dia, kita tuh kalau ketemu serasa ketemu musuh tau gak mah?"
"Haha.. gapapa nanti juga berdamai, kamu tuh jangan terlalu benci sama dia..!"
"Karena benci dan cinta beda tipis kan? Aku gak percaya mah, jelas beda jauh lah." Ucap Gita lalu mengambil hp nya dan mulai membaca komik online.
Sementara bu Hanna pergi menemui suaminya, dia kerepotan karena anak dan suaminya sakit bersamaan.
Ketika siang hari Nisa datang menjenguk, dia juga penasaran dengan keadaan Gita.
"Hai Git, tumben amat sih jagoan sakit.. hehe sebenarnya lo kenapa sih Git?."
"Gue sakit karena dikerjain si Reza tau, ngeselin kan tu orang."
Akhirnya setelah Gita menjelaskan panjang lebar tentang kejadian kemarin, Nisa hanya tertawa terbahak-bahak.
"Astaga, lo seneng banget ya liat gue sengsara?"
"Bukan gitu Git, yang gue ketawain tuh ya tingkah kalian, mending damai aja deh Git daripada ada kejadian mengenaskan lainnya. Hehe"
"Hmm.."
***
Keesokan harinya Gita sudah membaik dan berniat berangkat diantar sopir, tapi Reza sudah ada di depan pintu rumahnya, sepertinya dia mendapat pesan dari bu Hanna kalau Gita mulai berkuliah lagi.
"Masuklah..!" Ucap Reza.
"Iya.."
Gita masuk dengan patuh, di dalam mobil begitu hening, mereka saling diam.
Sampai akhirnya Reza memutuskan untuk memulai pembicaraan.
"Ah iya, gue hanya akan mengantarmu sampai gerbang kampus ya, soalnya gue mau ke kantor, minggu depan juga kan jadwal gue wisuda, S2 dong.."
__ADS_1
Reza berusaha memancing gita berdebat, siapa tahu dengan dia berkata narsis bisa membuat Gita sedikit kesal.
"Hmm.. iya diturunkan dibelokan sana pun tidak apa-apa, gue bisa lanjut jalan kaki."
ko dia biasa aja sih? bisa berubah kalem dan penyabar gitu ya.. Reza merasa heran
"Jangan dong, nanti gue juga yang kena omel kalau sampai nyokap gue tahu."
"Iya.."
Ni anak kenapa sih?, ko jadi lebih pendiam gitu ya, gue lebih suka debat sama dia daripada diem-dieman gini, rasanya aneh. Batin Reza
Akhirnya mobil Reza sampai di depan kampus dan Gita pun turun dari mobilnya dengan tak lupa berterimakasih pada Reza.
Tuh kan bener-bener aneh deh, sampe bilang makasih plus senyum lagi, gue jadi ngeri nih. Pikir Reza
Hari ini Reza akan fokus pada pekerjaannya, karena memang kuliahnya sudah beres hanya menunggu waktu wisuda saja.
Karyawan kantor menunduk memberi hormat pada lelaki itu, meski dia masih muda tapi Reza cukup terkenal dengan sebutan Bos Muda.
Itu semua karena keahliannya, meski di usia muda, Reza mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar yang pimpinannya lebih berpengalaman dan lebih tua darinya.
"Selamat pagi pak, mau saya buatkan kopi?" Ucap Nadia sekretarisnya.
"Boleh."
Masih saja jual mahal tuh si bos ganteng, padahal menurut rumor dia kan playboy, apa aku kurang menarik dan seksi? Pikir Nadia
Setelah Nadia membuatkan kopi untuk Bos mudanya itu, lalu membawanya kembali setelah selesai meraciknya.
Haruskah aku menggodanya? Hmm kubuka saja satu kancing atas ku. Pikir Nadia
Nadia masuk dengan begitu percaya diri, dia akan berusaha menarik perhatian Bos nya itu.
"Permisi pak, ini kopinya.."
"Taruh aja disitu." Ucap Reza tanpa menolehnya, karena ia sedang sibuk membaca berkas-berkas.
"Pak, kopi kalau sudah dingin gak akan enak loh pak." Ucap Nadia
"Iya, sebentar lagi aku minum."
Nadia tetap berdiam diri di situ, dia sengaja menunggu Reza menoleh dahulu padanya. Berharap dia mampu menggoyahkan hati laki-laki itu, jika dia hanya akan menjadi salah satu koleksi wanita mainannya pun tidak masalah.
"Pak.. kopinya diminum dulu..!" Ucap Nadia yang sengaja memanggil bosnya itu, agar mau menoleh.
"Iya.." Ucap Reza, akhirnya dia menutup berkas yang dia pegang, berniat meminum kopi dahulu agar dia tidak mengantuk, dan saat menoleh ke arah Nadia laki-laki itu cukup terkejut.
"Nadia….."
__ADS_1
Bersambung...