
Mata Gita semakin berat, dia berusaha melawan rasa kantuknya itu. Namun gadis itu teringat cincin ajaibnya yang ada di dalam tas, dia mengeluarkan cincin itu, mengelusnya hanya dengan sedikit sentuhan agar listrik yang dihasilkan tidak besar.
Dia mengarahkan cincinnya pada tubuhnya sendiri, hal ini baru pertama kali Gita lakukan, karena dia tidak ingin melewatkan momen spesial ini, dia terpaksa mencobanya.
Ayolah..!, semoga berhasil, semoga gue bisa menghilangkan rasa ngantuk ini, tapi kalau pada akhirnya gue malah pingsan gimana?
Gapapa deh kalau pingsan paling 5 menit. Pikir Gita
"Aw…"
"Lumayan nih, mulai seger.." Gita mencoba membuka matanya, memaksa mata itu tetap terbuka.
"Aw.."
"Aw.."
"Aw.."
Akhirnya Gita bisa menghilangkan efek obat tidur yang ia minum, dia bertanya-tanya siapa yang jahil padanya, gadis itu juga tidak berpikir jika ada Meta disini. Karena setahu dia Meta tidak akan hadir karena pertunangan ini pasti sangat dibenci gadis itu.
Gita dengan segera keluar dari ruangan itu, dia tidak mau jika ada hal aneh lainnya yang akan terjadi padanya.
Kebetulan sekali, saat Gita datang saat itu pula namanya dipanggil. Baskoro mengenalkannya sebagai anaknya yang akan meneruskan bisnisnya di Indonesia.
Gadis itu hanya memberikan sedikit sambutan karena merasa gugup.
Namun Gita tidak lepas dari pandangan semua orang, karena gadis itu baru pertama kali diperkenalkan, bahkan tidak ada yang tahu jika dia anak dari pengusaha kaya.
Teman-teman kampus Gita pun sebagian hadir, mereka begitu terkejut, mendapat fakta kalau Gita memang anak pewaris dari keluarga Baskoro.
Sangat tidak disangka kalau melihat penampilan Gita yang sederhana.
"Akhirnya dia menunjukan jati dirinya." Ucap Ina, meski Ina tidak mengambil jurusan yang sama di kampus dengan Gita dan tidak termasuk teman dekat ya, tapi dia hadir karena ayahnya bagian dari karyawan perusahaan Baskoro.
Sepertinya Ina mulai berubah, dia menyadari kesalahannya.
Saat Gita diperkenalkan sebagai penerus perusahaan Baskoro, Angga sama sekali tidak iri, ia sadar diri jika hanya anak angkat, dia juga sudah mendapatkan apa yang dia mau, perusahaan yang dikelolanya di luar negeri.
"Kak, aku kira perusahaan itu akan dipimpin oleh kak Angga?." Reza sedikit penasaran, jawaban apa yang akan diberikan Angga
"Hmm.. perusahaan yang di luar negeri saja sudah membuatku sibuk, aku akan fokus disana." Angga
"Kenapa mesti disana, bukannya lebih enak jika bisa bertemu keluarga, pulang ke rumah." Reza
"Iya, nanti kalau aku sudah berhasil membuat perusahaan disana berkembang pesat aku akan menjualnya dan mendirikan perusahaan baru disini." Angga
"Oh, jadi seperti itu." Reza.
__ADS_1
Reza merasa jika Angga pribadi yang baik dan tulus, kini dia tidak perlu mengkhawatirkan hal yang mengganggu pikirannya.
Apalagi tentang kedekatan Angga dan Gita, sepertinya terlihat jelas jika Angga sangat ikut bahagia dalam acara ini.
Hari ini Reza dan Gita bagaikan Ratu dan Raja, pesta ini khusus untuk mereka berdua, semua orang memberi selamat pada keduanya.
Mereka sangat serasi, Gita berpenampilan sangat cantik, dia berbeda dari biasanya, bahkan rekan bisnis papanya banyak yang memuji Gita, mereka merasa iri karena Hanna beruntung memiliki anak perempuan yang sangat cantik.
Padahal jauh dilubuk hati Hanna, dia merasa kurang beruntung karena Gita berbeda dari yang lain, susah diatur dan selalu membuatnya kewalahan.
Gita tak henti-hentinya memberi senyuman pada semua orang.
"Mah, kapan acaranya selesai? Gita mulai capek nih, ngantuk juga." Keluh Gita.
"Sabar sayang, ini acaranya selesai 2 jam lagi." Hanna.
"Astaga, ampun deh mah, Gita kan bilang mending acaranya sederhana aja." Gita merasa kesal.
"Hehehe.. tapi mamah sama papah kan banyak teman bisnisnya Git, lagian kan mau ngenalin kamu juga." Ucap Bu Hanna
Gita hanya bisa pasrah menunggu sampai acara itu selesai, gadis itu memang tidak suka keramaian, tidak suka datang ke acara yang seperti ini, dia gadis yang lebih suka menghabiskan waktunya sendirian dikamar.
Ah, kasur empuk gue.... Batin Gita
Meta dari jauh memperhatikan sepasang sejoli itu dengan tatapan bencinya. Dia merasa kesal karena rencananya tidak berjalan dengan harapannya.
"Si Gita itu apa kebal dengan obat ya? Masa sih tidak berefek apa-apa? apa dosisnya kurang banyak?." Ucap Meta pelan.
kalau dosis tinggi, terus dia mati, gue yang ribet juga kali ah, gue gak niat sampe sekejam itu. pikir Meta
"Apa Met?, tante gak denger disini terlalu berisik." Maya
"Gapapa tante, bukan apa-apa, tante lanjutin aja, Meta pulang duluan ya tante?." Meta
"Ok sayang." Maya
Meta memilih pulang, dia tidak mau berada diantara orang-orang yang sedang berbahagia itu.
"Aduh.." Meta terjatuh.
"Maaf ya, aku gak sengaja." Angga, lalu membantu Meta berdiri.
"Iya gapapa." Meta
Angga pun pergi begitu saja, sementara Meta bertanya-tanya dalam hatinya, dia penasaran sebenarnya siapa sosok laki-laki tadi, karena ini kali kedua mereka bertemu, dan sepertinya Angga tidak mengenali Meta.
Gadis itupun pergi menggunakkan taksi menuju rumah tante Maya.
__ADS_1
Apakah aku harus menyerah sampai disini? Tapi kan janur kuningnya belum melengkung? Pikir Meta
Sepanjang perjalanan gadis itu melamun.
***
Dua jam berlalu akhirnya acara itu benar-benar selesai, membuat Gita kini bisa bernapas lega.
"Mah.. ayo pulang..! Gita ngantuk nih kangen kasur." Gita
"Iya sebentar, kamu ini gak sabaran banget." Hanna
"Aku udah sabar dari tadi mah, ini di ujung sabar, eh diujung ngantuk." Gita
Reza yang mendengar keluhan tunangannya itu hanya tersenyum kecil, merasa Gita sangat menggemaskan.
"Mah, ayo kita juga pulang..!" Reza
"Ayo, Gita nya gak diajak pulang juga?." Goda Maya
"Kemana, kerumah kita?." Reza
"Belum syah Za, sabar napa." Ucap Sanjaya yang baru datang setelah berbincang lama dengan rekan bisnisnya.
"Siapa juga yang berpikir seperti itu." Keluh Reza
Maya menertawakan tingkah Reza, ibu itu suka sekali menggoda anak lelakinya.
Maya tidak menyangka akhirnya Reza bertunangan, memiliki pasangan yang kedepannya akan berumah tangga.
Sementara bagi Maya Reza tumbuh terlalu cepat, masih menganggap anak itu seperti anak kecil. Apalagi disaat Reza sakit, Maya akan ada menemaninya.
Setelah berpamitan, dua keluarga itu pulang dengan terpisah, bahkan berbeda arah jalan pulang.
Gita yang kelelahan dia sampai tertidur di dalam mobil.
"Astaga, dia ngorok mah.. Angga rekam ah." Ucap Angga yang bersiap dengan kamera Hp nya.
"Jangan jahil Angga, kasian adek kamu itu kecapean..!." Hanna
"Ah mamah, gak seru nih." Keluh Angga.
Namun Angga tetap merekamnya, video singkat itu membuat Angga ingin tertawa terbahak-bahak, namun sebisa mungkin dia tahan.
Aku gimanain ya video ini? Kirim ke Reza atau dibikin viral aja ya? Ahh.. apa aku terlalu kejam? Pikir Angga
Bersambung..
__ADS_1