
Namun Wina tak bergeming, hingga dimana kata-kata terakhir Tomi pun keluar.
"Maaf kan adik saya Pak, dan tolong jangan pecat saya..!"
Seketika Wina lemas, dia bahkan hidup bergantung pada kakaknya ini. Karena ayahnya telah menikah lagi dengan wanita yang lebih muda, membuat kehidupannya ditopang oleh kakak-kakak nya, Tomi merupakan salah satu kakaknya yang selalu memberikan uang kuliah padanya, demi masa depannya.
"Aku menyerahkan keputusan itu pada pak Angga dan non Gita, saya tidak berkuasa disini."
Seketika Wina berpikir jika bapak itu bos kakaknya maka laki-laki tampan itu dan juga Gita, Bos Besar nya. Dia mulai menyadari salah memilih musuh.
Bagaimana ini? Bagaimana kalau kakak dipecat gara-gara kesalahan gue? Batin Wina.
Dia kini menghampiri Gita dan mengangkat kedua tangannya yang ia satukan, memohon permintaan maaf dan pengampunan nya.
"Maafin gue ya, gue janji gak akan gangguin lo lagi." Ucap Wina dengan lesu.
"Hmm.. hanya menyayangkan saja pemikiranmu dan kelakuanmu yang dangkal itu. Menilai seseorang dari luarnya saja, bahkan so tau mengenai kehidupannya, mencaci karena ingin terlihat berharga? Justru itu merendahkan kualitas dirimu sendiri." Ucap Gita
Wina hanya menunduk.
"Nona bisa menyuruh adik saya melakukan apapun, asal jangan pecat saya, saya masih butuh pekerjaan." Ucap Tomi pada Gita.
"Aku tidak punya urusan denganmu, siapa bilang akan memecatmu, aku hanya punya urusan dengan wanita ini." Ucap Gita.
"Maafkan aku, aku yang salah, aku menyesalinya." Wina memohon lagi.
Karena Wina telah menyadari kesalahannya, Gita melepaskan wanita itu, tapi dia tidak akan segan-segan jika wanita itu berulah lagi.
Nisa yang baru sampai, melihat sahabatnya basah kuyup.
"Astaga, lo kalau gerah ya mandi Git jangan cuci muka disini. Hehe.."
Namun hanya dia yang tertawa, sementara yang lain menampakan wajah dingin, tajam dan mereka semua tak menghiraukannya.
"Lo tuh ya, temen sengsara malah seneng." Tatapannya kesal pada Nisa
" ya udah kak, nggak usah diperpanjang, anggap saja semuanya selesai, aku mau beli baju dulu di toko sebelah, baju aku basah." Ucap Gita pada Angga.
"Ok kalau kamu maunya begitu."
Gita pergi menarik tangan Nisa keluar kafe, sementara Nisa tak mau mengalihkan pandangannya dari Angga.
"Cepetan Nis..!"
"Iya .. iya." Jawab Nisa
Untung saja di seberang kafe ada toko baju yang lumayan lah ya, toko sederhana tapi modelnya lumayan bagus.
Gita juga menyuruh Nisa memilih beberapa baju dan mencobanya. Tentu saja sambil mencerigakan kejadian naas yang menimpa Gita tadi, lain halnya dengan Gita, Nisa malah lebih kepo mengenai kakak sahabatnya itu.
__ADS_1
"Lo tuh bukannya fokus dengerin gue, malah terus aja nanyain kak Angga, lo suka sama kakak gue?."
"Iya, dia ganteng."
"Hmm.. lo bakal jadi kakak ipar gue dong?."
"Iya lah, panggil gue kak Nisa cantik..!"
"Ogah, lagian emang kak Angga mau sama lo."
"Git, please… bantu gue ya, comblangin gue dong sama kakak lo."
"Hmm.. ya nanti gue pikir-pikir dulu."
Ternyata ada copet yang mengincar dompet Nisa, membuat Gita tak tinggal diam. Copet itu kalah dan terjatuh di depan toko, karena sempat melarikan diri.
Copet itu babak belur ditangan Gita, copet itu pasti sedang sial karena bertemu Gita yang masih dalam keadaan emosi pada Wina, membuat wanita itu memberikan beberapa pukulan mautnya.
"Rasain..! Makanya kerja dong jangan nyolong..!" Ucap Nisa
Setelah copet itu dibawa oleh beberapa polisi yang kebetulan lagi berpatroli di sekitar daerah situ, kini Nisa malah mengkhawatirkan copet itu.
"Git, copet itu gapapa kan? Gak patah tulang gitu? Gak parah kan, kasian tahu, lo tuh berlebihan mukulnya."
"Gue lagi emosi, dari pagi mood gue jelek, udah gitu banyak drama lagi."
Gita memilih menyudahi semuanya, dan berniat pulang. Tiba-tiba dia teringat wanita manja yang menyuapi Reza pagi tadi.
Kebetulan sekali saat pulang, bu Hanna memberikan sambungan telepon dari bu Maya, menanyakan keadaan Gita.
"Gita.. maaf ya tadi tante ketiduran, tante sampe gak tahu kapan kamu pulang."
"Iya gapapa tante."
Gue tanyain gak ya? Pikir Gita
"Makasih loh tadi udah sempet jagain Reza, dia kalau sakit memang begitu, mendadak manja.hehe."
"Sama-sama tante, oh iya tapi tante tenang aja kan tadi ada teman wanita Reza yang begitu perhatian jagain Reza, namanya siapa ya tan aku lupa?."
Padahal Gita memang tidak tahu nama wanita itu.
"Oh itu Meta, sepupunya Reza kok, bukan seseorang yang spesial."
"Hehe.. iya gapapa tante spesial juga."
"Tante maunya kamu yang spesial."
"Hmm.. ah tante, Gita mah biasa aja gak ada yang spesial."
__ADS_1
"Hati kamu yang spesial sayang, ya udah tante mau suapin Reza lagi ya."
"I-iya tante."
Astaga jadi Reza dengerin gue ngomong dari tadi, jangan sampai dia nganggep gue kepo dan cemburu. Batin Gita
Gita tidak habis pikir dengan apa yang dilakukannya barusan, dia merasa gelisah, dia bergegas menuju kamarnya berusaha tertidur dan melupakan semua kejadian hari ini yang begitu melelahkan.
***
Meta memang sepupu Reza, dia memang tertarik dengan Reza, tapi lelaki itu selalu mengacuhkannya, menganggap nya hanya sebatas saudara. Bahkan dengan kata saudara itu dia tidak bisa berbuat lebih jauh ketika Meta hilir mudik ke rumahnya, bahkan masuk ke kamarnya tanpa izin.
Reza selalu dibuatnya pusing dengan semua tingkah lakunya.
Reza harus membuat Meta menemukan laki-laki yang bisa membuat wanita itu menjauh dari hidupnya.
Dikala Reza menyampaikan keluhannya pada ibunya, bu Maya tak pernah menanggapinya, menurutnya wajar jika sepupuan itu dekat. Padahal Reza benar-benar risih.
Saat sambungan telepon itu berakhir, bu Maya melihat Reza tersenyum.
"Kamu puas? Kalau kamu mau ngomong sama Gita ya telpon lah sendiri yang jentel, bukannya nyuruh mamah, dasar.." cerca Maya
"Gapapa mah kan aku lagi sakit."
"Iya tapi meski begitu kan masih bisa menelpon sendiri."
"Menurut mamah Gita cemburu gak sih sama Meta?."
"Hmmm.. entahlah, kamu mau jawaban apa dari mamah?."
Astaga bukannya dijawab malah balik nanya, mamah-mamah.
Reza menarik selimutnya dan mengabaikan ibunya itu.
"Ya sudah kalau maunya begitu, kamu tidur aja sendirian disini, kamu udah sembuh kan?."
Bu Maya melangkahkan kakinya pergi.
"Jangan…..!" Teriak Reza panik.
Entahlah dia juga tidak mengerti kenapa bisa dia takut tidur sendirian dikala sedang sakit.
Bahkan ini menjadi Rahasia diantara ibu dan anak ini, terkecuali Gita yang baru diberitahu oleh bu Maya.
Kalau sampai Reza tahu rahasianya bocor, dia pasti malu sekali.
"Mah.. jangan tinggalin Reza..!, kalau sakit, Reza suka lihat hal aneh mah, Reza takut."
"Astagfirullah… tuh kan ada apa di belakang mamah." Ucap Reza
__ADS_1
Bersambung...