
Angga masuk ke rumah Nisa dan disambut baik oleh Pak Damar dan Bu Fatma.
"Pak Reza, makasih udah anterin anak saya pulang, maaf sekali kemarin tidak bisa datang ke acara pertunangan adik bapak, keluarga saya ada acara mendesak." Ucap Pak Damar
"Gapapa kok pak, jangan panggil bapak, saya merasa kurang nyaman.hehe, bisa panggil nama saja pak, ini kan bukan area kantor juga." Ucap Angga dengan sedikit ragu
"Benar juga, hehe.. Nak Angga sudah sejauh mana hubungannya dengan Nisa anak saya?, saya pasti mendukung kalian.hehe." Pak Damar
"Maksud bapak, hubungan yang seperti apa ya?" Angga benar-benar bingung.
"Papah, apa-apaan sih? Kak Angga itu cuman nganterin aku, kebetulan aja ketemu, papah jangan mikir yang terlalu jauh deh..!" Nisa yang datang dari arah dapur membawa minuman untuk Angga.
"Ya.. namanya juga orang tua, berharap dapat mantu yang seperti Nak Angga ini. Hehe.." Pak Damar
Angga hanya tersenyum kecil, dia bingung harus menjawab apa.
Pak Damar mengajak Angga bermain catur bersama. Angga yang memang pintar dalam bermain catur membuat Pak Damar mendapatkan lawan yang seimbang.
Dua jam berlalu, belum ada yang memenangkan permainan itu, Nisa yang datang menawarkan makan siang pada ayahnya itu tidak digubris sama sekali saking fokusnya.
"Nanti aja Nis, papah belum lapar nanggung ini, sebentar lagi pasti menang." Ucap Pak Damar.
Angga yang mendengarnya pun merasa lebih bersemangat untuk mengalahkan lawannya, ingin membuktikan jika dia pasti akan menang.
***
Siang itu Reza dan Gita makan siang bersama, mereka menikmati momen berdua.
Saling bercanda, menikmati obrolannya sampai mereka lupa waktu.
Reza juga sempat membahas Angga dan Kirana, memberitahu Gita tentang rencananya.
"Bagaimana kalau kita comblangin kak Angga?."
Reza
"Sama siapa?." Gita
"Kirana." Reza
"Apa? Memang kamu cenayang ya? Bisa tahu kalau kak Angga tertarik sama Kirana." Gita merasa heran.
"Aku hanya sempat melihat tatapan kak Angga saja, aku kan laki-laki, paham dengan tatapan yang kak Angga berikan saat melihat Kirana." Reza
"Apakah terlihat jelas?." Gita
__ADS_1
"Iya.. Gimana kamu mau ikut gabung dalam rencanaku?." Reza
"Gimana ya, kak Angga bilang sih tertarik dan penasaran, tapi aku tidak tahu kalau kak Angga mau atau tidak kalau sampai berpacaran." Gita
"Pasti mau Git." Reza
"Ok deh." Gita
Reza sudah menyusun rencana , berharap itu akan berhasil membuat mereka semakin dekat.
Reza mengantar Gita pulang setelah selesai makan, gadis itu mempunyai acara lain dengan Bu Hanna, ibunya aka mengajari Gita cara berdandan, menggunakan berbagai macam alat make up.
Gita awalnya menolak, namun Bu Hanna terus saja membujuk, sampai akhirnya Gita menyerah dan menyetujuinya.
Reza pergi lagi, kembali ke Rs, Gita pun memasuki rumahnya yang kelihatan sepi. Ya.. karena beberapa pelayan sedang pulang kampung.
"Assalamu'alaikum.." Ucap Gita, namun tidak ada jawaban.
Ternyata Bu Hanna sedang berada di dapur memasak bubur untuk Pak Baskoro, dia juga membuat salad buah yang segar.
"Mah, aku mau dong saladnya?." Gita
"Boleh, kita jadikan belajar memakai make up?."
Hanna
Bu Hanna hanya tersenyum senang, dia dengan segera pergi ke kamar suaminya, mengantarkan makanan untuk laki-laki itu, kesehatan Baskoro mulai membaik, sudah lebih sehat, bisa makan sendiri, dan duduk di kursi roda sendiri.
"Papah makan sendiri aja mah, mamah mau ngajarin Gita dandan kan? Yang bener mah ngajarinnya..!" Baskoro
"Iya pah, jangan meragukan mamah dong pah..!" Ucap Hanna, dia berlalu pergi.
Hanna mengambil alat make up nya dan bersiap menuju kamar Gita, alangkah terkejutnya dia melihat anak gadisnya itu sudah tertidur pulas, dibangunkanpun rasanya gak tega.
"Anak ini, bener-bener deh mentang-mentang lagi PMS dari kemarin tidurnya gak kenal waktu, yaudahlah nanti sore aja dibangunin." Ucap Hanna pelan.
Ibu itu menutup pintu kamar Gita dengan pelan dan kembali menemani suaminya.
***
Sepanjang jalan Reza tersenyum senang memikirkan rencananya yang akan berhasil, dia akan merasa tenang jika Kak Angga memiliki pasangan.
Reza kembali ke RS untuk menjemput ibunya pulang, dia berjalan dengan santai.
Namun dia sangat terkejut melihat pemandangan di depannya.
__ADS_1
"Kenapa mamah menampar om Aldi?." Reza
Reza mulai menguping pembicaraan mereka.
"Apa kamu tahu, secara tidak langsung kamu pun menyakiti kirana hah? Dia juga akan merasa bersalah hidup bersama wanita yang telah dihancurkan kehidupannya oleh ibu kandungnya sendiri." Maya
"Jika kamu tidak peduli dengan Jani, kenapa kamu tidak bercerai saja dengannya? Apa gara-gara selingkuhanmu itu sudah mati?." Maya
UAldi tidak menjawab pertanyaan Maya, dia diam tanpa kata.
Apa? Maksudnya tante Jani itu bukan ibu kandung Kirana? Pikir Reza
"Mba, mba tidak ada diposisiku, aku memang menyesal tapi aku tidak bisa membuang anakku sendiri kan?." Aldi
"Kamu bisa menyewa baby sitter, khusus untuk merawat Kirana. Tapi kamu malah membawanya dihadapan Jani, bahkan menyuruhnya untuk merawatnya? Posisi Jani kan sudah tahu bahwa itu anak haram kamu dengan selingkuhanmu, pasti hatinya hancur Aldi." Maya emosi
"Meskipun sekarang misalnya Jani bisa menerima Kirana dan menyayanginya, tetap saja posisi itu akan sulit bagi Kirana saat dia tahu semuanya, aku yakin Kirana juga akan membencimu." Maya
"Maka dari itu mba, jangan sampai kirana tahu, tolong jaga rahasia ini..!" Aldi
"Kamu egois Aldi." Maya kesal, dia pergi dari hadapan laki-laki itu, dia muak. Maya kembali masuk ke ruangan dimana Jani dirawat.
Reza merasa kenapa dia akhir-akhir mendapatkan fakta yang mengejutkan, Angga bukan anak kandung Baskoro dan Hana, lalu Kirana bukan anak tante Jani, apakah dia anak kandung Maya dan Sanjaya? Hati Reza kini merasa khawatir.
Dia berjalan menuju ruangan tantenya dirawat, masuk secara perlahan, melihat ke arah ibunya dan omnya yang saling menunjukan wajah acuh tak acuh.
Reza memandang wajah Kirana, dia merasa kasihan pada gadis itu, terlebih jika tahu fakta tentang jati dirinya.
Jani yang dirawat oleh Kirana dengan sepenuh hati, membuat hati Jani melunak, dia mulai tersenyum pada Kirana, dan mulai bertanya mengenai kuliahnya yang sempat terabaikan gara-gara dirinya.
Namun gadis itu tidak keberatan, dia bisa mengejar ketertinggalannya di kampus.
Maya sangat menyayangkan semua yang terjadi pada Jani, bahkan Jani masih berjuang mendapatkan garis dua sampai saat ini. jani ingin memiliki anak sendiri dari Aldi.
padahal bisa saja kan Jani memilih menikah lagi dengan pria lain, dan mencari kebahagiaan lain.
Tiba-tiba telepon Reza berdering.
"Assalamu'alaikum, Za.. kamu kesini ya cepetan penting, aku share lok, ok?. wasalamu'alaikum"
Angga
apa-apaan sih ini kakak ipar? bahkan aku belum sempat menjawab salamnya, eh main tutup aja. Batin Reza
Bersambung...
__ADS_1