
Meski badan selir Mey sedikit lemah karena jenis racun yang ia minum, tapi ia kini merasa senang bisa keluar dari penjara yang benar-benar menyiksanya itu.
Tidak ada cahaya matahari yang masuk, dan juga ditambah penjara itu berada di bawah tanah membuatnya benar-benar tidak tahan, udaranya yang lembab dan pengap, suasananya yang gelap, dan makanan yang sederhana membuatnya rela meminum racun yang meski dosisnya rendah, ia sengaja meminum racun itu agar ia bisa keluar dari penjara, dia belum menyerah untuk mengalahkan Ratu Anggrek.
"Hmm.. meski badanku sedikit lemas tapi racun itu tidak akan membahayakan nyawa ku, yang aku minum hanya racun yang berasal dari bunga saja, aku harus segera membuat rencana baru lagi agar aku tidak kembali ke tempat mengerikan itu."
Selir Mey berharap paman Heri mengunjunginya dan memberinya solusi akan masalah ini, dan benar saja saat menjelang malam selir Mey mendapat kunjungan darinya.
"Paman…"
"Benarkah kamu mencoba bun*h dir*?, mengapa kamu mendadak lemah begini Mey?"
"Tidak paman, aku hanya pura-pura saja, lagipula aku baik-baik saja, lalu paman kenapa tidak menolongku?"
"Kesalahanmu itu sangatlah berat, tentu saja paman perlu rencana untuk membebaskanmu, kenapa juga kamu bod*h sampai ketahuan begitu?"
"Sudahlah, aku masih lemas jangan memarahiku dulu paman, sekarang aku membutuhkan solusi."
"Hmm.. tunggulah, paman juga akan memikirkan cara membebaskanmu."
"Aku sangat berharap akan hal itu, dengan semua yang telah aku lakukan untuk paman selama ini tentu paman harus menolongku."
"Iya, iya… paman pergi dulu."
"Hmm.. anak ini benar-benar membuatku kesal, kenapa dia gak mat* saja sekalian, aku hanya tidak mau rahasiaku dibongkar olehnya." Gumam Paman Heri dalam hati.
* *
Pagi ini Ratu merasa senang karena tidak mengalami mual muntah lagi, dia merasa terkejut karena hari ini ia mendapatkan surat dari Raja Deon.
# # # #
Salam rindu untukmu Ratu Anggrek
Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu, hingga kau terluka dan calon anak kita pun hampir celaka. Aku merasa khawatir sekali dengan keadaan kalian, ingin rasanya aku pulang memelukmu dan mengelus perutmu dan menanyakan… "Apa kabar anak ayah?, jangan nakal dan jangan merepotkan ibumu ya..!" Hhmm.. pasti menyenangkan.
Selalu jagalah kesehatanmu..!, Makanlah dengan teratur, banyak istirahat dan jangan bertingkah seperti anak kecil yang berlarian kesana-kemari..!
Jangan berani-beraninya kamu melompati kandang sapi lagi, ingat ada bayi di perut mu sayang..! Haha.. sungguh lucu jika aku mengingat kejadian itu, terukir jelas dalam ingatanku.
Ingin rasanya aku segera pulang, tetapi tanggung jawabku disini menahanku untuk kembali. Tunggulah kedatanganku, aku pasti segera pulang, jaga anak kita selalu ya..!
__ADS_1
Oh iya jangan terlalu sering bertemu dengan Ceng, aku tidak ingin kau keluyuran lagi bersamanya seperti saat kau menyelinap ke luar istana, rasanya aku ingin marah saat mengetahui hal itu tapi saat melihat wajahmu yang sepertinya senang menikmati waktu bermainmu.. aku mengurungkan niatku, aku janji nanti akan membawamu jalan-jalan keluar istana bertiga bersama calon anak kita.
Ingat jangan pergi bersama Ceng lagi, aku cemburu, aku tak ingin kau dekat-dekat dengannya..!
Semoga kalian baik-baik saja disana, tunggu ayah kembali ya nak..!
# # # #
Setelah Ratu membaca surat itu, ia kemudian melipat-nya kembali dengan rapi.
"Hmm.. apa-apaan dia, gue sampai tertawa geli saat membaca surat ini, sungguh kekanak-kanakkan sekali, tapi balas tidak ya? Gue bingung, sepertinya Deon memang sudah mencintai Anggrek, haruskah gue balas surat ini? Tapi rasanya gue gak sanggup membuat kata-kata manis seperti itu, aarrgghh.. gue pusing."
Ketika Sani masuk, ia langsung bertanya karena melihat keadaan sang Ratu, "Ratu, Ratu kenapa?"
"Tolong kamu balas surat ini..!" Perintah Ratu sambil memberikan surat dari Raja Deon
"Kenapa saya? Bukankah surat itu dari yang mulia Raja?" Sani merasa heran
"Iya, tapi aku tidak bisa merangkai kata-kata manis seperti itu, kau saja yang membalasnya.. anggap saja kau itu aku."
"Ratu tidak usah khawatir, saya akan membalas surat ini dengan kata-kata indah."
"Baik Ratu."
Ratu Pun akhirnya pergi menemui ibu Suri, ia ingin membicarakan mengenai masalah selir Mey. Ia harus memastikan Mey akan mendapatkan hukuman, sementara Sani.. ia hanya fokus dengan surat itu di kamar Ratu.
Saat Sani membuka surat yang ditulis Raja, ia tersenyum-senyum sendirian.
"Emm.. manisnya, andai aku mendapatkan surat cinta seperti ini." Gumam Sani
Sani membaca surat itu sampai selesai agar ia bisa membalas surat itu, selama membaca surat Sani terus tersenyum seakan surat itu dibuat untuknya. "Akhirnya selesai juga, aku harus menyimpannya dulu agar Ratu bisa membacanya terlebih dahulu."
Saat Sani keluar dari kamar Ratu, ia bertemu pengawal pribadi sang Raja, ia menanyakan apakah ada surat balasan yang harus ia bawa karena ia akan segera pergi ke perbatasan.
Sani yang bingung, akhirnya menyuruh sang pengawal menunggu sebentar, ia menyalin surat tadi. Memberikan 1 surat untuk dibawa pengawal dan yang satunya lagi ia biarkan diatas meja.
Lalu ia kembali melakukan aktivitasnya, ia akan mengecek halaman depan dan memastikan bunga-bunga disana tumbuh dengan indah.
Saat ia menyiram bunga, ia dikagetkan dengan kedatangan Pangeran Ceng, "Sani, apakah Ratu ada?"
Sani memandang pangeran Ceng tanpa berkedip, bahkan ia menyiram air ke arah pangeran Ceng.
__ADS_1
"Astaga, apa-apaan kamu Sani, apakah aku terlihat jelek dan kau kira aku belum mandi hingga kau siram dengan air seperti ini?." Ucap Pangeran Ceng kesal
"Ah maaf pangeran, aku tidak sengaja."
"Hmm.. sudahlah tidak apa-apa aku hanya kaget saja, ini tidak terlalu basah nanti juga kering dijalan karena terkena sinar matahari..hehe Ratu ada?"
"Ratu sedang tidak ada, yang mulia Ratu sedang berkunjung menemui ibu Suri."
"Ah baiklah, aku pergi, sampaikan padanya jika aku mencarinya..!"
"Baik pangeran." Jawab Sani sambil menunduk.
Setelah pangeran Ceng pergi, Sani mengutuk dirinya karena bertingkah bodoh sampai-sampai menyiram pangeran. Tapi ia kagum karena meskipun pangeran mempunyai kekuasaan tapi ia tidak bersikap semena-mena, pangeran jarang marah dan sering bercanda, sepertinya Sani memang benar-benar menyukai pangeran Ceng.
Sani tersenyum senang, ketika membayangkan pangeran Ceng dan tiba-tiba ia merasa sedih, "Aku hanyalah seorang pelayan, tak seharusnya aku menyukai seorang pangeran. Sani sadarlah..!" Gumam Sani dalam hati.
Kemudian ia melanjutkan dengan menata dan merapikan bunga-bunga ditaman, membuang daun-daun yang mati, memetik bunga-bunga yang sudah kering dengan keadaan hati yang galau, kemudian ia kembali masuk untuk mengecek kebersihan di dalam ruangan.
Ratu sudah kembali, ia menyapa Sani lalu masuk ke kamar karena ia merasa lelah, saat hendak menuju ranjang Ratu melihat dua surat yang tergeletak, lalu ia membacanya.
"Ya ampun, ini sungguh menggelikan.. bisa-bisanya Sani membuat balasan surat seperti ini, seakan gue haus kasih sayang."
"Sani kemarilah..!"
"Ya Ratu.. ada apa?" Sani datang berlari menghampiri Ratu
"Buat balasan surat yang baru, yang ini aku tidak menyukainya, buat lah kata-kata manis tapi tidak berlebihan seperti ini juga Sani..!"
"Hehe.. bagaimana ya, ta-pi su-suratnya sudah dikirimkan Ratu, tadi diambil oleh pengawal pribadi Raja." Sani menjawab dengan gugup, ia menyadari kesalahannya.
"Lalu ini? Bukannya suratnya masih ada?"
"Emm.. itu salinannya saja Ratu."
"Apa?" Ratu kaget, ia juga khawatir dengan tanggapan Deon setelah membaca surat itu, ia mengutuk dirinya sendiri karena mempercayakan surat itu pada Sani.
Bersambung…
Rekomendasi novel hari ini, yu kepoin.. ! :)
__ADS_1