
"Itu masa lalu Bu Hanna, dia … ," ucap Pak Andra yang belum sempat diteruskan karena suara handphone nya berbunyi.
"Sebentar ya, Bu Hanna… saya angkat telepon dulu?" Andra
"Iya silahkan." Hanna
Padahal sebentar lagi aku bisa mengorek banyak informasi, greget deh. Batin Hanna
Pak Andra mengobrol cukup lama, sehingga Hanna pun pergi menemui suaminya yang kebetulan akan menjalani terapi berjalan, Baskoro mulai mengalami kemajuan.
Semangat yang besar juga sangat membantu dalam terapi ini, maka Hanna selalu setia mendampingi suaminya itu.
Andra mempunyai urusan penting yang harus segera diatasi, dia mengajak pulang Dafa meski anak itu sepertinya masih betah disana.
"Ayo sayang kita pulang, besok kita kesini lagi, ayah janji..!" Andra
"Tapi pah…" Dafa
"Ayolah, besok lagi ya?" Andra
"Iya deh, Kak Angga aku pulang dulu ya?, kakak cepet sembuh biar bisa main lari-larian lagi." Dafa
"Hehe… iya Dafa, kamu hati-hati dijalan."
Dafa pulang dengan wajah lesunya, dia masih ingin bermain, Andra pun menasehati anaknya itu, tidak boleh bermain lama-lama dengan Angga, kasihan karena masih sakit, akhirnya anak itu mengerti.
***
Jani yang menunggu kedatangan Kirana, dia terus mondar-mandir merasa gelisah, ingin cepat memberitahu kabar baik ini.
Padahal hari itu masih siang, sementara Kirana pulangnya sore hari. Waktu berputar terasa lambat bagi Jani, bahkan dia yang tak sempat tidur semalam, siang ini dia sama sekali tidak mengantuk.
Masih pukul 15.00, jam berapa ya biasanya Kirana pulang? Pikir Jani
"Bi … ," panggil Jani
"Iya bu, ada yang bisa bibi bantu?" Bi Darti
"Emm, biasanya non Kirana pulang jam berapa dari kampusnya?" Tanya Jani.
Ya , selama ini dia tidak memperhatikan anak itu sehingga dia bahkan tidak tahu jadwal pulang Kirana.
"Jam 16.30 bu kalau seingat bibi." Bi Darti
"Oh, bibi boleh kembali. Makasih ya bi." Jani
"Sama-sama bu." Bi Darti
__ADS_1
Jani menunggu kembali, namun saking lamanya dia akhirnya tertidur di sofa.
Kirana datang, dia terpaku saat melihat ibunya itu sampai tertidur di sofa.
"Eh non Kirana, ibu nungguin non dari tadi sampe ketiduran di sofa." Bi Darti
"Benar begitu bi?" Kirana
"Iya non, bibi kebelakang dulu ya non." Bi Darti
Benarkah? Baru kali ini mamah nungguin aku pulang, rasanya aku memang mempunyai ibu. Pikir Kirana
Memang selama ini Jani cuek pada Kirana, sehingga saat melihat pemandangan ini gadis itu merasa terharu.
"Mah, bangun mah… jangan tidur disini nanti badan mamah pegel-pegel lagi..!" Kirana
"Kirana… kamu sudah pulang, mamah mau ngasih kamu kabar baik." Jani
"Oh tentang itu, iya mah.. tapi kita makan dulu yu mah, aku lapar..!" Kirana
Akhirnya Jani menunda apa yang ingin dibicarakan sebelumnya, dia juga merasa lapar karena menunggu Kirana terlalu lama.
Aku bicarakan setelah makan saja, kalau sambil makan terus Kirana kaget, nanti bisa repot kalau keselek. Pikir Jani
Karena hubungan mereka sekarang semakin membaik, Jani suka bertanya tentang kegiatan Kirana, sempat menanyakan laki-laki yang dekat dengannya atau pacar, namun gadis itu bilang dia tidak memiliki pacar atau teman lelaki yang dekat dengannya.
Banyak yang menyukai Kirana, dan terang-terangan menyatakan cinta, namun saat gadis itu menolak karena tidak ingin berpacaran, banyak laki-laki yang berpikir dan bahkan mengatai Kirana munafik atau sebutan yang lainnya.
Gadis itu hanya tersenyum menanggapi omongan laki-laki yang tidak terima oleh keputusannya.
"Bagus, kamu sebaiknya fokus belajar aja Kirana, laki-laki yang benar-benar cocok sama kamu nanti akan datang dengan sendirinya, atau mau nanti setelah wisuda mamah jodohin aja?, hehe.." Jani
"Iya aku mau fokus kuliah, emm.. kalau mamah memilihkan calon suami yang menurut mamah baik buat aku, kenapa tidak? Aku kan bisa ta'aruf dulu sebelum memutuskan." Kirana
"Oke, bener ya?" Jani
"Iya mah, oh iya mah aku boleh gak kalau menjenguk papah sendirian?" Kirana
"Emm.. kamu ditemenin Angga aja, nanti kalau udah sembuh, maaf ya… mamah belum siap ketemu papah kamu." Jani
"Iya gapapa ko mah, kak Angga? Aku takut merepotkan dia mah, mungkin kak Reza aja kali ya?" Kirana
"Hmm.. mamah lebih setuju kamu pergi sama Angga." Jani
"Kenapa?" Kirana
"Karena tugas dia jagain kamu." Jani
__ADS_1
"Maksud mamah? Aku kan bukan siapa-siapanya kak Angga, kalau istri sih iya dijagain suami, jangan bilang mamah mau jodohin aku sama dia?" Kirana
"Bukan, bukan itu maksud mamah." Jani
Tingnong
Tingnong
Bel rumah itu berbunyi, Kirana beranjak dari tempat duduknya untuk mengecek siapa yang datang.
Ternyata Pak Narno satpam depan gerbang yang mengantar paket pesanan punya Kirana, dia memesan satu set gaun pesta namun berjilbab, malam ini ada acara pertunangan temannya.
Untung saja bajunya datang tepat waktu. Pikir Kirana
"Siapa? Padahal biar bibi yang bukain pintunya." Jani
"Gapapa mah, aku memang lagi nungguin barang ini, ternyata bener udah datang pesanan aku mah." Kirana
"Emang itu isinya apa? Lain kali kalau mau beli barang kamu bilang aja, gak usah pake uang tabungan kamu..!" Jani
Kirana terbiasa seperti itu sejak kecil, selalu berusaha menabung terlebih dahulu jika menginginkan sesuatu, karena dulu Jani hanya memenuhi kebutuhan hidup Kirana saja.
Tapi dari hal itu, Kirana bisa berlatih bersabar, dan bisa membedakan mana yang kebutuhan, mana yang keinginan, dia bisa mengelola keuangannya dengan baik, dia hanya akan membeli barang yang dirasa perlu saja.
"Iya mah, aku mau cobain baju ini dulu ya mah, mudah-mudahan pas, soalnya buat malam ini." Kirana
Gadis itu berlalu pergi menuju kamarnya, dan Jani menghembuskan napas kasarnya itu.
Padahal aku ingin memberinya kejutan, kenapa dia tidak penasaran ya, bahkan tidak ingat, aku saja dibuat sampe begadang semalaman. Keluh Jani dalam hatinya.
Setelah menunggu sampai 10 menit, wanita itu mengetuk pintu kamar Kirana, lalu masuk.
Ternyata gaun itu pas di tubuh gadis itu.
"Bagus gak mah?" Kirana
"Bagus, cocok buat kamu." Jani
"Mamah mau gak nemenin aku ke pesta pertunangan temanku?," tanya Kirana yang sedikit ragu.
"Wah, mamah diajak nih? Boleh, kalau gitu mamah siap-siap ya, biar gak bikin kamu malu, mamah harus dandan yang cantik." Jani
Wanita itu begitu bersemangat untuk mencari baju yang senada dengan warna gaun Kirana, saking semangatnya bahkan dia lupa tentang hasil tes DNA itu.
Jani begitu senang karena ini pertama kalinya dia pergi bersama Kirana ke acara pesta, saat ini dia seperti benar-benar memiliki anak gadis yang sekaligus bisa menjadi teman, yang bisa diajak kemana-mana bersama.
Bersambung….
__ADS_1