Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Diterima


__ADS_3

Kenapa gue baru sadar ya kalau dia itu lumayan, cakep iya, humoris iya , baik iya sih meski sedikit nyebelin. Batin Gita


"Hai.. udah lama nunggunya?." Tanya Reza, dia menyembunyikan sesuatu dibalik tangannya yang ia sembunyikan di balik badannya.


"Gak kok, ayo pulang..!"


Reza berjongkok, kini berlutut dihadapan Gita, satu tangan memegang bunga mawar, dan satunya lagi memegang kotak kecil berisi cincin yang cantik.


Apa dia mau ngelamar gue disini?, disini? Yang bener aja. Pikir Gita


"Gita.. aku harap kamu menerima perjodohan kita dan menerima aku sebagai pacarmu yang sebentar lagi akan jadi tunanganmu." 


"Gita, lo mimpi apa semalam? Lo dilamar kak Reza di depan umum, lo harus terima..!" Ucap Nisa berbisik di telinga Gita.


Astaga, gue malu jadi bahan tontonan di kampus, tapi kalau gue tolak, harga diri Reza pasti jatuh sejatuh jatuhnya, gimana dong?


Kenapa mesti di tempat umum sih, kan bisa dinner berdua, lebih romantis dan lebih enak gak jadi bahan gosip orang. Gumam Gita


Sebagian wanita yang sedari dulu mengejar Reza merasa kecewa dan kesal. Mereka memberikan tatapan tajam pada Gita. Membuat gadis itu sedikit merinding.


Sementara yang lainnya bersorak ria.


"Terima… terima.. terima…!"


Suara itu seakan adalah suara isi hati Gita, wanita itu diam sejenak, lalu mengangguk dan menerima cincin dan bunga itu.


Kini hadiah itu sudah ada di tangan Gita.


Reza mengeluarkan cincin itu dan memasangnya di jari manis Gita.


"Terimakasih.." Ucap Reza


Gita yang merasa malu, meraih tangan Reza, menyeretnya ikut berlari sekencang mungkin menuju parkiran. Wajahnya merah merona, jantungnya berdetak tak terkendali, seakan dia tak ingin menunjukan wajah meronanya pada semua orang, dia terlampau malu.


Nisa yang melihat aksi sahabatnya itu, kini tersenyum.


"Gue bahagia Git, liat lo bahagia, mudah-mudahan kebahagiaan lo menular sama gue." Gumamnya pelan.


Semua mahasiswa membubarkan diri, mereka yang iri terus saja bergosip, menjelekkan Gita.

__ADS_1


Orang yang iri itu berpendapat bahwa Gita sangat tidak pantas untuk Reza, Nisa yang mendengarnya pun merasa geram.


"Kalau Gita gak pantas, lalu… apa kalian juga pantas? Hahaha.. bahkan menurutku Gita lebih baik dari kalian."


"Jelas saja dibela, dia kan sahabat lo, memangnya pantas cewek yang miskin dan berpenampilan aneh itu jadi pacar Reza? Gue yakin temen lo itu pasti pake pelet."


"Astagfirullah… suatu saat kalian akan menyesal karena merendahkan Gita, melihat dia hanya sebatas penglihatan mata kalian saja, sekilas saja melihat tapi ratusan cacian kalian berikan."


Nisa beranjak pergi, dia tidak mau semakin emosi, sementara Wina yang melihat adegan romantis tadi, dia sama sekali tidak merespon apapun membuat temannya yang lain merasa heran.


Namun Wina tak berniat memberi tahu jati diri Gita yang sebenarnya pada semua orang. Dia memang tidak bisa menyentuh Gita kali ini, dia tidak mau mengambil resiko, namun jika dia masih bisa melihat temannya merundung Gita, kenapa tidak?


Itulah yang Wina pikirkan, berharap orang lain lah yang membenci Gita, memperlakukannya secara kasar namun bukan dari tangannya langsung.


"Hey Win, malah ngelamun aja, gue nanya dari tadi, kenapa lo tumben diem aja? Biasanya lo paling semangat kalau soal Reza."


"Hmm.. gapapa, gue lagi males aja, kalau kalian masih mau ngerjain tu anak, ya terserah kalian, asal jangan bawa-bawa gue, bukannya takut, gue gak mau bikin masalah, kakak gue udah gak mau ngurusin gue lagi kalau gue bikin rusuh terus."


***


Gita dan Reza kini sudah berada di satu mobil yang sama dengan nafas yang masih belum teratur karena lelah berlari.


Sejenak mereka diam, lalu tertawa bersama.


"Hahaha.. enak aja, gue seneng aja bisa ngerasain hal yang belum pernah gue rasain."


"Tapi lo beneran nerima gue kan? Jangan bilang tadi lo cuma pura-pura karena gak tega nolak gue di depan banyak orang?." Tanya Reza


"Hmm iya gue gak tega nolak lo didepan umum."


Reza mulai merasa kecewa, seakan ia jatuh dari atas tebing, hatinya hancur dan berantakan. Bukannya tadi kita bisa tertawa bersama? Lalu apa ini? Batin Reza


"Itu salah satu alasan gue, tapi kalau gue boleh request, gue mau moment itu tuh cuma kita berdua yang tahu, dinner berdua gitu." Ucap Gita meneruskan ucapannya.


Senyum Reza mengembang lagi.


"Oh jadi lo lebih suka yang begitu, ok malam ini kita dinner."


Gita yang terkejut seketika menutup mulutnya dengan tangannya. Dia tak menyangka jika dia bisa mengatakan apa yang ada dalam pikirannya dan bahkan Reza mengabulkannya.

__ADS_1


Membuat hatinya merasa hangat, menemukan seseorang yang begitu pengertian, yang mau menuruti apa yang dia inginkan, membahagiakan dirinya. Memperlakukannya secara spesial, bahkan Reza tidak malu saat semua temannya menjelekan Gita.


Reza menatap wajah Gita dengan lekat, penuh damba, perlahan mendekatkan badannya, supaya bisa merasakan deru nafas wanita itu, supaya bisa mendengarkan detak jantung wanita itu yang akan memberikan kejujuran akan isi hati yang sebenarnya.


Gita yang semakin gugup kini memejamkan matanya.


"Ayo jalan, bukannya aku butuh berdandan cukup lama agar terlihat cantik nanti malam." Ucap Gita sambil memejamkan mata.


Reza hanya bisa menahan tawanya.


"Kamu lucu Git.." Ucap Reza, dia memasangkan sabuk pengaman pada kursi Gita.


Gita membuka matanya.


Kamu? Kamu? Gak salah dengar kan gue? Biasanya juga Lo, hehehe.. cara bicaranya juga mulai berubah, apa gue juga harus manggil kamu? Atau kak Reza? Ah… dengernya aja gue geli.. Pikir Gita


Mobil itu kini melaju, meninggalkan area kampus menuju rumah Gita. Selama perjalanan mereka membisu, entahlah rasanya Gita tak mampu memulai pembicaraan, apalagi setelah mendengar kata KAMU membuatnya sedikit canggung.


Bahkan kini dia ragu mau memanggil Reza dengan sebutan apa.


"Git.. udah sampai nih." Ucap Reza


"Ah iya kak, eh iya Za." Jawab Gita gugup.


"Hehehe.. jangan canggung gitu, panggil aja yang menurut kamu nyaman Git..!"


"Ah iya. Ok, aku masuk dulu ya."


"Hmm.. aku tunggu nanti malam, dandan yang cantik ya..!" Ucap Reza berbisik pelan ditelinga Gita, membuat pipi wanita itu merah merona.


"I-iya." Jawab Gita gugup.


Mobil Reza berlalu pergi, Gita kini merasa terbang melayang, dia berjalan menuju pintu rumahnya dengan lamunannya, membuat dia tidak memperhatikan jalan di depannya.


Hingga dia terpentok pintu rumahnya sendiri, membuatnya malu, dia bergegas membuka pintu. Dan berlari masuk ke rumah tanpa mengucapkan salam.


"Git.. Udah pulang sayang?."


Namun Gita tak menjawab, bu Hanna hanya melihat anak gadisnya itu senyum sendiri sepanjang jalan.

__ADS_1


Kenapa dia? Pikir Bu Hanna


Bersambung...


__ADS_2