
Ratu menunggu Raja dengan cemas, dia begitu ingin menceritakan kejadian tadi kepada suaminya itu. Dia mengkhawatirkan nasib bayi itu yang masih bersama selir Mey, dia merasa harus segera mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.
Ratu terus saja mondar-mandir dengan gelisah, seakan ikatan batin dengan anaknya sangat kuat, rasa gelisah Ratu membuat bayi mungil itu menangis.
Ratu kini disibukkan dengan Pangeran Kecil yang tak kunjung diam. Akhirnya Ratu mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu dan kembali menimang anaknya dengan penuh rasa bahagia, dengan senyuman manis dibibirnya.
"Emm.. sayang, tenanglah.. ibu tidak apa-apa sayang, jangan ikut khawatir ya..!" Ucap Ratu sambil membelai pipi yang chubby itu, rasanya ingin mencubitnya dengan keras saking gemasnya, tapi Ratu menahannya, dia hanya mampu membelai pipi lembut itu.
"Kamu begitu menggemaskan sayang.. ibu khawatir jika suatu saat nanti ibu akan disibukkan dengan lamaran yang datang dari beberapa keluarga wanita. Hahaha.."
"Tentu saja dia sangat tampan mirip denganku." Ucap Raja begitu bangga.
"Akhirnya kau pulang juga sayang, hmm.. iya iya jika bukan mirip denganmu lalu dia mirip siapa, pangeran Ceng? Haha.."
"Jangan kejam begitu sayang, aku tidak rela jika anakku mirip dengan dia."
"Hmm.. hmm.. aku ingin mulai berbicara serius denganmu, sepertinya selir Mey tidak menginginkan bayi itu, jadi kita pisahkan saja, daripada bayi itu nantinya akan menjadi pelampiasan ibunya."
"Tenanglah dulu sayang, biar nanti akan aku bereskan masalah ini, aku akan memantau prilaku Mey dulu, lagipula Rizad sudah mau mengakui anaknya itu, lebih baik sekarang kamu temani aku makan..!"
__ADS_1
Ratu yang tadinya gelisah, mulai menepis perasaannya, dia mempercayakan semuanya pada suami tampannya itu.
***
Selir Mey kini telah terbangun dari tidurnya, dia merasa memang sudah tidak ada kebahagiaan yang menghampirinya.
Saat pay**@ranya sakit dan bengkak sebab ASInya tak diberikan pada bayinya.
"Kenapa ini begitu menyakitkan, membuat tubuhku panas dingin saja. Jika aku memberinya ASI maka rasanya begitu perih dan menyakitkan, disaat tak kuberikan juga sama saja membuatku sakit. Aarrgghh… " selir Mey merasa kesal.
Saat selir Mey melihat ke arah bayinya, dia merasa bingung menggambarkan perasaannya.
Perasaannya begitu kacau, bahkan kini tiba-tiba dia tertawa begitu saja.
"Hahahaha… bukankah dunia sedang mempermainkanku."
Pelayan yang baru saja datang membawa makanan, begitu terkejut dan dia merasa sedikit takut dengan emosi yang dikeluarkan selir Mey.
"Apakah dia mulai gila?" Pikirnya
__ADS_1
Pelayan itu mendekati selir Mey dengan ragu dan langkah pelan.
"Ini makanannya nyonya."
Selir Mey hanya menatap pelayan itu dengan senyuman misteriusnya, "apakah menurutmu aku begitu menyedihkan? Bahkan beberapa pelayan kini merendahkanku, tidak ada lagi yang bisa aku banggakan, tidak ada sanjungan, aku tidak bisa hidup seperti ini. Hahaha… bukankah ini seperti lelucon."
Selir Mey berjalan mendekati pelayan itu sambil tertawa, seketika pelayan itu merubah ekspresinya, dia mulai ketakutan, tubuhnya bergetar, kakinya tak mampu melangkah padahal dia merasa perlu untuk berlari dari tempat itu. Ingin berteriak pun rasanya lidah nya mendadak kelu.
Semakin dekat, semakin dekat wajah menyeramkan selir Mey itu mendekatinya. Saat dua tangan selir terangkat seakan ingin mencekik pelayan itu.
Bughh…
Ternyata selir Mey pingsan, ia tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
Pelayan yang tadinya merasa takut, kini berubah dengan rasa cemas, tapi ia tidak ingin mendekati selir Mey, dia langsung berlari memanggil tabib istana. Membiarkan pelayan lain yang membopongnya dan membaringkannya diatas ranjang.
Ibu melahirkan memang rawan terkena stress, apalagi dengan masalah berat yang menimpa selir Mey.
Bersambung...
__ADS_1