
"Gita nanti malam jam 00.00 ulang tahun mah, kita lagi ngerjain dia." Reza
"Tapi dia kayaknya takut beneran deh, kalian jangan keterlaluan sama dia, kasihan..!" Maya
"Mamah aja pas aku ulang tahun seneng tuh liat aki dipeluk hantu." Reza
"Hahaha… itu beda lagi Za, kamu lucu waktu itu." Maya
Angga dan Nisa ikut menertawakan Reza.
Sementara Gita sedang bersembunyi di dapur, di bawah meja, dia bahkan mengelus-ngelus cincinnya untuk berjaga-jaga, namun dia hanya mengelusnya sebentar agar efeknya tidak lama.
Awas aja kalau ada yang berani bawa jarum di depan muka gue, gue setrum dia, siapapun! Pikir Gita
"Git, Gita… teriak Nisa," dia mencoba memanggil sahabatnya itu, berharap Gita mau keluar, karena yang membawa jarum suntik hanya Reza saja.
Setelah 20 menit berlalu mereka tidak menemukan Gita dimanapun, hingga Gita merasa ingin buang air dan terpaksa mencari toilet di rumah Reza.
Saat dia sudah merasa lega dan keluar dari toilet, tepat didepan matanya ada Reza yang tersenyum.
"Mau apa Za? Udah ah mainnya, kita mending bakar-bakar lagi..!" Gita
"Tapi aku mau kamu disuntik dulu," Reza mengeluarkan jarum suntiknya, padahal tidak ada obat apapun didalamnya, namun Gita yang memang takut dia tetap aja takut.
Refleks Gita memakai cincin ajaibnya hingga membuat Reza ambruk, pingsan di tempat.
"Sorry.. itu cuma pertahanan diri." Gita
Lalu Gita lari dengan terburu-buru, dia bahkan menabrak Nisa dan Angga.
"Aduh.." Nisa
Mereka semuanya jatuh, Gita yang kaget dan memahami keadaan, dia berniat pergi, namun ditahan oleh Angga dan Nisa.
"Eits, kamu mau kemana Git?" Angga
"Lepasin aku kak..! Kalian kenapa tega sih ngerjain aku kaya gini?" Gita
Namun mereka langsung melepaskan Gita saat bu Maya berteriak jika Reza pingsan, Gita yang tidak mau disalahkan dia juga ikut menghampiri Bu Maya.
Mereka membopong Reza dan membaringkannya di sofa, untung saja jarum suntik di tangan Reza sudah tidak ada, mereka menunggu kesadaran pria itu semua khawatir, kecuali Gita.
Nanti juga sadar, siapa suruh bawa-bawa jarum suntik. Batin Gita
__ADS_1
Setelah Reza sadar, mereka menyudahi acara ngerjain Gita, ya.. karena semuanya gagal total bahkan Reza pingsan. Namun saat tepat tengah malam, saat puncak acara tiba, Gita begitu terharu melihat dekorasi taman samping rumah Reza.
Ada cake juga dengan ukiran namanya, ada kado besar disana. Membuat Gita benar-benar merasa bersalah karena sudah membuat pacarnya itu pingsan meski tidak ada yang tahu tentang itu.
"Makasih udah bikin surprise, tapi apa perlu kalian sampe ngerjain pake jarum suntik? Kakak lagi, sudah tahu aku takut banget masih aja dilakuin." Gita
"Maaf deh." Angga
Akhirnya mereka menikmati lagu yang dinyanyikan Reza untuk kekasihnya yang sedang ulang tahun, Maya ikut bergabung dengan mereka. Namun Hanna yang tidak bisa meninggalkan suaminya di rumah sendirian, dia terpaksa tidak hadir.
Mereka tidur di tenda yang sebelumnya telah disediakan, Gita tidur dengan Nisa, sementara Angga satu tenda dengan Reza.
Jika tenda wanita sangat damai karena mereka tidur nyenyak, berbeda dengan tenda pria yang terus bergoyang, mereka saling menguasai daerah kekuasaan karena ingin tidur dengan tempat yang luas.
***
Pagi hari mereka sudah pulang ke rumah masing-masing melakukan aktivitas seperti biasanya dengan wajah yang masih mengantuk.
Gita dan Nisa terus saja menguap saat di kelas bahkan di mata kuliah Pak Rendi.
Angga tidur di ruangan khususnya dan membebani semua pekerjaannya kepada Pak Surya.
Reza?
***
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, saatnya Pak Andra dan Bu Hanna menantikan hasil tes itu.
Wajah Pak Andra begitu tegang, dia bahkan pergi tanpa sepengetahuan Dafa, karena dia masih di sekolah.
Bu Hanna tak kalah gugup, dia harus siap kehilangan Angga saat ini jika hasilnya memang benar sesuai harapan Pak Andra.
Setelah menerima hasilnya, Hanna membiarkan Pak Andra untuk melihatnya duluan.
Diintiplah kertas itu, ditariknya dengan perlahan, saat sudah diambil, Andra membuka lipatan surat itu dengan menutup matanya.
Bu Hanna yang melihat itu sangat dibuat kesal, greget rasanya, membaca surat saja sampai segitunya. Namun dia juga tak memungkiri jika kelakuan Andra itu sungguh lucu.
Perlahan namun pasti, surat itu dapat dilihatnya dengan jelas karena matanya sudah terbuka lebar, bahkan pria itu kini membulatkan matanya.
Dia langsung sujud syukur ditempat itu.
Hanna yang melihat reaksi Andra, dia bisa menyimpulkan jika hasilnya sesuai apa yang diinginkan lelaki itu, Hanna juga ikut bersyukur jika Angga bahagia.
__ADS_1
"Bagaimana hasilnya Pak?" Hanna
"Alhamdulillah, sesuai harapan," jawab Andra dengan deraian air mata.
Tentu saja air mata bahagia, Hanna mengambil kertas itu lalu membacanya, dia tersenyum senang, namun terselip kesedihan di hati kecilnya, anak yang dibesarkan dari kecil kini bisa saja pergi dari hidupnya.
Mereka pulang pulang dengan mobil masing-masing, bu Hanna juga membawa sopir keluarga, dia diizinkan keluar oelh Baskoro namun harus diantar sopirnya itu.
Surat iti dipegang oleh Pak Andra, kini dia bingung harus bagaimana cara menyampaikannya, dia bingung apakah Angga akan membencinya jika tahu masa lalunya, karena teledor menjaga dia, bahkan tidak bisa menemukannya lebih cepat.
"Aku harus bagaimana sekarang?" Ucap Andra pelan.
Hanna untuk sementara waktu dia akan diam, akan membiarkan ayah dan anak itu menyelesaikan semuanya.
Setibanya di rumah, wanita itu disambut hangat oleh keluarganya, mereka sedang ngemil di sore hari.
"Sudah pulang mah dari Rumah Sakitnya?" Tanya Baskoro yang lupa jika itu dirahasiakan.
"Mamah ke Rumah Sakit ? Mamah sakit apa?" Gita
"Iya, mamah ko gak minta anter Angga, malah pergi sendirian?" Angga
"Hmm.. mamah gak sakit, cuma jengukin temen aja, udah izin sama papah, dianterin sama sopir aja." Hanna
"Oh, syukur deh kalau bukan mamah yang sakit." Gita
Hanna ikut bergabung dengan mereka, mengobrol ringan namun itu sangat berkesan, apalagi mengingat Angga, jika anak itu memilih bersama keluarga ayah kandungnya, maka momen ini mungkin tidak bisa diulang lagi.
"Mamah nangis?" Gita
"Enggak, ini cuma kelilipan." Hanna
"Mamah nangis, beda loh kalau kelilipan, itu sih nangis, mamah kenapa?" Gita
"Gapapa, mamah seneng aja suasana rumah hangat seperti ini, iya 'kan pah?" Hanna
"Iya.." Baskoro
Dibalik itu semua, cuma Gita yang tidak mengerti arti tangisan ibunya.
Angga tersenyum kecil, dia juga merasa sedikit sedih bila membayangkan dia harus kembali ke keluarga aslinya.
Baskoro juga merasakan hal yang sama, selama ini dia begitu menyayangi Angga, bahkan anak itu sangat membanggakan, mengurus perusahaannya saat dia sakit.
__ADS_1
Bersambung…