
Saat berkas itu dibuka, Raja membulatkan matanya seakan ia tidak percaya isi lembaran-lembaran kertas itu.
"Benar kan apa yang aku bilang." Ucap Ratu
"Hmm.. apa kau benar-benar seorang peramal?" Tanya Raja heran
Raja Deon tiba-tiba teringat tentang dua surat yang ia terima, saat kata PERAMAL itu terlontarkan dia kini menjadi penasaran kembali dengan sosok pengirim surat rahasia itu.
"Kenapa malah melamun?" Tanya Ratu sambil menepuk pundak Raja
"Tidak apa-apa, aku hanya teringat seseorang."
"Jangan coba-coba mencari selir baru..!"
"Apa kau cemburu?"
"Hmm.. tidak, anakmu yang melarangnya..!"
"Alasan, hahaha…"
"Menurutku pangeran Xia adalah sahabat yang baik, dia hanya tertekan oleh ibunya itu, aku harap kamu tidak akan menjatuhkan hukuman padanya, bukankah dia sudah menyerahkan diri?" Ucap Ratu yang mulai berbicara serius.
"Hmm.. aku punya hukuman yang tepat untuknya, yang sangat ia inginkan, kamu tidak usah khawatir." Ucap Raja yakin
Bukti-bukti itu cukup untuk menghukum selir Janie, paman Heri dan termasuk pangeran Xia.
Deon merasa bingung, ia sebenarnya sangat kasihan dengan keadaan sahabatnya itu, tapi ia akan memberikan hukuman sekaligus kebebasan pada sahabatnya itu.
__ADS_1
Raja akan mengambil keputusan saat bukti tambahan yang ia butuhkan sudah ada.
Beberapa bulan berlalu, Raja disibukan dengan berbagai permasalah istana dan paling direpotkan oleh sang Ratu yang terkadang ngidam sesuatu yang aneh, bahkan hingga usia kandungannya menginjak 4 bulan.
Raja sempat disuruh mencari jodoh untuk si putih kudanya itu, harus berwarna coklat muda, telinganya sedikit mempunyai warna putih, dan terlihat manis, selama belum mendapatkan kuda yang Ratu mau, Raja tidak diperbolehkan tidur dengannya.
Raja sempat mengeluh, "Memangnya ada kuda betina yang terlihat manis, harus warna coklat dan telinganya warna putih? Nak.. nak kamu belum lahir saja sudah menyusahkan ayahmu ini, ayah harap jika saatnya kau sudah lahir kau sudah tidak meminta hal yang aneh-aneh lagi."
Lain hari, Ratu menginginkan punya suami seorang pemain alat musik, dan memainkan lagu romantis untuknya, membuat Raja Deon terpaksa melakukan latihan khusus salah satu alat musik, bahkan ia berusaha memainkan 1 lagu romantis hanya dengan waktu 1 minggu saja, agar dia bisa berbaikan dengan Anggrek dan kembali merasakan tidur bersama.
"Ya ampun, memang benar, menjadi ayah itu tidak mudah." Keluh Deon ia berbaring lesu di kamar lamanya.
**
"Kenapa Deon belum mengunjungiku? Dia benar-benar mengabaikanku, Hmm.." Pikir selir Mey.
Memang selama 3 bulan terakhir setelah hari eksekusi itu, Raja sama sekali tidak pernah mengunjunginya.
"Bilang pada nyonya, kalau makanan ini harus dihabiskan, bilang kalau ini perintah yang mulia..!"
"Sampaikan pada nyonya, harus menjaga bayinya dengan baik, bilang jika ini perintah Raja."
"Sampaikan pada nyonya, bahwa obat ini harus diminum, bilang kalau Raja tidak mau nyonya sakit..!"
Ya begitulah, dikala Raja mendapat laporan bahwa selir Mey tidak meminum obatnya atau tidak mau makan, dia hanya akan menyampaikan pesan singkat agar selir Mey bisa menjaga calon anaknya, agar anak itu lahir dengan sehat.
**
__ADS_1
Akhirnya besok akan dilaksanakan eksekusi untuk Paman Heri setelah 3 bulan berlalu Raja berusaha mencari semua bukti.
Untuk selir Janie dan pangeran Xia, mereka hanya dikeluarkan dari keluarga kerajaan, mereka menjadi rakyat biasa. Harta benda pun hanya dibekali secukupnya, untuk selir Janie ini merupakan hukuman yang kejam, ia harus hidup sederhana tanpa kekuasaan, sementara untuk Pangeran Xia ini merupakan kebebasan yang sempurna.
Ratu juga merasa senang, akhirnya orang jahat mendapatkan hukumannya ia begitu semangat menantikan hari esok bahkan ia ingin melihat eksekusi paman Heri, tapi Raja tidak mengizinkannya.
Ratu merajuk beberapa jam, hingga akhirnya luluh dengan memberikan Ratu rujak yang asam pedas, dan tentu saja dengan menemaninya makan bersama, membuat perut Deon meronta tersiksa, tapi itu lebih baik daripada melihat Ratu merajuk.
"Nah kan kalau senyum kan cantik, sayang?"
"Hmm.. ya tapi kamu habiskan rujak yang tersisa..! Bisa kan? Hehe" ucap Ratu menantang sang Raja
"Sebaiknya aku menunda rencana punya banyak anak, satu saja aku kewalahan begini.. aku tak tahan.. oh tuhan tolonglah aku..!" Gumam Deon dalam hatinya.
"Bisa kok, apa sih yang enggak buat kamu sayang, buat anak kita." Jawab Deon sambil memakan rujak masam itu dengan perasaan terpaksa.
**
Heri, seorang menteri keuangan ini kini merasa kalau ia sudah ada ditepi jurang. Dia tidak menyangka akan ketahuan dan mendapat hukuman mat* atas semua kejahatan yang ia lakukan.
Sebenarnya dia iri dengan selir Janie yang hanya dikeluarkan dari keluarga kerajaan dan tidak diperbolehkan masuk ke istana. Tapi memang kesalahan selir Janie tidak sebesar kesalahannya, selir Janie hanya pendukung, bukan otak kejahatan yang terjadi.
Heri juga merasa sudah tidak ada yang bisa menolongnya, dan tibalah saatnya. Ada beberapa pengawal yang menghampiri sel tahanannya.
Mereka membawa dengan cara menyeret Heri, "Tolong jangan bawa aku, ampuni aku… ampuni aku…" Ucap Heri dengan berderai air mata, ia tak kuasa membayangkan pedang besar yang akan menebas lehernya.
Bersambung...
__ADS_1
jangan lupa mampir di novel aku yang ke 2 ya..!