Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Kenyataan Yang Menyedihkan


__ADS_3

Aldi melempar kalung itu, lalu dia mengamuk.


Petugas kepolisian yang berjaga langsung membawa Aldi kembali ke sel.


Kirana menatap kepergian ayahnya itu dengan derai air mata, dia tidak sanggup melihat ayahnya diperlakukan seperti itu.


Angga mengambil kembali kalung itu, dan menyimpannya dengan hati-hati. Dia kecewa dengan hari ini karena tidak mendapatkan informasi apapun.


Salah satu petugas memberitahu kepada mereka jika kedepannya mungkin Aldi akan direhabilitasi, dan sementara waktu tidak bisa dijenguk.


"Ayo kita pulang?" Angga


"Iya kak, papah kasihan sekali kak." Kirana


"Iya, tapi itu yang terbaik, rehabilitasi juga membantu papamu lepas dari kecanduannya pada barang haram, semoga papamu bisa membaik, bisa bertaubat, dan bisa kembali ke jalan yang benar." Angga


"Aamiin, kalau kakak penasaran dengan mamah Alisa, kakak bisa menanyakannya pada mamah Jani, mungkin mamah tahu." Kirana


"Hmm.. tidak enak, takutnya itu menyakiti hati tante Jani." Angga


"Jika kakak yang bertanya mungkin akan lebih baik, jika aku yang bertanya, aku tak berani kak." Kirana


"Hmm.. iya nanti kakak akan mencobanya."


Angga mengantar Kirana pulang, tante Jani sedang berada di rumahnya hari ini, dia sedang tidak ingin pergi ke perusahaannya.


Kirana dan Angga masuk mengucapkan salam, Jani tersenyum senang melihat kakak beradik itu datang bersama.


"Mah, gak ke kantor?" Kirana


"Gak sayang, mamah masih ingin rebahan di rumah, kan ada asisten mamah di kantor, hehe.." jani


Kirana dan Angga pun duduk, lelaki itu bingung harus memulai pembicaraan seperti apa.


"Kalian jadi bertemu Aldi?" Jani


"Iya mah jadi kok." Kirana


"Tapi kenapa wajah kalian begitu? Masam sekali, hehe. . ." Jani


"Hehe, aku tidak apa-apa mah, tadi di sel papah bersikap aneh, kata petugas disana papah mau dipindahkan ke sel tahanan khusus rehabilitasi, kak Angga juga merasa sedih karena barang-barang yang dia bawa tidak memberikan petunjuk tentang…" Kirana


"Tentang apa?" Jani


"Tentang keberadaan ibu saya tante." Angga


"Hmmm… tante tidak tahu pasti, tapi coba kamu cek di pemakaman yang berada di jl. Melati, aldi sering kesana, dan memang dulu saat Aldi menitipkan Kirana pada tante, dia bilang ibu Kirana sudah meninggal." Jani


"Benarkah? Jadi mamah sudah meninggal?" Tanya Kirana, dia tidak bisa menahan air matanya.

__ADS_1


"Kamu tenang dulu Kirana, bagaimana kalau kita cek saja kesana..!" Jani


Angga dan Kirana mengangguk, mereka pergi dalam satu mobil yang sama, dengan salah satu sopir yang dulu sering mengantar Aldi ke pemakaman.


Setelah 20 menit berlalu akhirnya mereka sampai, Kirana yang ragu merasa enggan untuk turun dari mobil, dia masih berharap ibunya masih hidup dan bertemu dengan ibunya Alisa.


"Apa kamu mau menunggu disini saja?" Angga


"Hmm, aku ikut aja kak." Kirana


Jani merangkul bahu Kirana, wanita itu tahu jika sekarang anak angkatnya sedang merasa gelisah.


Pak Jalal yang dulu selalu mengantar Aldi, kini dia berjalan paling depan, menunjukan arah, menunjukan dimana letak makam yang biasa didatangi Aldi.


Hingga mereka tertuju pada satu makam dengan batu Nisan putih bertuliskan Alisa Kirana Putri.


Deg.


Bahkan nama panjang Alisa dipakai sebagai nama anak perempuannya yang kini sedang mematung di depan batu nisan itu.


Kirana menjatuhkan dirinya di samping batu Nisan itu. Bahkan disana ada foto Alisa yang sepertinya sengaja dipasang oleh Aldi.


Kirana menangis sejadi-jadinya namun tanpa sekatah apapun, Angga menghampiri adiknya itu, menepuk-bepuk pundaknya, perlahan Angga memeluk gadis itu.


"Sabar… mungkin memang kita tidak ditakdirkan bertemu ibu kita lagi, kita harus mendoakannya sekarang..!" Angga


Angga dan Kirana kini berdoa , karena hanya itu yang bisa mereka lakukan saat ini, Jani juga ikut berdoa, dia sudah memaafkan wanita yang telah menghancurkan rumah tangganya itu.


Setelah berdoa selesai mereka pulang dengan tak banyak bicara, terutama Kirana, gadis itu masih merasa terpukul dengan kenyataan ini, meski dia sempat membenci ibu kandungnya itu karena ternyata menjadi orang ketiga di dalam keluarga Jani dan Aldi, namun gadis itu mempunyai keinginan bertemu lebih besar dengan ibunya itu.


***


Angga sampai dirumahnya, dia langsung masuk dan merebahkan dirinya diranjang.


Berniat tidur, namun dia kini mendapatkan telepon dari Pak Andra yang mengatakan jika Dafa mengalami kecelakaan di sekolah, dia jatuh dan kepalanya terbentur batu besar dipinggir lapangan saat bermain sepak bola.


Dengan panik, Angga berlari, berpamitan pada Bu Hanna dan pergi diantar Pak Asep supir keluarga.


Sesampainya disana, ternyata Dafa kehilangan darah yang cukup banyak, stok darah di RS pun tinggal 1 kantong lagi. Membuat pak Andra panik terlebih golongan darahnya tidak sama dengan Dafa.


"Golongan darahku juga berbeda, tapi kita harus cepat Pak mencari pendonor." Angga


"Iya, aku juga tidak memiliki saudara di kota ini, semuanya berada di luar negeri." Pak Andra


Angga memikirkan dua nama, papah dan Adiknya. Namun dia tidak mungkin meminta papanya mendonorkan darah dengan kondisinya uang kurang sehat.


Angga mencoba menghubungi Gita.


"Hallo Git, kamu cepetan datang kemari ya..!" Angga

__ADS_1


"Kemana kak, kakak kok panik?" Gita


"Ke Rumah Sakit, cepetan..!" Angga


"Iya kak, aku otw nih, Reza juga sudah dateng jemput nih." Gita


"Oke, kakak tunggu ya." Angga


Lelaki itu menutup teleponnya, mondar-mandir di depan ruangan Dafa, berharap adiknya itu cepat datang.


***


Sementara itu di dalam mobil, Gita menyuruh Reza lebih cepat membawa mobilnya.


"Cepet dong Za..!" Gita


"Ini udah cepat, sebenarnya siapa yang sakit?"


Reza


"Aku juga gak tahu, mungkin papah, mamah, atau Kirana, makanya cepetan biar kita tahu..!" Gita


"Iya.." Reza


Sesampainya disana, Gita berlari mencari kakaknya, yang sebelumnya sudah diberitahu dimana ruangan Angga berada.


"Kak Angga, siapa yang sakit?." Gita


"Dafa, butuh donor darah segera." Angga


"Syukurlah." Gita


"Kok malah bersyukur, bukannya innalillahi?" Angga


"Maksud Gita, bersyukur bukannya mamah atau papah yang celaka," ucap Gita berbisik di telinga Angga.


"Ayo cepet kamu ikuti suster itu Git..!" Angga


"Buat apa?" Gita


"Donor darah lah..!" Angga.


"Pake jarum dong? No, aku gak mau kak, aku takut jarum.." ucap Gita menatap Angga dengan penuh harap.


Sementara Reza hanya sedikit mengulas senyum, dia baru tahu pacarnya itu takut jarum.


Setelah melihat ekspresi pacarnya itu yang begitu mengiba kepada Angga, akhirnya Reza mencoba menggantikan kekasihnya untuk mendonorkan darah.


Namun sayang darah Reza tidak cocok dengan darah Dafa, membuat Gita kembali menampakan wajah tegang, takut dan sedihnya itu, wanita itu bukannya tidak mau membantu, hanya saja dia tidak mau melihat jarum, apalagi sampai ditusuk di lengannya.

__ADS_1


"Tidak…." Teriak Gita.


Bersambung….


__ADS_2