
Ratu yang teringat pada pangeran kecil yang belum minum ASI di pagi hari dan belum dimandikan, akhirnya dia pamit pulang, dan mempercayakan bayi Mey pada Rizad. Ratu tahu sebenarnya Rizad memang pribadi yang baik hanya saja dia mudah terbawa arus karena rasa cintanya pada Mey.
Setibanya di paviliunnya, Ratu melihat anaknya sedang tertidur pulas di ranjang dan suaminya sedang sarapan.
"Sayang kau darimana saja? Ayo sarapan..!" Ucap Deon
"Hmm iya, aku kira akan ada kekacauan karena aku meninggalkan kalian." Ucap Ratu sambil melangkah mendekat dan ikut sarapan, dia memang merasa sangat lapar.
"Tidak mungkin, semua pasti aman terkendali, bukankah aku seorang Raja yang hebat mengatur Rakyatnya, jika hanya mengatur bayi kecil, tentu saja itu sangat mudah." Ucap Raja Deon bangga, padahal tadi ia begitu kewalahan.
"Syukurlah kalau begitu, aku bisa lebih sering keluar dan menitipkan pangeran padamu." Jawab Ratu, sambil memakan sup nya yang masih hangat.
Tiba-tiba Deon tersedak, dia begitu kaget dengan apa yang dikatakan Ratu, dia tidak mungkin bisa mengendalikan pangeran kecil jika Ratu pergi, apalagi jika pergi dalam waktu yang lama, lebih baik dia pergi berperang melawan musuh, daripada berperang menaklukan bayinya sendiri.hehe…
"Minumlah…! Makannya jangan terburu-buru begitu, kan jadi tersedak."
"Hehe.. iya aku ada pertemuan penting hari ini, makanya aku buru-buru." Jawab Raja, sekedar alasan agar dia bisa menutupi rasa kagetnya.
"Aku berangkat ya sayang, kamu habiskan sarapannya, makan yang banyak ya..!" Ucap Deon , lalu mengecup pipi sang Ratu dan segera berlalu pergi.
__ADS_1
Sementara Ratu terdiam dengan kelakuan aneh suaminya di pagi hari ini. Bahkan dia belum sempat bercerita, "Padahal gue mau ceritain aksi bun*h diri si Mey, kan seru.. eh dia malah pergi." Keluh Gita
***
"Akhirnya aku bisa bebas juga." Ucap Deon saat sudah berada di halaman paviliun
Tapi saat dia ingin melewati gerbang, dia berpapasan dengan ibunya yang akan menengok cucunya.
"Deon, kau mau kemana? Jangan bilang kalau kau mau menemani wanita itu." Tanya Ibu Suri dengan nada ketus.
"Maksud ibu?"
"Bukankah selirmu sedang tidak sadarkan diri, kamu pasti mengkhawatirkannya?"
"Hmm.. sudahlah, ibu lebih baik memperbaiki suasana hati ibu dengan melihat cucu ibu yang tampan." Jawab Ibu Suri sambil.berlalu pergi memasuki paviliun Ratu.
Raja memang belum tahu kabar terbaru tentang selir Mey karena dia disibukkan dengan bayi kecilnya itu, bahkan tadi pagi pun Ratu belum sempat bercerita membuatnya sedikit bingungi.
"Bukankah Mey memang selalu begitu, selalu membuat onar, terkadang juga sakit karena ulahnya sendiri, untuk apa aku khawatir." Pikir Deon, lalu berlalu pergi karena dia kini keluar sebagai Raja yang akan mengurusi rakyatnya.
__ADS_1
Tanpa sengaja Deon bertemu Pangeran Xia di desa yang dia kunjungi. Sejak selir Janie dan Pangeran Xia diasingkan, ini kali pertama mereka bertemu lagi.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Raja
"Aku baik yang mulia."
"Jangan begitu, panggil saja Deon seperti biasanya."
"Hehe.. tapi aku kini bukan lagi bagian dari keluarga istana." Ucapnya tanpa beban, dia bahkan tersenyum bahagia mengucapkannya.
"Bagiku kau masih keluargaku jangan bersikap seperti itu..!, apakah selama ini kau kesulitan?."
"Hahaha.. bukankah kau lebih tahu apa yang aku inginkan, aku bahagia sekarang. Meski hidup sederhana tapi hatiku bahagia, menurutku lebih sulit hidup di istana, lebih banyak persaingan, penyerangan, belum lagi.. ah sudahlah, yang jelas aku sangat berterimakasih karena telah diberi kebebasan."
"Syukurlah, aku bahagia melihatmu bahagia, apa kau tahu aku sudah menjadi seorang ayah?"
"Benarkah? Sayangnya aku tidak bisa berkunjung ke istana dan melihat keponakanku, tapi aku yakin dia pasti lebih tampan darimu. Hahaha.."
"Hmm.. kau ini. Jika kau melihat anakku , pasti kau akan berniat membungkusnya dan membawanya pulang. Haha.." Raja begitu membanggakan bayi kecilnya.
__ADS_1
Mereka terhanyut dalam obrolan yang panjang dan penuh candaan, mereka meluapkan rasa rindu antara sahabat sekaligus kerabat.
Bersambung...