Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Perubahan Nisa


__ADS_3

Angga kini tiba dirumah Pak Andra, malam itu baru pukul 8 malam.


Rumah mereka tidak jauh dari rumah Baskoro, mereka sampai dengan cepat, Angga merasa canggung dan asing, namun dia harus membiasakan dirinya.


Dafa merasa senang sekali, dia bahkan meloncat-loncat kegirangan, bocah itu sudah membuat beberapa rencana untuk menghabiskan waktu bersama Angga.


"Kak, kita main game yuk!" Dafa


"Boleh, tapi bentar aja ya..!" Angga


"Ok, lagian kalau sama Kakak sebentar aja bisa menang, kalau sama kak Gita sih aku kalah terus." Dafa


"Hahaha.. kapan kamu bermain dengannya? Dia memang jago, Kakak aja kalah." Angga


"Hmm.. aku berkunjung ke rumah Kakak tapi ternyata gak ada dirumah, papah ngobrol sama mamah Kakak, aku disuruh main sama kak Gita." Dafa


"Emm gitu." Angga


Mereka bermain game bersama, Pak Andra menyediakan cemilan juga, namun saking asiknya, cemilan itu tak tersentuh.


Setelah puas membiarkan bocah kecil itu memenangkan permainannya, Angga mengantuk. Dia juga harus pergi bekerja besok pagi, Dafa pun harus pergi sekolah besok pagi.


Mereka tidur satu ranjang, Dafa begitu senang dengan kehadiran Angga membuatnya nempel pada laki-laki itu.


Namun saat tidur sungguhlah berbeda, Angga mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan.


Sesekali kaki Dafa sudah ada di atas wajahnya, bahkan dia merasakan tendangan maut bocah itu, membuat Angga terjatuh dari ranjang.


"Aduh… , tenaganya ampun deh," keluh Angga


Saat Angga mengambil satu bantal dan berniat beralih tidur di sopa, tiba-tiba tangan Dafa meraih tangannya.


"Kak Angga mau kemana?" Dafa


"Gak kemana-mana." Angga


Pria itu menyimpan kembali bantalnya, dia tidur kembali ditempat semula, meski sedikit rasa enggan karena dia tidak bisa tidur nyenyak.


Pagi hari lelaki itu benar-benar merasa tidak nyaman, badannya yang terasa sakit dan matanya sedikit menghitam, hari ini dia begitu tidak bersemangat, membuat Andra pun heran, dia sempat bertanya, namun Angga menutupi aksi tidur adik lelakinya itu.


***


Hari ini Nisa libur kuliah, dia berniat pergi ke mall membeli beberapa baju baru.


Awalnya dia berniat mengajak Gita, namun gadis itu berubah pikiran, dia lebih memilih meminta nomor ponsel Kirana pada Gita.


"Kok lo nanyain nomor dia, buat apa?" Gita


"Ada perlu aja Git, lo kirimin ya..!" Nisa


"Perlu? Gue kepo nih… apa sih?" Gita


"Bukan apa-apa, lo gak akan tertarik kalau gue ajakin juga." Nisa


"Memangnya lo mau ngajakin dia kemana?" Gita


"Pengajian." Nisa


Gadis itu menutup sambungan teleponnya, dia merasa kesal sekali pada sahabatnya itu, dia cuma minta nomor ponsel tapi diberi banyak pertanyaan yang tak ada habisnya, makanya dia menjawab asal.


Pengajian? Masa sih? Pikir Gita

__ADS_1


Gadis itu mendapat pesan lagi, ternyata Nisa gencar meminta nomor kirana, karena dia tidak mau ponselnya terus berbunyi, akhirnya gadis itu mengirimkan nomor itu meski belum tahu sebenarnya Nisa mau apa.


"Yes dapat," ucap Nisa usai mendapatkan nomor yang dia inginkan.


Dengan segera Nisa menelpon Kirana, meminta bantuan pada adik kelasnya itu, untungnya Kirana mau menemani Nisa pergi ke mall.


***


Mereka tiba di mall, sebelumnya mereka janjian di suatu tempat.


"Kakak minta bantuan apa? Nemenin Kakak aja kan?" Kirana


"Iya, sekalian pilihin baju yang cocok..!" Nisa


"Tapi, seleraku 'kan belum tentu sama dengan Kakak." Kirana


"Kali ini aku akan memakai baju yang sesuai dengan seleramu saja, aku mau merubah penampilanku, aku harap kamu bisa diajak kerjasama." Nisa


"Oh, tapi aku lebih suka pakaian tertutup Kak." Kirana


"Iya itu maksudku, aku ingin berhijab sepertimu." Nisa


"Beneran Kak? Alhamdulillah.. kalau gitu aku akan buat Kakak tampil beda." Kirana


Kirana begitu bersemangat, apalagi membantu seseorang yang ingin berubah menjadi lebih baik.


Mereka mencari baju yang cocok dengan Nisa, mencari warna yang senada dan tidak terlalu cerah, Kirana memilih warna merah maroon dan juga coklat susu, dua set pakaian berhijab.


Kirana membawa Nisa ke rumahnya, karena di rumah dia lebih tersedia perlengkapan yang dibutuhkan, seperti dalaman kerudung, dan alat make up juga.


Setelah satu jam didalam kamar akhirnya Nisa benar-benar merubah penampilannya, bahkan kirana juga memberikan beberapa set pakaian berhijab yang baru dibelinya dan belum terpakai.


Saat mereka keluar kamar, berniat pergi dan makan siang diluar.


"Boleh, bertiga aja nih? Eh satu lagi temanmu mana?" Jani


"Bertiga? Temanku yang datang ke rumah cuma satu mah, ini Kak Nisa." Kirana


"Tapi, mamah rasa beda orang loh, tadi bukan yang ini." Jani


"Hehehehe, tadi juga aku tante, cuman aku berganti pakaian." Nisa


"Oh, hahahaha.. jadi satu orang yang sama, kamu lebih cantik begini, lebih anggun." Jani


"Makasih tante." Nisa


Nisa merasa puas dengan penampilan barunya, dia berharap bisa istiqomah, meskipun berawal karena lelaki, namun dia lebih menyukai penampilannya yang sekarang.


Mereka pamit dan segera berangkat ke cafe yang telah disepakati, Kirana menyempatkan untuk menghubungi kakaknya, berharap lelaki itu bisa datang, ternyata Angga masih di kantor dan keluar sekitar 30 menit lagi.


Kirana dan Nisa menunggu dengan berbincang dan memakan cemilan, serta minuman dingin.


"Kakak kita tunggu kak Angga dulu ya?" Kirana


"Kalau lama, kita pulang aja." Nisa


"Bentar lagi kok." Kirana


Nisa pun menyetujuinya, Kirana senang jika bisa membuat mereka saling tertarik, dia juga sudah berjanji pada Gita untuk mendekatkan Nisa dan Angga.


Setelah lama menunggu, akhirnya Angga datang, adiknya melambaikan tangannya pada Angga.

__ADS_1


"Maaf ya, pasti kamu udah bete nungguin Kakak?" Angga


"Gapapa Kak, aku gak bete, lagipula ada temen aku disini." Kirana


"Oh , siapa namanya? Kakak baru liat." Angga


"Masa sih Kakak gak kenal?" Kirana


"Ini aku Kak, Nisa temennya Gita, anaknya Pak Damar, hehe.." Nisa


"Subhanallah, kamu kok berbeda ya? Lebih Anggun.hehehe.. kamu lebih cantik seperti ini." Angga


Nisa tersipu malu mendapatkan pujian dari Angga.


Mereka makan bersama, menikmati obrolan ringan yang sesekali membuat mereka tertawa.


Nisa begitu senang dengan hasilnya, dia mendapat pujian dari Angga, berharap lelaki itu bisa tergerak hatinya.


Saat hari sudah sore, Angga mengantar Kirana terlebih dahulu, saat ingin mengantar Nisa, gadis itu ternyata ingin bertemu Gita, membuat mereka berhenti dirumah yang sama.


"Ayo turun..!" Angga


"Eh iya Kak, udah sampe ya? Hehe.." Nisa


Mereka turun dan berjalan beriringan, jantung Nisa berdetak tak karuan.


Kenapa gue gugup begini? Ini 'kan bukan acara pengenalan sama calon mertua. Pikir Nisa


Mereka masuk, tak lupa mengucapkan salam, mereka disambut oleh Bi Mina yang membuka pintu.


"Kamu tunggu disini ya..! Biar Kakak yang panggil Gita." Angga


Angga pergi meninggalkan Nisa menuju kamar Gita.


Tok


Tok


Tok


"Git, ada temen kamu nungguin tuh diruang tamu." Angga


"Siapa?" Teriak Gita.


Namun saat Gita membuka pintu ternyata Angga sudah tidak ada.


Temen gue? Siapa? Pikir Nisa


Gita pergi menuju ke ruang tamu, dia juga penasaran siapa yang datang, perasaan dia tidak membuat janji dengan siapapun.


Siapa sih? Berhijab? Pikir Gita saat melihat dari belakang.


"Hai Git." Nisa


Nisa berhambur memeluk sahabatnya itu, suaranya familiar namun Gita tidak bisa menebak siapa yang memeluknya itu.


"Maaf, apa anda salah orang, mungkin anda mencari Gita yang lain." Gita


"Astaga, lo gitu amat sama gue, tadinya gue mau nginep tahu, soalnya nyokap bokap gue gak ada dirumah." Nisa


"Nisa? Lo Nisa anaknya pak Damar? Nisa yang bawel banget 'kan? Yang kemarin ngambek dan ngerjain gue?" Gita

__ADS_1


"Gak usah diperjelas kali." Nisa


Bersambung...


__ADS_2