
Ina diam sejenak memikirkan jawaban yang harus ia berikan.
"Memangnya kenapa? Ada yang salah?." Tanya Ina.
Datanglah laki-laki bertato di lengannya,
"Permisi.."
Ina menatap laki-laki itu dengan tatapan yang sulit diartikan, entah takut, sedih atau marah, bahkan mungkin bercampur aduk.
"Ada urusan apa ya? Jika tidak berkepentingan mungkin lain kali kamu kemari lagi Nak, disini sedang diadakan rapat penting." Ucap Dekan
"Justru saya disini untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini pak, saya juga mahasiswa disini dan Ina adalah mantan pacar saya."
"Maksud kamu, kamu sempat berpacaran dengan anak saya? Saya tidak pernah melihat kamu bersama Ina." Ucap Hans
Pak Dekan mempersilahkan mahasiswa itu duduk, ikut bermusyawarah disini.
Ternyata lelaki itu bernama Rian, dia memang mantan pacar Ina, dia mengakui jika salah satu lebam di tangan Ina adalah ulahnya, dia menjelaskan jika saat kejadian, Ina marah besar melihat Rian yang sedang bersama Jeni, Ina cemburu buta dan menyerang Jeni, namun dihalangi oleh Rian karena Jeni hanya sepupunya saja.
"Saya hanya melindungi sepupu saya, Ina terlalu brutal, dia bahkan membawa kayu balok menyerang kami, jika kalian tidak percaya, kalian bisa menjenguk Jeni yang sekarang ada di rumah sakit."
"Kenapa kamu baru bilang sekarang?." Hans
"Karena saya masih kerepotan bolak balik mengurus Jeni di rumah sakit, lalu bekerja, belum lagi jadwal kuliah saya, saya belum berniat melaporkan masalah ini. Jeni juga tidak mau jika saya mendapatkan masalah jika menuntut Ina."
"Dia bohong..! Dia yang selingkuh dan selingkuhannya menyerang aku yah." Ucap Ina membela diri.
"Jadi bukan Gita kan?" Tanya Angga
"Mmm… mmm…" Ina tak mampu menjawab, dia terlanjur ketahuan.
"Astaga, kamu Ina benar-benar keterlaluan." Ucap Hans
Masalah itu sedikit rumit, namun Angga tahu betul bagaimana kejadian aslinya, dia juga memberikan banyak bukti yang dia dapat, dia bahkan ingin menuntut balik Ina.
Ya.. setelah Ina berdebat dengan Gita dia melihat pacarnya sedang berbincang dengan wanita lain, Ina cemburu buta dan menyerang Jeni, namun tentu saja Rian membela Jeni karena dia tidak bersalah, namun itu semakin membuat Ina murka.
Ina dan Jeni berkelahi, bahkan terluka lumayan parah, Ina hanya mendapatkan sedikit lebam, sementara jeni harus dirawat di Rumah sakit karena Ina sempat membawa balok kayu, di badan Rian juga terdapat luka saat mencoba memisahkan mereka.
"Bagaimana kalau kita menuntut Ina bersama-sama?." Tanya Angga pada Rian.
Ina mulai memperlihatkan wajah piasnya.
__ADS_1
Bagaimana ini?
"Saya mohon Pak Angga, jangan lakukan itu..! Saya akan melakukan apapun untuk menebus kesalahannya." Ucap Hans memohon
"Saya tidak akan menyangkut pautkan ini semua dengan anda, masalah saya cuma dengan anak bapak." Ucap Angga pada Hans, salah satu pegawainya.
"Ayo cepat kamu minta maaf..!" Ucap Hans
"Tapi yah?.."
"Cepat memohonlah, kamu mau dipenjara hah? Pak Angga juga atasan ayah, apa kamu mau ayahmu kehilangan pekerjaan? Ucap Hans berbisik di telinga anaknya.
Apa? Kalau dia Bos ayahku, berarti Gita? Aarrgghh aku mendadak pusing. Batin Ina.
Ina berdiam diri, dia merasa malu jika harus meminta maaf bahkan harus memohon.
Namun setelah menyadari jika ayahnya juga bahkan memohon padanya agar mau meminta maaf. Membuat gadis itu merasa iba, bahkan kini ia menyadari jika ia salah memilih musuh.
Ina melangkah mendekati Gita,
"Ma-maafkan aku ya Gita, aku akui aku salah karena telah memfitnah mu, tolong jangan biarkan ayahku menanggung kesalahanku." Ucap Ina bahkan matanya mulai berkaca-kaca.
"Untuk kali ini aku akan memaafkanmu." Jawab Gita
"Iya kak, menyimpan dendam dalam hati hanya akan membuatku tersiksa."
Angga begitu bangga melihat adiknya yang berlapang dada ini.
"Ok, aku tidak akan memperpanjang masalah ini ke jalur hukum, tapi tolong tanda tangani ini Ina..! Surat perjanjian, dimana kamu tidak boleh menyakiti adikku lagi."
Ina mengambil surat itu, membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat, kini dia menyadari jika Gita tidak seperti penampilan luarnya, bahkan dia sangat sederhana untuk statusnya yang sangat kaya dan berkuasa.
Kesederhanaan, satu kata namun penuh makna.
Dimana sikap sombong tidak akan menghampirinya, tidak ada rasa berkuasa dan semena-mena, bahkan rasa syukur yang tertanam di hati Gita.
Kak Reza memang cocok dengannya, pantas saja kak Reza lebih memilih gadis itu daripada banyaknya wanita cantik yang menggodanya. Pikirnya
Ina menandatangani surat itu, dia juga akan datang meminta maaf pada Jeni dan menanggung semua pengobatannya.
Rian juga memaafkan Ina, tapi dia tidak ingin berurusan dengan gadis itu lagi setelah semua ini selesai.
***
__ADS_1
Sesampainya di rumah Ina dimarahi habis-habisan oleh ayahnya, dikurung agar tidak keluar rumah selain ke kampus dan ke rumah sakit.
Gadis itu kini hanya menangisi dirinya sendiri, dia begitu sakit hati menerima perlakuan kasar dari ayahnya, meski cuma kata-kata namun itu sangat membekas.
Setelah kejadian itu, dia tidak akan pernah mengusik Gita lagi, jika berpapasan pun dia akan mencoba tersenyum, meski dirinya malu untuk menampakan dirinya.
Genap sebulan sudah perjanjian PDKT Reza dan Gita, mereka mengadakan makan malam di rumah keluarga Pak Surya, karena bulan lalu diadakan di rumah Pak Baskoro.
Namun Baskoro tidak hadir, karena kondisinya yang masih belum bisa bepergian jauh, dan tidak mau memaksakan diri.
"Bagaimana, apakah kita jadi berbesanan?." Ucap Maya
"Tentu saja harus jadi, iya kan Gita?." Tanya Hanna pada Gita.
"Emm.. Gi-Gita sih gimana mamah aja."
"Hmm.. bilang aja iya, apa susahnya sih..!" Goda Angga.
Mereka tertawa kecuali Reza dan Gita yang merasa sedikit tegang.
"2 minggu lagi, kita adakan acara pertunangan anak-anak, bagaimana?." Tanya bu Maya
"Bagus tuh, lebih cepat lebih baik." Ucap Sanjaya
"Apa itu tidak terlalu cepat?" Kini Reza membuka suara.
"Kalau kamu mau Gita di ambil orang ya kita undur saja." Ucap Maya
"Jangan dong mah."
Seketika wajah gita merah merona, mendengar Reza yang seolah tidak mau kehilangannya.
setelah disepakati 2 minggu yang akan datang akan diadakan pertunangan resmi. Meski terkesan terlalu cepat namun dua sejoli itu merasa bahagia.
Meta yang menguping, merasa tidak terima, dia akan membuat acara itu gagal total.
Secepat itukah dia mendapatkan Reza? Sementara gue harus berjuang selama bertahun-tahun, sungguh tidak adil.. gue bakal buat semuanya menjadi kacau, lihat saja Gita.. lo gak akan menjadi cinderella nya Reza.
"Non Meta lagi apa?." Tanya seorang pelayan
"Astaga bikin kaget saja, gapapa bi, Meta juga mau pulang sekarang, gak mau ngeganggu acara tante Maya."
Meta bergegas pergi dari rumah itu, melajukan mobilnya, mengirim pesan pada beberapa nomor yang ada di daftar kontaknya.
__ADS_1
Bersambung..