Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Pertanyaan Kirana


__ADS_3

Namun saat tangan Meta hampir menyentuh Kirana, tangan itu ditahan Gita.


"Jangan ganggu dia!" Ucap Gita dengan mata tajam dan tangan itu dipelintir sedikit demi sedikit membuat seseorang berteriak.


"Aw…"


"Aw.. lepas, dasar wanita gila." Umpat Meta


Saat tangannya terlepas, Meta langsung terduduk, menangis dengan sangat menyedihkan, karena dia melihat Bu Maya yang masuk ke dalam kamar.


Lalu Meta berhambur memeluk tantenya itu, mencari pembelaan darinya.


"Tante, tangan aku sakit, Gita.. Gi-Gita, dia sangat kasar tante." Ucap Meta dengan airmata palsunya.


Karena sebelumnya Maya sudah tahu jika Meta memang orangnya suka berbohong.


"Mana mungkin sayang, kamu pasti hanya salah paham." 


"Salah paham gimana sih tante? Jelas-jelas tangan aku sakit, lihat nih tante merah begini." Ucap Meta memperlihatkan tangannya yang sedikit memerah.


Namun Maya tak peduli, dia berjalan melewati Meta dan menghampiri Kirana.


"Mungkin Gita gak sengaja, tidak mungkin juga Gita melukaimu secara sengaja, pasti ada alasannya." Jawab Meta yang mengganti perban Kirana.


"Apa masih sakit sayang?." Tanya Maya


"Sedikit tante." Ucap Kirana dengan senyuman, dia senang dengan perhatian yang kini dia rasakan dari tantenya itu.


Gita ikut duduk diranjang itu, melihat luka yang didapat Kirana dari kecelakaan itu.


"Cepat sembuh ya Kirana.." Gita


"Iya kak makasih." Kirana


"So perhatian." Ucap Meta kesal.


"Meta, kamu ini kok gak akur sama Gita, harusnya kalian berteman baik, kan sebentar lagi Gita akan menjadi bagian keluarga kita, oh iya acara tunangan nya berapa hari lagi sih?." Ucap Maya


"Emm.. 3 hari lagi tante." Gita


Astaga, udah mau tunangan aja, gue harus bikin rusuh apa lagi nih, biar acara itu batal? Pikir Meta.


"Ah iya, sebentar lagi, jangan panggil tante dong, mamah aja..! Lebih enak didengar. Hehe." Maya


"I-iya mah.., kalau begitu Gita permisi ya, Kirana mungkin ingin istirahat, nanti Gita ganggu lagi, sekalian Gita mau ngobrol dulu sama Meta." Gita


"Emm iya Git." Maya

__ADS_1


Gita membalikkan matanya, menatap tajam pada Meta lalu menyeretnya keluar.


Saat mereka sudah berada jauh dari kamar itu.


"Lepas! Lo apa-apaan sih?" Meta


"Lo tuh yang apa-apaan? Udah nyuruh Kirana ngikutin Reza, udah celaka juga masih aja lo berulah, jangan sentuh Kirana lagi! Ingat itu!" Gita


"Menyebalkan.." Ucap Meta lalu dia berlalu pergi, dia bahkan benar-benar pergi dari rumah itu.


Saat bu Maya keluar dari kamar itu dia menanyakan keberadaan Meta, namun Gita bilang gadis itu sudah pulang mungkin ada urusan mendesak.


Sementara Reza tersenyum kecil, "kamu apain dia?."


"Gak diapa-apain kok, kamu tuh suudzon aja." Ucap Gita


"Hmm.. masa sih? Seharusnya kamu kasih pelajaran sama dia, biar tidak mengganggu pacarmu yang ganteng ini.hehe" Reza 


"Hmm.. gak usah dibahas lagi, aku gak suka sama dia, males ngebahas dia mulu." Gita mulai keaal.


"Cemburu nih?." Goda Reza


"Apaan sih?" Gita, dia kesal digoda terus sampai bantal sofa itu mengenai wajah Reza.


"Kenapa gak pake bibir aja, jangan bantal dong gak enak..!" Goda Reza


"Astaga.." Gita yang kesal ditambah malu, benar-benar pergi meninggalkan pria itu, menghampiri Bu Maya.


"Siapa Za?" Tanya Bu Maya


"Ini mah, om Aldi sama tante Jani."


Maya menghampiri mereka dan bergabung duduk di ruang tamu, Gita pun ikut bergabung di sana, duduk disamping Reza.


Kedua orang itu ternyata datang untuk menjemput Kirana, terlihat sekali jika Pak Aldi mengkhawatirkan anaknya itu, sementara Jani masih dengan wajah datarnya.


Bu Maya merasa setengah hati mengembalikan Kirana pada adik iparnya itu, dia tidak ingin gadis itu diperlakukan tidak baik, dia juga sangat menyayangi keponakannya itu.


"Aldi, benar kamu ingin membawa Kirana? Biarkan saja dia disini, bukannya kalian sibuk?." Ucap Maya


"Aku lagi di luar negri mba waktu itu, bahkan aku langsung memesan tiket pesawat untuk pulang, aku khawatir sama Kirana mba." Ucap Aldi dengan bersungguh-sungguh.


"Hmm.. tapi istrimu sepertinya tidak khawatir." Maya menatap sinis Jani


"Mba mungkin salah paham, mana ada ibu yang tidak mengkhawatirkan anaknya." Aldi.


Namun Jani tidak merespon ucapan Aldi, dia tetap memasang wajah acuh tak acuhnya.

__ADS_1


"Sebaiknya biarkan dulu Kirana disini, nanti mba anterin dia pulang kalau sudah membaik dan memang ingin pulang." Maya


"Baiklah, aku lihat anakku dulu ya mba?." Ucap Aldi


Bu Maya mengantar dua adik iparnya itu ke kamar tamu. Kirana begitu senang melihat Aldi namun dia tampak menunduk jika bertatapan dengan Jani, membuat Maya sedikit heran.


Maya berpikir dia harus berbicara empat mata dengan Kirana. Dan juga bicara empat mata dengan Jani. Jika ada kesalahpahaman mungkin Maya bisa menjadi penengah diantara mereka.


Gita pamit pulang bersamaan dengan Pak Aldi dan juga Bu Jani.


Gita diantar oleh Reza sampai ke rumahnya, membuat suasana rumah itu sepi, dan menjadi kesempatan bagus untuk Maya mengorek informasi dari Kirana.


Tok


Tok


Tok


"Masuk…" Kirana


"Kirana? Tante boleh bicara sama kamu dari hati ke hati, tapi kamu harus jujur sama tante..!" Maya


"Tentang apa tante?." Kirana


"Tentang ibumu." Maya


Kirana sedikit terkejut mendengar topik utama yang dibahas adalah ibunya.


"Memangnya kenapa tante?." Kirana


"Hubungan kamu dan ibu kamu baik-baik saja kan? Apa terjadi kesalahpahaman diantara kalian? Tante melihat seolah ada jarak diantara kalian." Maya menggenggam tangan Kirana.


"Memangnya terlihat jelas ya tante?" Jawab Kirana dengan mata berkaca-kaca.


"Tante bisa melihat dari sikap Jani sama kamu, ada yang aneh, ada yang salah, tapi apa? Tante bingung, coba kamu cerita..!" Rayu Maya


Cerita gak ya? Tapi rasanya memang mengganjal di hati, aku juga penasaran ingin bertanya sesuatu pada tante Maya. Batinnya


"Sebenarnya, sejak kecil aku merasa tidak diperhatikan oleh mamah tante, entahlah aku merasa aku seperti orang lain di matanya, apakah aku benar anak kandung mamah Jani tante?." Tanya Kirana penuh harapan mendapat jawaban pasti.


Deg.


Bu Maya kaget dengan apa yang ditanyakan oleh keponakannya itu. Bagaimana bisa Kirana berpikiran sampai sejauh itu.


Bukankah Aldi begitu menyayangi anak ini, bahkan ketika masih kecil pasti acara ulang tahunnya dirayakan dengan meriah.


Aldi selalu membanggakan anak perempuannya itu, begitu cantik, manis dan menggemaskan. Maya juga sempat iri pada adik iparnya itu, ia begitu menginginkan anak perempuan.

__ADS_1


Namun setelah ia melihat Kirana tumbuh dewasa memang sedikit aneh, anak itu tidak mirip Aldi, bahkan tidak mirip Jani juga. apakah mirip neneknya? entahlah Maya tidak pernah memikirkannya lagi.


Bersambung...


__ADS_2