Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
BAB 39 Memandikan si Putih


__ADS_3

Kabar Ratu hamil yang tersebar di seluruh istana membuat beberapa orang senang dan beberapa orang lainnya iri.


Selir Mey salah satu yang iri pada Ratu, ia tak mau dikalahkan Ratu Anggrek.


"Bukankah aku yang terlebih dulu dicintai Deon dan menikmati malam bersama, tapi mengapa dia lebih dulu hamil, bahkan aku kini berharap mempunyai bayi untuk menemani hidupku ini, ya setidaknya aku mempunyai alasan untuk bertahan hidup, dan pasti nanti anakku akan menjadi alasan kebahagiaanku.." Selir Mey larut dalam pikirannya itu.


Selir Janie pun merasakan hal yang sama, ia merasa dengan kehamilan Ratu membuat Deon semakin kuat mempertahankan posisinya itu.


Sebelum kehamilan Ratu tersebar, dan pada saat ia tahu bahwa banyak menteri yang meragukan Raja Deon. Selir Janie merasa senang sekali, bahkan ia mengadakan pertemuan dengan beberapa menteri.


Ia berusaha meyakinkan para menteri agar mau bekerja sama dengannya, ia mencalonkan Pangeran Xia sebagai pengganti Raja Deon.


"Bagaimana kalau kita bekerja sama, jika anakku menjadi Raja aku pastikan kita akan sama-sama mendapat keuntungan." Ucap Selir Janie


"Tapi menurut saya pangeran Xia masih mempunyai banyak celah." Ucap salah satu menteri


"Maksudmu?" Selir Janie sedikit kesal tak terima anaknya diremehkan orang lain


"Seperti yang anda tahu, bukankah Raja Deon lebih tua dari pangeran Xia? meski saya tahu pangeran sedikit lebih baik kepemimpinannya daripada Raja Deon, bahkan selama latihan pangeran selalu mempunyai nilai yang lebih unggul, tapi.." jawab Menteri yang lainnya


"Bahkan kau mengakui kelebihan anakku, lalu apalagi? Masalah umur kan cuma berbeda dua bulan saja." Selir Janie tetap memaksa


"Hmm.. tapi itu terlalu memaksakan nyonya, bukankah Deon adalah anak dari seorang permaisuri sementara Pangeran Xia lagir dari rahim selir? Deon kini telah menikah memiliki selir juga, sementara pangeran Xia? Bukankah sudah cukup jelas itu sangat berbeda."


Paman Heri menjawab dengan sebenar-benarnya meski itu menyinggung selir Janie


"Arrgghhh… lalu bagaimana jika ingin anakku menggantikan Deon?" Selir Janie mulai marah


"Hmm.. jika Deon melakukan hal yang fatal mungkin Pangeran akan mendapatkan kesempatan itu, tapi jika benar-benar yang pasti, maka.." Paman Heri menggantungkan ucapannya membuat semua yang hadir penasaran


"Maka aku harus apa?" Selir Janie penasaran


"Maka harus melenyapkannya." Bisik Paman Heri ditelinga selir Janie, membuat selir tersenyum licik. Jika memang harus mengambil jalan terakhir ia harus siap mengambil resiko besar jika ia gagal.


*

__ADS_1


Ratu lari menuju peternakan, ia begitu merindukan si Putih. Karena ia tidak diperbolehkan menunggang kuda yang bisa membahayakan kehamilannya, maka hari ini Ratu berencana memandikan si Putih saja.


Sani yang masih khawatir langsung menghampiri Ratu.


"Ratu.., Ratu tidak boleh menunggang kuda..! Ibu Suri sudah memperingatkan hal itu, saya tidak mau jika nanti terjadi sesuatu pada Ratu. Ayo kita pulang saja Ratu..!" Ucap Sani memohon pada Ratu agar mau pulang


"Siapa bilang aku mau berkuda? Aku cuma memandikannya saja, lagipula aku tahu jika aku tidak boleh berkuda karena tadi aku mendapat omelan pagi dari ibu Suri, Huhhh…" jawab Ratu sambil mengeluh


"Sementara aku memandikannya, tolong kamu petikkan aku buah masam lagi dan bumbunya..!" Perintah Ratu


"Bumbunya?" Sani sedikit bingung


"Bumbu yang sama seperti kemarin, yang aku buat bersama buah asam itu." Ratu menjelaskan


Sani Pun mengerti dan segera pergi, tetapi sebelum pergi Sani berpesan agar Ratu memperhatikan setiap apa yang akan dilakukan, jangan sampai membuat Ratu kelelahan apalagi celaka.


Ratu hanya mengangguk dan mengeluh jika selama dua hari terakhir sejak semua orang tahu kalau dia hamil, semua orang menjadi cerewet.


"Salam Ratu, sepertinya anda perlu bantuan?" Tanya pangeran Ceng


"Baiklah sepertinya menyenangkan tapi kau harus hati-hati jangan sampai jatuh..!" Ucap Pangeran Ceng


"Astaga, kau sama saja dengan mereka. Mendadak cerewet." Keluh Ratu sambil menggosok badan si Putih, sementara pangeran Ceng pergi mengambil air lagi.


Mereka begitu menikmati bermain air sambil mandikan si Putih, sampai-sampai baju Pangeran Ceng basah semua, sementara baju Ratu masih kering sempurna karena Pangeran berhati-hati sekali tidak ingin jika Ratu sakit disaat ia hamil.


Raja yang menyusul Ratu kini diam memperhatikan dua orang yang sedang memandikan kuda,


"Mereka akrab sekali, aku mulai berpikir kepribadian mereka sekarang mirip sekali, sama-sama ceria, sama-sama bisa menghibur orang-orang disekitarnya, bahkan aku saja yang jarang tersenyum, kini bisa tertawa lepas jika bersama mereka." Gumam Raja Deon


"Haruskah aku ikut bergabung bermain bersama mereka?" Ucap Raja Deon 


Raja pun menghampiri mereka, mulai mencipratkan air ke arah Pangeran Ceng, pangeran yang tidak terima, ia langsung membalas perbuatan Raja Deon.


Ratu yang melihat dua sahabat yang bermain layaknya anak kecil ia begitu senang dan membiarkan mereka berdua yang melanjutkan memandikan si Putih karena ia takut jatuh tersenggol mereka.

__ADS_1


Ratu duduk memperhatikan mereka tak jauh dari tempat memandikan si putih, ia duduk sambil menunggu Sani datang, begitu terlihat Sani yang berjalan dari kejauhan, Ratu melambaikan tangannya supaya Sani menghampirinya.


Ratu menelan salivanya saat melihat makanan igu datang, Ratu mulai makan sambil melihat Raja yang sedang memandikan kuda, ia seperti sedang bersantai menikmati tontonan di depannya, sesekali Ratu tertawa melihat mereka bermain seperti anak kecil.


Tanpa sadar Sani tersenyum melihat tingkah Pangeran Ceng.


"Astaga, ada apa denganku? Kenapa aku senang melihat pangeran senang? Sani… kendalikan dirimu..!" Gumam Sani dalam hatinya 


Ratu mulai melambaikan tangan ke arah mereka, menyuruh mereka bergabung dan ikut makan, Raja bergidik ngeri melihat Rujak masam yang Ratu makan, ia kapok dan tidak mau mengalami diare lagi, untung saja Sani menyiapkan buah yang lainnya, buah yang manis yang sudah matang dan siap dimakan.


Mereka makan bersama, seperti sedang piknik, saling bercanda dan melempar candaan, Sani yang Canggung terhadap Raja dan tidak berani menganggapnya menjadi teman, Sani hanya berani bercanda pada Ratu dan Pangeran Ceng, dan ia hanya tertunduk jika Raja Deon melihatnya.


Tak Terasa hari menjelang sore, Pangeran Ceng pamit pulang terlebih dahulu.


"Terimakasih untuk hari ini, lain kali kita main bersama lagi." Ucap Pangeran Ceng sambil bergegas pergi, sepertinya ia mempunyai acara yang sempat tertunda karena terlalu lama bermain.


Sani yang memandangi Pangeran Ceng pergi, tiba-tiba raut wajahnya sedikit sedih.


"Kamu kenapa Sani?" Tanya Ratu yang membuat Sani sadar dari lamunannya


"Tidak apa-apa Ratu, sebaiknya kita segera kembali, saya tidak mau jika Ratu kelelahan."


"Baiklah Sani aku tahu, dadah putih… kamu terlihat jauh lebih tampan." Ucap Ratu memuji si Putih yang sudah dimandikan itu.


Raja hanya bisa geleng-geleng kepala, ia heran dengan perubahan Ratu dan sedikit bingung.


"Apakah dia dari dulu memang seperti itu? Apakah aku baru menyadarinya?" Gumam Raja sambil melangkah mengikuti Ratu dari belakang.


Bersambung…


...Terimakasih sudah mampir, jangan lupa like dan komennya ya..! Biar makin semangat up date nya..hehe...


...Oh iya, ini ada rekomendasi novel temen aku nih, bisa dikepoin sambil menunggu bab baru up lagi :)...


__ADS_1


__ADS_2