
Reza memilih pulang, berganti pakaian dan beristirahat sejenak. Lalu dia mengirim pesan melalui Handphone nya.
| Git, kamu tadi pulang kampus jadi pulang sama mamah kamu? | Reza
Gue mau tahu, apakah dia bohong atau tidak. Pikir Reza
| Enggak, aku pulang bareng kak Angga. | Gita
Syukurlah.. Batin Reza
| Bagaimana kalau kita ketemuan? | Reza
| Hari ini aku gak bisa Za, besok aja anter ke kampus. Ok? | Gita
| Ok, padahal aku kangen.| Reza
| Hehehe..| Gita
Kenapa dibalas cuma seperti itu?, astaga, sabar Za sabar… Batinnya.
Reza memilih istirahat di rumah karena pacarnya itu tidak ingin diajak bertemu. Namun Reza mendengar suara horor, suara cempreng seseorang.
Meta? Aku harus pura-pura tidur.. Pikirnya
Dia bergegas mengunci pintu dan menuju tempat tidurnya kembali, menarik selimutnya.
Meta menemui bu Maya, lalu menanyakan keberadaan Reza, namun ibu itu berpesan jangan mengganggu anak lelakinya karena Reza sedang istirahat. Membuat Meta sedikit kecewa, dia pun memilih menunggu Reza sampai bangun sambil menemani tantenya itu.
"Tan… hubungan Reza dan Gita itu seperti apa? Sudah sejauh mana sih tan?" Tanya Meta pada Maya
"Emm.. mereka sudah dijodohkan, berharap mereka bisa serius sampai ke pernikahan. Ya.. beruntung ternyata mereka cocok, hanya menunggu mereka siap menikah saja."
"Apa? Seserius itu tan, bukannya kak Reza biasanya main-main saja sama perempuan?."
"Hus… kamu itu berpikiran jelek aja tentang Reza."
"Maaf Tan, tapi kan itu yang Meta tahu selama ini, bahkan banyak mantan kak Reza yang masih belum menerima jika diputuskan begitu saja."
"Hmm iya, kali ini berbeda, Gita juga gadis berbeda, tante yakin Reza akan serius dan setia sama dia."
"Berbeda? Apanya yang spesial tan?."
"Udah ah, tante mau lihat papanya Reza dulu, tadi om kamu sempat minta teh hangat, tante lupa malah ngobrol sama kamu." Maya melangkah pergi meninggalkan gadis itu.
Percakapan tadi membuat Meta iri, kenapa bukan dia yang terpilih, kenapa Gita? Apa yang spesial darinya? Bahkan penampilannya sederhana, itulah yang Metapikirkan.
Dia tidak akan menyerah, dia akan mengganggu hubungan mereka.
__ADS_1
Gue mau tahu, sebatas apa rasa percaya mereka? Pikir Meta.
Entah apa yang direncanakan gadis itu, namun tatapan dan senyumannya yang licik, memberikan aura dingin di sekitarnya.
Reza benar-benar tertidur, bahkan Meta pun sampai lelah menunggu dan memilih pulang.
***
Pagi ini di rumah keluarga Baskoro, mereka sedang sarapan bersama.
"Git, kamu gak usah khawatir ya, kakak tadi dapat info kalau detektif yang kakak bayar sudah menemukan beberapa bukti."
"Ah iya kak, makasih. Lagipula selama Gita gak salah, kenapa harus khawatir. Hehe." Jawab Gita, dia memang tidak terlalu terganggu dengan ancaman Ina. Gadis itu malah kesal dan geram ingin benar-benar membuat orang yang memfitnahnya masuk rumah sakit, namun sekuat tenaga dia harus menahannya.
"Mau bareng kakak berangkatnya?."
"Gak usah kak, aku udah ada janji."
"Cie..cie… dianter pacar nih."
"Kak Angga.." Ucap Gita kesal, karena digoda kakaknya itu.
Bu Hanan dan Pak Baskoro hanya tersenyum kecil melihat anak-anaknya seperti itu.
Angga merasa kasihan pada adiknya itu, maka dia akan fokus dulu di Jakarta, mengurus semua pekerjaan disini, membiarkan Gita fokus pada kuliahnya, toh beberapa bulan lagi Gita wisuda S1 nya.
Reza akhirnya datang, dengan senyum manisnya dia menyapa semua Anggota keluarga Baskoro, lalu pamit mengantar Gita.
Sesampainya di kampus, Reza memilih masuk dan berbincang terlebih dahulu dengan pacarnya itu.
Namun Reza sempat mendengar umpatan kasar dari mahasiswa yang menyebut jika Gita kasar dan membuat temannya terluka dan lebam-lebam membuat Reza kaget.
"Kamu lagi kena masalah?."
"Hmm iya, itu fitnah, biarin ajalah, lagi pula kak Angga lagi mengurus semuanya."
"Kenapa kamu gak bilang? Aku seperti orang yang tak berguna saat kamu mendapat masalah."
"Haha.. jangan berpikir seperti itu, aku hanya tidak ingin membebanimu, menceritakan semua masalahku padamu, aku terbiasa begitu."
"Tapi mulai sekarang kamu harus menceritakan keluh kesahmu padaku, ok! Aku pacarmu, temanmu, sahabatmu, dan bisa jadi kakakmu dalam waktu bersamaan."
"Iya.. iya." Jawab Gita sambil tersenyum kecil.
Gita menemani Reza sarapan di kantin kampus, Nisa bahkan menghampiri dan menggoda dua sejoli itu. Membuat mereka salah tingkah.
Reza menyudahi sarapannya melihat jam yang menunjukan pukul 08.00, dia bergegas pergi menuju kantornya.
__ADS_1
Nisa yang baru masuk kampus karena sakit, namun dia mendengar gosip yang beredar dan merasa khawatir pada sahabatnya itu.
Tapi gadis itu berpikir ulang, jika sahabatnya bukan orang biasa, tentu bisa mengatasi masalah seperti ini.
Datanglah Ina dan kawan-kawannya.
"Hmm.. hmm.. masih berani nih masuk kampus?." Tanya Ina
"Lo juga, udah tahu sakit masih aja ngampus, diem aja di rumah sakit." Jawab Gita.
"Haha.. tadinya iya saking parahnya luka yang lo tinggalin, tapi gue lebih suka ngampus tuh, tapi ngeliat lo dengan tampang tanpa rasa bersalah itu bikin gue tambah muak." Ucap Ina
"Kalau muak ya tinggal pergi aja, ngapain nyamperin gue, ya kan Nis?."
"Haha.. bener Git, mereka yang nyamperin."
"Awas lo ya, liat aja gadis miskin yang so kecentilan, lo bakalan diskors karena ulah lo kemarin."
"Hahaha.. ok gue tunggu." Jawab Gita, dia menanggapinya dengan tenang, sama sekali tidak khawatir ataupun takut.
Ina pun pergi dari hadapan Gita dan Nisa, Mereka juga kini pergi menuju kelasnya karena sebentar lagi mata kuliah akan segera dimulai.
Tidak terasa hari sudah siang, saat Gita masih berada di kampus dia dipanggil Dosen untuk berkumpul di ruangan dekan, disana sudah ada kak Angga, Ina dan pak Hans.
"Mari kita musyawarahkan dulu masalah ini, bukankah tidak baik jika langsung saling melapor ke pihak kepolisian, bahkan nanti kampus ini akan ikut terseret." Ucap pak Dekan.
Mereka mengangguk pelan.
"Tapi pak, ini sudah keterlaluan, saya tidak terima, setidaknya Gita mendapat hukuman pak." Ucap Ina.
"Jadi kamu ingin adikku menanggung apa yang tidak pernah ia lakukan?." Ucap Angga kesal
Ina melihat sosok lelaki yang membela Gita, yang ternyata lelaki kemarin itu adalah kakak Gita.
Penampilannya rapi? Paling dia pekerja kantoran. Pikir Ina
"Bukannya aku telah memberi bukti dari rumah sakit, adikmu itu memang kasar." Jawab Ina
"Ya.. kamu memang lebam dan ada buktinya, namun apakah setelah berdebat dengan Gita, kamu bertemu seseorang di belakang kampus?."
Deg..
Kenapa dia bisa tahu? Batin Ina
Sementara Pak Dekan dan Pak Hans hanya menjadi pendengar perdebatan ini. Gita yang tidak ikut bicara pun dia hanya diam dan tersenyum kecil melirik pada Ina.
Gita tak perlu menghamburkan waktunya berdebat dengan Ina, toh ada kakaknya yang berdiri paling depan membelanya, dia juga takut jika emosinya tak terkendali menghadapi Ina, bisa-bisa dia melayangkan tinjunya pada gadis menjengkelkan itu.
__ADS_1
Bersambung...