
Angga mengantar mereka sampai ke rumah, bahkan dia mampir sebentar, dia tidak mau berlama-lama bukan tidak kangen dengan Dafa, namun hari sudah mulai gelap.
Saat sampai di rumahnya Angga kini ingat untuk membawa kotak miliknya, dia memeluk kotak itu karena itu kenangan satu-satunya yang dia miliki.
Saat Gita keluar dari kamarnya, dia tidak sengaja menabrak Angga, membuat isi kotak itu berhamburan.
Gita dengan cekatan membantu, namun dengan segera Angga merapikannya dan membawanya ke kamar.
"Kak Angga kenapa sih?" Keluh Gita.
"Kenapa Git?" Tanya Hanna yang baru datang.
"Itu kak Angga mah, aneh banget, masa dibantuin beresin barangnya aja gak boleh, penting banget ya? Sampe aku gak boleh pegang." Gita
"Hmm.. kamu ini baper kali, jangan gitu ah..!" Hanna
"Katanya kamu mau salad buah, tuh cepetan makan udah mamah bikinin yang paling enak, jangan sampai dihabisin Angga terus kamu makin baper, hehehe.." Hanna
"Iya mah." Gita
Dia dengan segera menyantap makanan nya, melihat ke belakang memastikan Angga masih di dalam kamarnya. Makanan itu sangat enak, segar, dan lezat, tidak sama dengan yang dijual diluaran sana, karena itu khusus resep ibunya.
Dia tidak rela jika makanan itu dihabiskan oleh Angga, membuatnya sangat terburu-buru.
"Pelan-pelan dong Git..!" Hanna
"Iya mah," jawab Gita dengan penuh makanan didalam mulutnya.
***
Reza yang baru ingat jika ibunya punya info penting, ketika makan malam dia mencoba bertanya pada ibunya itu.
"Mah… kemarin di tempat tante Jani kalian ngomongin apa? Katanya ada gosip penting." Reza
"Oh iya mamah lupa mau cerita sama kamu, padahal udah beberapa hari yang lalu, haha.. kamu juga gak ngingetin sih." Maya
"Aku juga kelupaan, mumpung inget nih mah, apa?" Reza
"Masalah Kirana yang udah ketemu kakak kandungnya." Maya
"Gimana orangnya mah? Pasti dia itu lemah lembut juga kayak Kirana, sopan, kalau laki-laki cakep , berwibawa, dewasa, berkharismatik. Hehe.." Reza
"Ya kurang lebih seperti itu." Maya
"Wah, kenalin sama aku ya mah..! Siapa tau bisa jadi rekan bisnis." Reza
"Kamu kenal kok." Maya
"Kok kenal, siapa?" Reza
__ADS_1
"Angga, anak angkatnya Hanna." Maya
"Apa? Tapi Gita bilang mereka pacaran," ucap Angga dia bingung mana info yang benar.
"Mamah gak tahu soala pacaran, tapi jangan bilang Gita tentang masalah ini, biarkan Angga yang memberitahunya sendiri." Maya
"Iya mah, kalau Angga yang jadi kakaknya Kirana, dia jauh dari ekspektasi aku, udah nyebelin, gak dewasa, usil, astaga." Reza
"Huss… jangan ngomong begitu, dia itu calon kakak ipar kamu, mau mamah bilangin ke dia?" Maya
"Jangan dong mah..!" Reza memohon.
Sanjaya hanya fokus makan, mendengarkan saja percakapan anak dan istrinya itu, membuatnya tersenyum dengan tingkah mereka.
***
Hari ini Angga pergi ke kantor, sementara Gita libur kuliah. Meski begitu mereka sarapan bersama.
"Tumben nih bangun pagi, padahal gak kuliah?" Angga
"Biasanya juga pagi kak." Gita
"Hmm, masa?" Ejek Angga.
"Ssttt… pagi-pagi udah berantem aja," ucap Bu Hanna mengingatkan, sementara Baskoro hanya tersenyum kecil.
"Kemarin pas sakit 'kan kak Angga libur terus tuh, sekarang giliran aku yang libur bersantai dirumah. Hehe.." Gita
Angga pamit dan berangkat kerja, sementara Gita kembali ke kamarnya menonton drama korea. Dia sedang ingin melakukan aktivitas yang dia sukai di rumah.
Sekitar jam 9 pagi Pak Andra dan Dafa datang bertamu, Pak Andra sengaja datang ingin menemui Bu Hanna, sementara Dafa mencari keberadaan Angga.
"Eh ada Pak Andra, silahkan duduk..! Tapi Angga nya hari ini pergi ke kantor." Bu Hanna
"Saya ada perlu dengan Bu Hanna." Pak Andra
"Tumben sekali, ada apa nih?hehe.." Bu Hanna
"Papah, Kak Angga nya juga gak ada, kita pulang aja yuk..!" Dafa
"Bentar ya Dafa, papah mau bicara dulu sama mamanya kak Angga." Pak Andra
"Nak Dafa sudah sembuh sayang? Biar kamu ditemani kak Gita aja ya, main game di kamar kak Angga, mau 'kan?" Bu Hanna
Dafa menganggukkan kepalanya, jika pulang dia dirumah juga akan merasa bosan. Gita yang dipanggil bu Hanna pun mengerti, gadis itu membawa Dafa ke kamar kakaknya untuk bermain game, sementara Gita menemani Dafa sampai para orang tua selesai berbicara.
Pak Andra mulai berbicara serius dengan Bu Hanna, menceritakan masalah kalung yang dia temukan di mobil Angga, lalu menceritakan kisah masa lalunya dulu bersama Alisa.
"Saya dengar Angga juga sudah menemukan makan Alisa, saya yakin Alisa yang dia maksud adalah mantan istri saya dulu." Pak Andra
__ADS_1
"Maksud bapak, Angga anak laki-laki bapak?" Bu Hanna
"Iya saya berharap begitu, saya ingin meminta izin melakukan tes DNA, kalau bisa jangan sampai Angga tahu." Pak Andra
"Kenapa dirahasiakan?" Bu Hanna
"Emm, saya takut hasilnya mengecewakan, jadi kalau benar baru saya kasih tahu dia." Pak Andra
"Baiklah, tapi bagaimana bisa bapak berpisah dengan anak lelaki bapak dulu?" Bu Hanna
"Hmm, istri saya berselingkuh lalu saya menceraikannya, namun Angga ikut dengan saya waktu itu, karena saya khawatir Angga tidak terurus berpikir jika Alisa sibuk dengan kekasih gelapnya itu." Pak Andra
"Lalu?" Bu Hanna bertanya karena semakin penasaran.
"Suatu hari dia mengambil Angga sepulang sekolah di taman kanak-kanak, saya yang terlambat menjemputnya pun kehilangan jejak, sampai saat ini saya belum menemukan anak itu, saya berharap jika dia diurus dengan baik oleh ibunya, namun jika anak itu adalah Angga anak ibu, saya sangat menyesal tidak bisa menjaganya sampai dia harus tinggal di panti asuhan." Pak Andra
"Oh seperti itu, jadi Dafa itu anak dari istri bapak yang kedua?" Bu Hanna
"Iya, tapi dia sudah meninggal." Pak Andra
"Innalillahi……" Bu Hanna
"Jadi jika sampel Angga sudah ada, bisakah ibu meluangkan waktu ke Rumah Sakit bersama saya?" Pak Andra
"Tentu," jawab Bu Hanna sambil tersenyum, dia juga akan sangat senang jika Angga menemukan keluarganya, dia tidak boleh egois menahan anak itu.
Sementara di dalam kamar, Gita dan Dafa sedang asyik-asyiknya bermain, bahkan Dafa bermain sambil berteriak.
"Ternyata kak Gita lebih jago dari kak Angga." Dafa
"Iya dong pastinya." Gita
"Sekali kali ngalah dong sama anak kecil..!" Dafa
"Enak aja, lagi seru ini, kakak gak mau nanti malu dong masa kalah sama anak kecil." Gita
"Kakak pelit." Dafa
"Hahaha… biarin." Gita
Mereka kembali fokus bermain, namun tak sengaja Gita menyenggol kotak milik Angga, hingga kalung itu juga ikut jatuh.
"Bentar, kakak beresin ini dulu, pause aja dulu..!" Gita
Dafa pun ikut membantu membereskan barang-barang Angga, anak itu masih mengingat jelas jika itu barang yang dijatuhkannya saat di dalam mobil Angga.
"Ih kakak, jangan sampe rusak, ini berharga banget buat kak Angga ,ini kan peninggalan ibunya yang sudah meninggal." Dafa
"Apa, ibunya yang meninggal?" Gita kaget, dia percaya tidak percaya dengan ucapan anak kecil dihadapannya itu.
__ADS_1
Apa dia asal bicara? Pikir Gita
Bersambung…