
Angga terus menatap ke arah Kirana, dia ingat betapa sering dia melihat gadis itu di sekitar jalan dekat kampus atau di pinggir jalan yang Angga lewati, gadis itu membagikan makanan kepada anak jalanan, dan pengemis.
Sepertinya gadis itu rutin berbagi setiap pagi hari, karena Angga melihatnya setiap ia berangkat kerja.
"Kak.." Panggil Gita, menyadarkan Angga dari lamunannya.
"Ah iya Git, kenapa?" Angga
"Kakak ini gak jelas deh, ngomong gak jelas, ditanya malah diem aja." keluh Gita
"Hmm.. gadis itu siapa Git?" Angga merasa penasaran.
"Oh itu sepupunya Reza kak, namanya Kirana, cantik ya kak? Kakak suka?." Gita bertanya karena merasa penasaran.
"Cantik, kakak cuma sedikit tertarik aja Git, menurutmu dia gadis seperti apa?." Angga
"Emm.. entahlah, aku baru bertemu 2 kali kak, tapi menurut penglihatan yang sekilas ini sih, dia wanita baik, tidak rese kaya sepupu Reza yang satunya lagi." Ucap Gita
Angga terus memandangi Kirana, bahkan tanpa sadar ia tersenyum.
Reza yang tak sengaja melihat momen itu, dia mulai mempunyai rencana yang akan menguntungkannya.
Ya.. Reza akan menjadi penghubung antara Kirana dan Reza berharap mereka bisa menjalin hubungan dan bisa membuat Reza tenang.
Reza terkadang parno ketika melihat kedekatan mereka setelah tahu jika Angga bukanlah kakak kandung Gita.
Gue comblangin aja kali ya? Cocok nih Kirana jadi calonnya kak Angga. Pikir Reza
Setahu Reza, sepunya itu baik dan jarang bergaul, pendiam dan lemah lembut, Reza yakin Kirana belum punya kekasih.
Kirana menyuapi ibunya, karena sudah saatnya minum obat. Angga memperhatikan gerak-gerik gadis itu, Angga merasa gadis cantik itu memang berhati lembut. Kepada orang yang tidak dikenal saja dia selalu berbagi, apalagi dengan ibunya sendiri, pasti ibunya sangat beruntung memiliki anak gadis seperti Kirana.
Gita menepuk pundak Angga, membuat pria itu kaget dibuatnya.
"Astagfirullah…" Angga
"Kakak sih dari tadi ngelamun aja, banyak ngelamun, ngelamunin apa sih?." Tanya Gita
"Bukan apa-apa." Jawab Angga singkat
"Ayo kita pulang kak..!" Ajak Gita
__ADS_1
"Ayo, kita berpamitan dulu kepada semua orang..!" Angga
Semua orang disalami oleh Angga, namun ketika Angga ingin bersalaman dengan Kirana, gadis itu seperti menolak, lalu mengangkat kedua tangannya menyatukan kedua telapak tangannya.
Oh, bukan mahram ya? Hehe.. aku kok jadi malu ya? pikir Angga
"Gadis idaman tuh kak, pepet aja..!" Gita berbisik
"Kamu ini apa-apaan sih Git." Angga
Merekapun akhirnya keluar dari ruangan itu, begitupun Reza. Pria itu mengajak Gita makan diluar dan membiarkan kak Angga pulang sendirian.
"Astaga, adik durhaka kamu Git, udah minta anter, sekarang kakaknya malah disuruh pulang sendiri." Angga mendengus kesal.
"Hehe.. maaf kak, ngerti sedikit lah kak, kita kan lagi kangen momen berdua." Gita
"Kakak gak ngerti, kan kakak gak punya pacar." Angga
"Tenang aja kak nanti kita cariin yang spesial." Reza
"Emangnya martabak?." Keluh Angga
"Udah kak pulang duluan aja..!" Gita
Angga terpaksa pulang sendiri, naik taksi aja ada bayarannya pikir Angga, ini udah gratis diusir pula, meski kesal namun setidaknya dia bisa bertemu gadis tadi.
Ya anggap aja bayarannya dikenalin sama cewek tadi, Kirana kan namanya? Batin Angga
Angga memilih pergi makan sendirian di cafe terdekat. Saat dia menikmati makanannya, dia melihat anak kecil yang mirip dengannya menuju pintu keluar, Angga diam sejenak karena terkejut, lalu dia berlari, berniat mengejar anak tadi, namun dia kehilangan jejak, sepertinya anak itu telah pergi entah kemana.
Siapa sebenarnya anak itu? Apakah dia adikku? Apa aku harus mencari tahu keluarga asli ku? Tapi… aku masih ragu. Pikir Angga
Angga terlalu sakit menerima kenyataan jika dia sudah berada di panti asuhan, yang dia ingat ibunya yang membawanya kesana, memintanya menunggu. Namun ibunya itu tidak kembali juga, Angga kecil menangis terus menerus membuat pengurus panti asuhan keluar dan membawa Angga masuk ke dalam, bahkan waktu itu hari sudah gelap.
Waktu itu dia masih berusia 8 tahun, bayangan itu tidak terlalu jelas, karena kejadian yang itu terlalu lama, bahkan Angga tidak mau mengingatnya.
Di panti Angga murung hampir 4 bulan, di bulan ke 5 barulah dia berbaur dengan teman-temannya, dia masih berharap ibunya datang kembali menjemputnya.
Angga menunggu ibunya di sana, saat ada orang yang ingin mengadopsinya, Angga akan menolak dengan alasan, ingin menunggu ibunya menjemputnya, jika dia pergi dari panti itu, ibunya pasti kebingungan mencarinya.
Sampai dimana Angga lelah menunggu, 18 bulan menunggu membuatnya membenci ibunya itu. Disaat dia bertemu keluarga yang ingin mengadopsinya, dia memutuskan menerimanya dan pergi dengan keluarga baru, mengubur kenangan masa lalu.
__ADS_1
Angga beruntung memiliki keluarga baru yang sangat menyayanginya, bahkan dia juga mendapatkan adik yang manis kala itu, ya.. gadis itu Anggita dan keluarga yang mengadopsinya adalah keluarga Baskoro.
"Hai kak.." Nisa
Lamunan Angga langsung buyar kala Nisa memanggil namanya.
"Eh .. iya, temennya Gita ya?." Angga
"Iya kak, Gitanya mana? Aku mau sekalian minta maaf karena gak hadir saat acara pertunangannya." Nisa
"Aku sendirian, biasalah Gita lagi sama pacarnya." Angga sedikit kesal.
"Oh, kirain ada Gita." Nisa
"Kamu mau pulang, yu.. kakak anterin lagi..!" Angga
"Beneran nih? Gratis kan?hehe.." Nisa
"Gratis lah, emangnya mobilku mobil taksi." Keluh Angga
Tentu saja Nisa merasa sangat senang, dia tidak akan menolak kesempatan ini.
Rezeki nomplok nih bisa ketemu kak Angga, dianterin pula. Batin Nisa
Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir, Angga juga senang bisa mengantar teman adiknya itu, setidaknya dia tidak sendirian.
"Jangan sampai salah rumah lagi loh kak..!" Goda Nisa
"Hehehe.. gak, ini kan siang, terang, pasti lebih jelas , waktu itu kan malam hari, rumahnya juga sama cat rumahnya dengan rumahmu, wajar dong kalau salah." Angga membela diri.
"Hehehe.. iya sih." Jawab Nisa, gadis itu merasa tergelitik dengan jawaban Angga.
Sesampainya di depan rumah, Angga memilih mengantarkan Nisa sampai gerbang rumahnya saja, ini kan masih siang. pikir Angga.
Namun tiba-tiba Ayah Nisa keluar dan melihat kedatangan Angga, dia melambaikan tangannya pada Angga, membuat pria itu tak enak hati dan memilih mampir meski sebentar saja.
"Mau mampir dulu kak? Ayo..! Kebetulan memang papah lagi dirumah." Ajak Nisa
"Hehe.. boleh deh mampir sebentar." Jawab Angga sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
Pikir Angga
__ADS_1
Angga kembali masuk ke dalam mobilnya, dia memarkirkan mobilnya itu di halaman rumah Nisa.
Bersambung..