
Angga memeriksa pesan itu, dia ingin tahu dari siapa saja pesan itu berasal.
Cuma ada 2 pesan dari Dafa yang menanyakan keadaannya, sementara 53 pesan dari tante Jani, sepertinya wanita itu penasaran sekali dengan hasil tes DNA yang Angga bicarakan dan belum sempat menuntaskan percakapannya.
Angga tertawa saat membaca satu persatu pesan itu, pasalnya tante Jani begitu penasaran sampai dia tidak bisa tidur dan terus menghubungi Angga setiap 10 menit sekali, bahkan sampai subuh pesannya masih ada yang baru terkirim.
Apa tante Jani benar-benar begadang gara-gara hasil tes itu? Pikir Angga
Saat baru saja ingin membalas pesan itu, ternyata yang dipikirkan lelaki itu sudah ada didepan rumah.
Tingnong
Tingnong
Suara bel terdengar, Bi Mina dengan segera menuju pintu depan. Ternyata yang datang adalah Jani yang berkunjung sengaja menjenguk Angga, dia datang sendirian karena tidak mau Kirana tahu.
"Tante.." Angga
"Tante sengaja dateng buat jengukin kamu." Jani
"Pagi-pagi begini? Yakin tidak ada maksud lain?" Tanya Angga.
"Hehe.. tentu saja dengan hasil yang kemarin itu tuh," ucap Jani.
Bu Hanna datang dari arah ruangan belakang, wanita itu menyambut tamu yang datang di pagi hari.
"Eh ada Jani, duduk dulu, mau minum apa? Kenapa pagi-pagi begini sudah memakai kacamata hitam?" Tanya Hanna heran.
"Oh ini, biasa lah mba, mata panda.hehe.." Jani
"Oh.."
Jani yang merasa penasaran setengah m@ti itu benar-benar tidak bisa tidur, dia menunggu matahari terbit untuk bisa pergi, jika dia tidak merasa malu, pasti dia akan bertamu ketika subuh.
Bahkan di sekitar mata Jani kini menghitam, hasil dari begadang sambil menatap layar ponselnya terus menerus berharap Angga membalas satu pesannya saja.
"Tante… tante, sampe segitunya. Hehehe.." Angga
"Kamu yang keterlaluan, pesan tante gak dibalas satupun." Jani
"Ponsel aku mati tante, lagian udah tahu gak aktif masih aja mengirim pesan, ada ada aja." Angga
"Hemm, jadi bagaimana hasilnya?" Jani
"Aku bawa dulu ya suratnya." Angga
Jani menunggu dengan rasa penasaran yang masih sama, setelah mendapatkan amplop coklat itu, dengan perlahan dia membukanya, wanita itu tersenyum senang, namun satu detik kemudian raut wajahnya berubah sedih, bahkan di sudut menggenang air mata yang belum menetes.
__ADS_1
"Tante.." Angga
"Iya , tante gapapa, tante seneng kok kalau Kirana bahagia, tapi apakah setelah dia tahu, dia akan meninggalkan tante?" Jani
"Jangan bicara seperti itu, aku juga sebagai anak angkat merasakan hal yang sama, aku berat jika harus meninggalkan keluarga yang telah merawatku, butuh waktu tante, aku juga belum siap, biarlah Kirana bersama tante dulu..!" Angga
"Tapi, kamu mau merahasiakan ini dulu atau jujur dari sekarang?" Jani
"Aku gapapa Kirana tahu, tapi bilang padanya untuk merahasiakan ini dari Gita..!" Angga
"Oke deh, tante janji, tante pulang dulu ya?" Jani
"Udah gak penasaran dan langsung pulang, hehe..," goda Angga.
Jani hanya tersenyum kecil mengakui apa yang dikatakan Angga, dia berpamitan pada Hanna, lalu pulang karena ingin memberitahu kabar baik ini pada Kirana.
***
Kirana yang masih di kampus, tiba-tiba mendapat telepon dari ibunya itu, menanyakan jam berapa dia pulang.
"Nanti sore mah, ini kan baru jam 09.00, Kirana juga baru aja nyampe ko udah nanyain pulang?" Kirana
"Oh, mamah punya kabar gembira, makanya pengen kamu cepat pulang." Jani
"Kabar apa mah? Aku kepo nih, hehe.." Kirana
"Yah mamah, kenapa malah bikin aku penasaran, seharusnya nanti aja dirumah mamah kasih tau gak usah nelpon dulu terus bikin aku kepo," keluh Kirana.
"Hehe… sengaja, ya udah kamu cepet pulang ya..!" Jani
"Hmm.. iya, aku juga udah mau mulai nih mata kuliahnya, Assalamualaikum." Kirana
"Iya, wa'alaikumsalam." Jani
Biarin aja, biar Kirana merasakan rasa penasaran yang semalam aku rasakan, hehe.. Pikir Jani
Sementara Kirana yang berada di kampus itu, fokus dengan mata kuliahnya, dia tidak mau menyia-nyiakan biaya yang dikeluarkan oleh ibunya itu, dia juga serius dengan cita-citanya.
Kirana begitu menikmati masa-masa kuliahnya lagi, setelah beberapa minggu libur karena kasus dulu itu, kasus kabur dan disekap ayahnya sendiri.
Mamah mau kasih info apa ya? Tapi nanti juga tahu kalau udah di rumah, aku gak usah mikirin itu terus..!, yang penting 'kan itu kabar gembira. Pikir Kirana
***
Siang itu Dafa datang menjenguk Angga setelah pulang sekolah, dia membawa penyemangat untuk Angga.
"Kamu bawa apa?" Tanya Angga.
__ADS_1
"Ini robot kesayangan aku, aku kasih buat kak Angga biar kakak cepat sembuh." Dafa
"Wah, makasih…" Angga
Lelaki itu mengambil robot mainan Dafa, meski pria itu sudah tumbuh dewasa dan sudah tidak tertarik dengan mainan anak kecil, tapi dia ingin menghargai pemberian bocah laki-laki itu, benar-benar menerimanya agar bisa membuat Dafa senang.
Pak Andra yang penasaran, kini dia memberanikan diri bertanya pada Angga.
"Maaf nak Angga, bapak mau bertanya tentang Kirana, nak Angga sudah mengenalnya dengan baik?" Pak Andra
"Saya juga baru kenal juga sekitar sebulan, tapi saya tahu jika dia memang anak yang baik." Angga
"Oh, ibunya itu yang kemarin ada di rumah sakit?" Pak Andra
"Iya.." Angga
"Tapi kok gak mirip ya, hehe.. ini cuma pendapat saya." Pak Andra
"Sebenarnya, bagaimana ya cara menjelaskannya, memangnya kenapa bapak penasaran begitu?" Angga
"Ah, saya hanya bertanya saja." Pak Andra
"Oh, kirain ada sesuatu hal yang perlu dicari tahu dan saya akan berusaha membantu, jika itu hal baik, tidak membahayakan Kirana." Angga
"Hahaha.. tidak, tidak ada kok." Pak Andra
Pak Andra bingung harus memulai ceritanya dari mana, kalau dia ingin mencari tahu tentang Kirana tentu saja dia harus menceritakan semuanya pada Angga agar lelaki itu mau memberikan informasi padanya.
Namun ini bukanlah saat yang tepat menurut Andra. Apalagi dia juga baru mengenal mereka semua.
Saat Dafa bermain game bersama Angga, Bu Hanan kini yang merasa penasaran dia bertanya sedikit demi sedikit, dia tidak mau membuat Andra curiga, atau pun salah paham.
"Oh, jadi bapak baru pindah ke kota ini bersama Dafa setelah ibunya Dafa meninggal?" Hanna
"Iya, saya ingin memulai lembaran baru dan tidak selalu bersedih memikirkan almarhumah istri saya." Andra
"Yang sabar ya Pak, pasti Dafa juga lama-lama mengerti keadaan bapak dan tidak selalu meminta hal yang sulit, hehe.." Hana
"Hehe.. iya, terkadang saya bingung dulu dia minta ibunya kembali dan terakhir kali dia minta adik yang lucu bahkan kakak yang tampan, mana bisa saya mengabulkannya," keluh Andra sambil tersenyum
"Bisa Pak, kan bisa nikah lagi bisa ngasih adik baru. Hehe..," goda Hanna
"Saya masih memikirkannya, masih fokus dulu pada Dafa dan tidak mau merasakan kehilangan terus, sebenarnya kalau ada Dafa juga punya kakak laki-laki." Andra
"Kenapa bisa gak ada pak?" Hanna
Bersambung…
__ADS_1