
Ternyata Kirana memilih membacanya saja, awalnya dia biasa saja, namun saat melihat tertera namanya dan Angga, dia mulai mengerutkan dahinya.
Rumah sakit? Aku dan kak Angga? Pikir Kirana
Dengan perlahan namun pasti Kirana membaca setiap kata yang ada di kertas putih itu.
Deg
Apa maksudnya? Pikir Kirana
Wanita itu harus memastikan isi surat ini, dia berlari menuju kamar ibunya, mengetuk pintu itu dengan keras, membangunkan Jani yang baru saja menikmati tidurnya.
Astaga, ada apa ini? Pikir Jani
Jani ikut panik saat Kirana memanggil namanya begitu keras bahkan pintunya pun diketuk dengan keras, jika saja pintu kamar itu tidak dikunci, pasti Kirana akan langsung masuk.
"Ada apa Kirana?" Jani
"Ini, apa maksud surat ini mah?" Kirana
"Kamu menemukan suratnya dimana? Bukankah tadi sudah dicari tapi tidak ketemu." Jani
"Mah, bukan saatnya membahas itu, aku mau penjelasan atas surat ini..!" Kirana
"Ya udah kamu duduk dulu, biar mamah ceritain." Jani
Kirana duduk dengan patuh, wanita itu mulai menceritakan dari awal saat kecurigaan Angga yang melihat wajah Kirana mirip dengan ibunya, dan saat melihat foto pernikahan Alisa dan Aldi.
Kirana mendengarkan dengan fokus, bahkan dia tidak menyela pembicaraan Jani sedikitpun.
Apakah benar, apakah aku harus percaya? Tapi ini sudah ada buktinya. Pikir Kirana
"Jika ibuku itu ibunya kak Angga, lalu bu Hanna?" Kirana
"Itu dia masalahnya, bu Hanna tahu masalah ini, tapi Angga belum siap jika Anggita tahu kalau dia bukan kakak kandungnya, Angga takut Gita menjadi canggung bahkan menjauh darinya." Jani
"Jadi, Angga itu anak angkat Mas Baskoro dan Mbak Hanna, Gita lah anak satu-satunya mereka, kamu harus merahasiakan ini dari Gita..!" Jani
"Oh, jadi kak Gita gak boleh tahu, sampai kapan?" Jani
"Entahlah, coba kamu nanti tanyakan saja pada kakakmu itu, mamah mau melanjutkan tidur yang sempat terganggu, sudah tidak ada yang ditanyakan lagi 'kan?" Jani
"Udah sih mah," ucap Kirana yang masih sedikit ragu, dia masih ingin menanyakan banyak hal karena belum percaya, namun dia tidak enak hati telah mengganggu waktu tidur ibunya itu.
Lebih baik aku tanyakan langsung pada kak angga saja. Pikir Kirana
Kirana pergi dari kamar Jani dengan langkah lelan sambil menatap kertas itu, baginya itu serasa mimpi, mimpi indah karena ternyata memiliki saudara, namun masih belum mengerti kenapa bisa seperti itu.
Dia memilih kembali ke kamar, ingin menghubungi Angga , namun ini sudah malam, dia berencana pergi menjenguk Angga besok pagi sebelum kuliah, karena besok dia kuliah siang hari.
__ADS_1
***
Pagi yang cerah datang, begitu juga dengan suasana hati Angga, dia sudah merasa baikkan dan kemarin dia seperti seorang raja yang dilayani 2 pelayan spesial (Reza dan Gita).
Berbanding terbalik dengan Angga, ekspresi Gita sangatlah tidak bagus, dia kesal sekesal kesalnya pada kakaknya itu.
"Angga, kamu mau cuti lagi?" Bu Hanna.
"Iya mah, masih belum benar-benar enakkan badannya." Angga
"Ah kakak alasan aja, semalam aja udah sembuh kok." Gita
"Hmm.. kalau kamu mau libur kuliah, ya libur aja dong dek, jangan iri begitu." Angga
"Siapa yang iri? Gak tuh." Gita
Gadis itu sarapan dengan cepat lalu berpamitan pada ibu dan ayahnya, melewati Angga yang ada disana.
"Gak salim sama kakak?" Angga
"Gak, assalamu'alaikum.." Gita
"Waalaikumsalam.." Angga dan Hanna
"Kamu jangan keterlaluan kalau mengerjai adikmu itu, kasian dia sampe kesal begitu..!" Hanna
"Biarin aja mah, aku suka liat dia cemberut begitu, hehehe.." Angga
"Iya mah." Angga
Angga diam dikamarnya, rasanya sepi sekali setelah Gita pergi, bahkan ibunya juga pergi, dia berusaha menyibukan dirinya dengan menonton dan main game.
Ternyata lebih baik pergi bekerja daripada sendirian dan tidak ada yang bisa aku kerjain. Pikir Angga
Tiba-tiba ada tamu datang, Bi Minul memberitahu jika tamunya perempuan dan menunggu di ruang tamu.
"Siapa bi?" Angga
"Bibi lupa menanyakan namanya, dia perempuan, cantik loh Den, pacar Den Angga mungkin." Bi Minul
"Ish, harusnya tanya dulu namanya, aku gak punya pacar bi." Angga
"Sayang banget ganteng tapi jomblo, bibi aja udah punya pasangan dan punya anak," ucap Bi Minul yang berlalu pergi.
Astaga bahkan aku kalah sama pembantu, pake diperjelas lagi. Pikir Angga
Angga yang sebenarnya sudah sembuh, dia berjalan menuju ruang tamu, memeriksa siapa yang datang. Dan ternyata terlihat wajah cantik seorang perempuan, dengan wajah sedikit gelisah dan amplop di tangannya.
"Kirana…" Angga
__ADS_1
"Kak Angga, aku datang menjenguk, sebenarnya siang nanti aku kuliah, jadi aku tidak bisa lama-lama disini." Kirana
"Gapapa kok, makasih ya udah mau jengukin kakak." Angga
"Sama-sama kak, oh iya apa kakak bisa menjelaskan tentang surat ini?" Kirana
"Ehmm.. surat dari rumah sakit tentang tes DNA itu?" Angga
"Iya.." Kirana
Angga mendekat, kini dia duduk disamping Kirana, memeluknya secara tiba-tiba.
"Benar aku kakak kandungmu, aku juga sama sempat membenci ibu kita, karena dulu aku ditinggalkan di panti asuhan, tapi meski begitu dia tetap ibu kita, kita harus mencari keberadaannya hidup atau mati," ucap Angga, matanya bahkan berkaca-kaca.
"Benarkah ibu kita orang yang sama?" Kirana
"Iya, kakak yakin, aku jelas masih mengingat wajah ibuku mirip sepertimu dan sama dengan foto pernikahan ayahmu." Angga
"Apa kita memiliki ayah yang sama juga?" Kirana
"Tidak, sepertinya aku anak hasil pernikahan pertama ibuku." Angga
"Kalau begitu, kita pastikan semuanya kak, kita temui ayahku di sel, kita coba tanyakan keberadaan ibu, dan menanyakan siapa suami ibu yang pertama." Kirana
"Kamu benar Kirana." Angga
Angga merasa mempunyai harapan, dia bisa mengetahui jati dirinya, berharap keluarganya masih ada, entah itu ayahnya, neneknya, kakeknya, pamannya.
Angga sudah penasaran ingin segera bertemu dengan keluarga aslinya.
Karena memang gadis itu akan kuliah, dia berpamitan, namun Angga yang bosan dirumah dia berniat mengantar adiknya itu, dia menggunakan mobil keluarga lengkap dengan sopirnya.
"Kak Angga yakin? Bukannya masih sakit, aku takut kak Angga sakitnya tambah parah lagi, mendingan istirahat saja dirumah kak..!" Kirana
"Gapapa, ini untuk pertama kalinya, kakak mau nganterin kamu." Angga
Kirana tersenyum senang, ini juga pertama kalinya dia punya kakak bahkan diantar ke kampus oleh kakaknya.
Gadis itu mengangguk senang, Angga pun langsung merangkul gadis itu berjalan menuju mobil yang sudah siap berangkat.
"Naiklah..!" Angga membuka pintu mobil untuk Kirana
"Makasih kak." Kirana
"Kedepannya kamu tidak usah sungkan ya, kamu bahkan bisa meminta mainan pada kakak..! hehe.." Angga
"Aku bukan anak kecil lagi kak." Kirana
Mobil itu pun melaju menuju kampus, meski sedikit canggung dengan status mereka namun Angga bisa mencairkan suasana itu, membuat Kirana merasa nyaman.
__ADS_1
Bersambung...