
Sesampainya di depan rumah Jani, jantung Pak Andra berdetak tak karuan, bukan gugup karena jatuh cinta tapi dia takut jika Dafa mengulang perkataan yang tadi siang diucapkan di kantor.
Andra akan malu sekali jika sampai Dafa berbicara yang aneh-aneh, Angga yang melihat papanya seperti itu, dia jadi salah sangka.
"Papah kelihatannya gugup begitu? Santai aja Pah..! Hehehe…" Angga
"Hmm, siapa yang gugup? Nggak kok, Papah biasa aja." Pak Andra
"Hmm… " Angga
Dafa yang paling semangat, saat mereka masuk, mereka bahkan disambut langsung oleh Jani. Sepertinya keadaan Jani sudah membaik, membuat Pak Andra semakin tidak enak hati, berniat menjenguk yang sakit tapi orangnya ternyata sudah sembuh.
"Eh, ada anak ganteng, masuk, masuk..!" Jani
"Tante udah sembuh?" Dafa
"Iya, udah mendingan." Jani
"Yah, padahal aku kesini mau jengukin tante, tapi udah sehat, gimana dong?" Dafa
"Ssttt… Dafa gak boleh ngomong gitu, alhamdulillah kalau tante Jani sudah sembuh, gitu Nak..!" Pak Andra
"Hahahaha, ya gapapa Pak, namanya juga anak-anak, mari duduk, tunggu dulu disini ya, saya ambilkan beberapa makanan ringan..!." Jani
Saat Jani sudah melangkah pergi, menuju rumah bagian belakang. Angga mulai berbicara menanggapi sikap ayahnya itu.
"Hmmm, biasa aja Pah, gak usah grogi, hehe.." Angga
"Siapa yang grogi? Papah cuma gak enak aja dengan sikap Dafa." Pak Andra
__ADS_1
"Memangnya aku kenapa Pah?" Dafa
"Gapapa, hehe.." Pak Andra
Mereka menghabiskan waktu yang cukup lama disana, ya.. karena Dafa begitu betah, dia diajak bermain, diajak membaca buku-buku, dan bernyanyi juga.
Pengalaman yang baru buat Dafa, apalagi Jani sesekali menyuapinya buah-buahan, membuat Dafa merasa diperhatikan seorang wanita yang bisa disebut Ibu pengganti untuknya.
"Tante, apa aku boleh panggil Tante, Mamah?" Dafa
Deg
Jani bingung harus menjawab apa, dia memandang ke arah Angga lalu bergantian ke arah Pak Andra. Dua lelaki itu juga merasa bingung, mereka takut menyakiti perasaan Dafa namun disisi lain mereka tidak mau memberikan harapan besar kepada anak itu, yang nantinya bisa saja 'kan membuat Dafa kecewa.
Akhirnya Pak Andra berinisiatif mengajak Dafa pulang dengan alasan, tante Jani akan beristirahat biar cepat sembuh.
"Ya udah kita pulang, tante cantik cepat sembuh ya..! Nanti Dafa main kesini lagi." Dafa
Setiap kali dipuji oleh Jani, Dafa merasa senang sekali, berbeda dengan pujian papanya atau Angga, Dafa menganggapnya biasa saja.
Angga mencoba berbicara serius dengan papanya, kebetulan Dafa juga sudah tertidur di dalam mobil.
"Menurut Papah, tante Jani itu orangnya seperti apa?" Angga
"Entahlah… yang pasti dia baik dan Dafa menyukainya, tapi Papah belum kepikiran mencari Ibu buat Dafa." Pak Andra
"Emm, iya juga, tapi sebaiknya aku bantu Papah aja, aku akan cari tahu gimana penilaian tante Jani tentang ini, kalau jawabannya memuaskan, apa Papah mau bertanggung jawab?" Angga
"Tanggung jawab apa? Papah gak ngelakuin apa-apa, kok disuruh tanggung jawab?" Pak Andra
__ADS_1
"Ya tanggung jawab lah Pah, kalau tante Jani bilang mau, Papah harus mau, biar Dafa senang mendapatkan Ibu baru, namun kembali lagi ke keputusan Papah juga, aku tidak akan menanyakan apapun kepada tante Jani sebelum Papah bilang setuju." Angga
Pak Andra hanya mendengarkan saja, dia tidak mau menjawab pertanyaan Angga, dia merasa belum siap saja.
Angga mengantar Ayah dan adiknya sampai ke rumah lalu pergi menuju kediaman Baskoro.
Sesampainya disana, rumah terasa ramai, ya… ditambah bayi, tante Maya dan juga Reza.
Gita yang bahkan pulang dengan terburu-buru demi menemui bayi mungil yang ada di rumahnya, dia merindukan wangi khas bayi tersebut.
Reza datang untuk menjemput ibunya yang sedari siang merawat Nadira, menggantikan Gita.
"Manisnya … , berharap cucu Mamah nanti semanis ini." Maya
"Bagaimana kalau laki-laki Mah?" Reza
"Mamah harap perempuan." Maya
"Kembar saja, perempuan dan laki-laki, ide bagus 'kan? Hehe.." Angga
"Memangnya Kakak pikir melahirkan itu mudah? Satu aja melelahkan dan perlu perjuangan." Gita
"Hmm.. kamu kaya yang berpengalaman aja Git?" Angga
Gita tak mampu menjawab pertanyaan kakaknya itu, ingin sekali bibirnya berucap jika dia pernah melahirkan, menyusui, bahkan merawat bayi yang dikeluarkan dengan susah payah, namun mereka tidak akan mempercayainya.
"Kamu lebih mahir mengurus bayi daripada mengurus perusahaan Git." Baskoro
"Hehe, ini menyenangkan Pah." Gita
__ADS_1
Bersambung….